“Di dunia ini tidak ada anak yang nakal. Yang ada hanyalah anak yang bertarung dengan emosi dan dorongan dalam diri mereka kemudian berusaha mengkomunikasikan perasaan dan kebutuhan mereka dengan cara yang mereka tahu.”

– Janet Lansbury

Mungkin Anda sering kali mendapati anak Anda yang masih berusia dini atau yang duduk di bangku sekolah dasar menjadi seorang yang “ringan tangan”. “Ringan tangan” yang dimaksud bukan bermurah hati membantu orang lain, akan tetapi mudah sekali menggunakan tangannya untuk memukul orang lain misalnya jika ada keinginannya yang tidak terpenuhi. Apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi ini? Kembali memukul anak sebagai bentuk hukuman atas perbuatan anak tadi tentu bukanlah pilihan yang bijak. Kenali lagi sebab anak berperilaku, lalu bantu ia menyalurkan emosinya dengan cara yang benar.

Ada beberapa alasan mengapa anak menjadi sosok yang sering memukul orang di sekitarnya, atau mungkin termasuk Anda, orang tuanya. Jangan terburu-buru memarahi anak. Pahami dulu mengapa ia berperilaku demikian. Berikut ada beberapa hal yang mungkin menjadi alasan anak untuk memukul:

  1. Anak biasanya memukul untuk mengekspresikan emosi mereka.

Emosi itu bisa berupa kemarahan, kekesalan, kekecewaan, frustrasi atau kesedihan. Jika anak bisa memahami emosi ini dan menyalurkannya dengan kata-kata mungkin anak akan lebih memilih cara ini. Namun keterbatasan kosa kata anak karena ia yang masih dalam masa perkembangan bisa jadi menyulitkan anak.

  1. Anak bisa memukul jika ia merasa tempat pribadinya terganggu.

Hal ini bisa terjadi jika misalnya orang tua membatasi tempat bermain anak atau anak bermain dengan teman sebayanya dan merasa ruang mobilitasnya berkurang. Orang dewasa akan dengan mudah untuk berpindah atau “mengusir” orang yang dirasa mengganggunya, namun anak kecil akan kesulitan untuk mengungkapkan perasaan ini.

  1. Anak juga akan memukul jika ia merasa iri.

Ini biasa terjadi jika anak memiliki saudara kandung dengan usia yang tidak terpaut jauh. Anak yang merasa sendirian atau terabaikan bisa jadi mendorong ia untuk memukul.

  1. Anak juga bisa memukul karena ia ingin punya kedudukan di antara teman bermainnya.

  2. Kekesalan anak juga bisa mendorong ia untuk memukul.

Harus diperhatikan anak juga bisa merasa kesal jika orang tuanya terlalu banyak menggunakan kata-kata sebagai instruksi untuk mengarahkan perilaku anak.

  1. Anak adalah sosok yang paling sensitif untuk merasakan hal hal yang terjadi di sekitarnya, termasuk di dalam keluarga.

Jika ia merasakan ada yang salah dalam keharmonisan keluarga di dalam rumah, biasanya anak akan mengulah dan mungkin muncul dalam bentuk perilaku memukul.

Setelah mengetahui penyebab perilaku anak, tentukan Anda harus bersikap seperti apa. Anak yang sudah terlanjur memukul biasanya sudah terlalu marah atau frustrasi untuk berhadapan dengan Anda. Tenangkan dulu diri anak, lalu bahas lagi mengenai perilaku memukul ini setelah anak merasa lebih santai.

Terkadang orang tua bisa jadi salah paham. Ketika anak sudah memukul orang lain, orang tua bisa terlibat dalam emosi yang sama tingkat agresifnya dengan anak. Anak masih belum memiliki kemampuan otak yang cukup untuk memproses emosi yang ia rasakan. Disini orang tua harus berperan menjadi “otak” anak untuk membantunya memproses emosi itu. Untuk dapat membantu anak, orang tua tentunya harus bisa menjadi orang yang lebih tenang secara emosional daripada anak. Selain membantu diri sendiri, orang tua yang lebih tenang dan lebih mampu mengatur emosi akan berdampak lebih positif pada kemampuan anak untuk mengatur emosinya.

Banyak hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu memulihkan ketenangan emosi anak dan membantu anak untuk memahami emosinya sendiri. Beberapa misalnya:

  1. Anda bisa memberi pemahaman pada anak bahwa ia tidak bisa memiliki semua hal yang ingin ia miliki.

Namun demikian, tetap tunjukkan empati pada anak. Berikan pemahaman bahwa Anda mengerti bagaimana rasanya tidak bisa memiliki apa yang ingin dimiliki. Berikan pula pemahaman mengapa anak tidak bisa memiliki apa yang diinginkannya. Misalnya berikan penjelasan mengapa Anda tidak membelikannya mainan baru. Dengan demikian anak akan lebih memahami apa yang bisa dan tidak bisa ia miliki di masa depan. Apabila anak sudah memahami konsep ini, maka ia tidak punya alasan lagi untuk memukul jika tidak mendapatkan hal yang ia inginkan.

  1. Berikan pemahaman pada anak bahwa memukul bukanlah jalan keluar yang baik.

Berikan alternatif lain pada anak jika anak merasa ia memiliki keinginan untuk memukul, misalnya dengan menyilangkan tangannya di depan dada atau memasukkan tangannya ke dalam kantong celana.

  1. Jadilah penolong yang baik untuk anak.

Katakan pada anak jika ia mungkin merasa cukup marah atau kesal sehingga ingin memukul, minta anak untuk mencari Anda. Ketika anak datang pada Anda dalam keadaan demikian, minta anak untuk perlahan menceritakan apa yang membuatnya marah. Berikan pengertian pada anak bahwa Anda memahami mengapa hal yang terjadi pada anak bisa membuatnya menjadi marah. Setelah itu berikan alternatif pada anak untuk menghadapi perasaan marahnya.

  1. Menjaga anak untuk terus berpikiran bahwa orang tuanya memahami dirinya dan semua emosi yang ia rasakan bisa membantu anak untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang baik.

Hal ini sebaiknya menjadi perhatian. Perilaku agresi remaja yang sering terjadi saat ini memiliki kecenderungan terjadi karena orang tua yang menolak menyelami emosi anak-anaknya di saat anak kehilangan arah dan butuh panduan.

Tidak ada yang mengatakan bahwa menjadi orang tua adalah perihal mudah. Terutama ketika Anda mendapati anak Anda berperilaku yang tidak semestinya. Sebagai orang tua, jangan terlalu cepat memberi label pada anak sebagai anak yang agresif atau anak yang memiliki gangguan perilaku. Anak yang masih berusia dini dan di usia sekolah dasar masih dalam tahap belajar berinteraksi sosial. Perilaku memukul pada anak hanya sebagai tanda bahwa orang tua harus lebih terlibat dalam interaksi sosial anak dan memberikan dukungan penuh. Memahami emosi anak juga bisa menjadi titik awal yang baik. Anak yang nyaman secara emosional akan lebih mudah untuk mengontrol emosinya, tidak hanya saat ini, tapi hingga nanti ia menginjak usia dewasa.


Sumber Data Tulisan

Sumber tulisan disadur dari buku yang berjudul Bloom: 50 Things to Say, Think and Do with Anxious, Angry and Over-the-Top Kids. Buku yang terbit di tahun 2015 ini disusun oleh Lynne Kenney, PsyD dan Wendy Young, LMSW, BCD. Keduanya adalah psikolog anak di Amerika yang memfokuskan penelitian mereka di bidang perilaku anak dan parenting.

By: Ayunda Zikrina

Featured Image Credit: www.parentglobe.com

Total
290
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: