Periode Prenatal : Awal Sebuah Kehidupan

“Tiada sekolah sebaik rumah. Tiada guru sebaik Ibu dan Ayah.”

Pernahkah Anda medengar istilah prenatal? Periode prenatal adalah periode perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi hingga kelahiran. Kurang lebih, periode prenatal berlangsung selama 9 bulan kalender atau 280 hari sebelum lahir. Dengan kata lain, periode prenatal adalah periode ketika sel telur wanita dibuahi oleh sperma laki-laki sampai dengan waktu kelahiran individu. Periode prenatal ini bukan saja merupakan periode khusus dalam rentang kehidupan manusia, tetapi juga merupakan masa yang sangat menentukan.1 Mengapa demikian? Periode prenatal  mempengaruhi kualitas ibu dan bayi yang lahir secara fisik dan psikologis. Tentunya, janin yang berada di dalam kandungan tidak hanya mengalami perkembangan fisik melainkan juga mengalami perkembangan psikologis.2

Periode prenatal adalah masa yang sangat riskan. Tidak hanya itu, kondisi lingkungan dan sikap orang-orang disekitar seorang ibu yang sedang hamil sangat mempengaruhi perkembangan kondisi janin yang dikandung. Ibu yang sehat secara fisik dan psikologis akan melahirkan bayi yang sehat secara fisik dan psikologis pula. Terdapat beberapa hal yang akan mempengaruhi perkembangan individu baru di masa mendatang. Menurut Elizabeth B. Hurlock 3, pada periode prenatal terjadi momen penurunan sifat-sifat atau penentuan sifat bawaan sebagai dasar bagi perkembangan selanjutnya. Mungkin Anda sudah sering mendengar istilah buah yang jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya. Seorang anak akan tumbuh dan berkembang menyerupai Ayah atau Ibunya baik dari segi bentuk fisik maupun perilaku. Orang tua memberikan separuh dari kromosom mereka untuk setiap anak-anaknya.

Selama ini, banyak mitos yang beredar di tengah masyarakat umum bahwa jenis kelamin sang janin dapat dibentuk dari kebiasaan yang dilakukan sang Ibu saat hamil. Misalnya, Ibu yang merasa malas saat hamil pertanda anaknya seorang perempuan. Namun secara ilmiah, jenis sperma yang menyatu dengan sel telurlah yang akan menentukan jenis kelamin bayi. Kondisi Ibu selama hamil sama sekali tidak menenentukan jenis kelamin sang janin. Pada periode prenatal, ayah dan ibu sudah bisa mengetahui jenis kelamin sang janin. Selain itu, terkait dengan jumlah anak, juga dapat diketahui dari sel janin (yang tunggal atau kembar).

Hubungan yang “mesra” antara ibu dan janin serta perasaan kasih sayang yang diberikan akan memudahkan sang Ibu menanamkan hal positif kepada anaknya kelak. Perasaan kasih sayang yang diberikan kepada janin juga akan mempengaruhi perkembangan jiwa anaknya di kemudian hari.4 Kondisi Ibu yang sedang hamil dan kondisi janin sangat krusial. Hendaknya ibu yang sedang hamil tidak hanya mempersiapkan segala sesuatunya dari segi finansial atau materi. Ketika Ibu sedang hamil kondisi fisik dan jiwanya justru menjadi poin penting bagi lingkungan dan orang sekitarnya.


Sumber Data Tulisan

[1] http://kompasiana.com/faizah02/pentingnya-perhatian-terhadap-masa-prenatal

[2] http://kompasiana.com/fatimatulkhasanah.com/pentingnya-perkembangan-masa-prenatal_54f89f5fa3331123098b479b

[3] Selengkapnya dapat dibaca pada buku Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Manusia karya Elizabeth B. Hurlock.

[4] Selengkapnya dapat dibaca pada buku Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan yang ditulis oleh Anik Pamilu.

By: Dzikria Afifah Primala Wijaya

Featured Image Credit: solusisehatku.com

%d bloggers like this: