Kesehatan fisik dimulai dari kesehatan psikis

 –Robert Urich

Sudahkah Anda menyadari bahwa kesehatan psikis memegang peran penting dalam kehidupan? Kesehatan memang merupakan hal utama bagi manusia, baik sehat secara fisik maupun psikis atau mental. Jika kita tidak sehat, tentu akan memengaruhi aktivitas yang sedang dan akan dilakukan. Akibatnya produktivitas kita pun menurun. Bulan lalu, Pijar Psikologi telah membahas kesehatan mental dari sudut pandang Gordon Allport. Kali ini, kami akan membahas sehat mental dari sudut pandang yang lain.

Ada beberapa teori yang menjelaskan perilaku kesehatan seseorang. Salah satunya adalah Health Beliefs Model (HBM). Apakah HBM itu? Sebagian dari kita mungkin masih asing atau bahkan belum pernah mendengar HBM. Namun ternyata, teori HBM yang telah ditemukan oleh psikolog US Public Health Service  ini sangat penting bagi kesehatan1. Awalnya teori ini dirancang karena orang-orang justru jarang melakukan pencegahan penyakit atau melakukan tes screening untuk mendeteksi penyakit lebih dini2. Dalam HBM ada tiga faktor utama. Pertama persepsi seseorang akan kesehatannya sehingga ia mampu mengubah perilakunya sehari-hari. Kedua, adanya dorongan dari lingkungan mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Terakhir adalah karakteristik dan penilaian seseorang terhadap perubahan pola hidupnya3. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa HBM merupakan persepsi individu terhadap ancaman masalah kesehatan, manfaat menghindari ancaman, dan faktor yang memengaruhi keputusan untuk bertindak4.

Aplikasi HBM di kehidupan sehari-hari bisa diterapkan pada perilaku perokok. Saat seorang perokok memutuskan untuk berhenti, terlebih dahulu mereka harus siap untuk mengubah perilaku mereka. Kesiapan itu pun terjadi karena adanya persepsi bahwa merokok itu dapat mengancam kesehatannya. Mereka juga memikirkan risiko apa yang harus ditanggung jika orang itu terus merokok. Selain itu, mereka juga mempertimbangkan manfaat yang didapat jika berhenti merokok. Lingkungan pun harus mendukung orang itu untuk sepenuhnya berhenti merokok. Jadi, seseorang  akan bisa berhenti merokok jika ada kemauan yang kuat dalam dirinya dan dukungan lingkungan.

Teori kedua yang dapat menjelaskan perilaku kesehatan, yaitu Social Cognitive Theory (SCT). SCT menggambarkan proses dinamis antara individu, lingkungan, dan perilaku manusianya saling memengaruhi5. Hubungan ini juga sering disebut sebagai reciprocal determinism. Ada tiga faktor utama yang memengaruhi perubahan perilaku kesehatan seseorang, salah satunya yaitu self-efficacy atau efikasi diri. Efikasi diri  merupakan rasa percaya diri seseorang akan kemampuannya dalam mengambil tindakan6. SCT menggabungkan konsep dan proses dari aspek kognitif (pikiran), perilaku, dan emosi dalam mengubah perilaku. Bandura (penemu teori ini)  beranggapan bahwa efikasi diri merupakan faktor yang paling penting untuk mengubah perilaku seseorang7.

Dalam kehidupan sehari-hari, efikasi diri bisa terlihat ketika seseorang dihadapkan pada suatu penyakit. Keyakinan diri seseorang anak timbul ketika berhasil menjalani pengobatan dengan baik. Ia juga akan berangsur sehat saat melihat orang dengan penyakit yang sama mampu sembuh dan melawan penyakitnya. Sebaliknya, keyakinan diri akan berkurang ketika penyakitnya semakin parah. Pemberian motivasi atau dukungan pada seseorang yang sedang menghadapi penyakit akan meningkatkan efikasi diri orang itu untuk segera sembuh. Sebaliknya, jika tidak mendapat dukungan mungkin seseorang akan menyerah dengan penyakitnya..

Pada HBM, lebih menekankan pada kerentanan terhadap pencegahan, sementara SCT, khususnya self-efficacy lebih berfokus pada keyakinan seseorang. Namun, kedua teori tersebut memiliki benang merah yang sama bahwa persepsi dan keyakinan individu dapat mengubah perilaku kesehatannya. Nah, yuk, mulai dari sekarang kita ubah persepsi dan keyakinan kita ke arah yang lebih positif kalau ingin hidup sehat.


Sumber Data Tulisan

1Hochbaum, G.M. 1958. Health Beliefs Model .

2 Janz, Nancy K & Becker, Marshall H. 1984. The Health Belief Model: A Decade Later. Health Education Quarterly. 1-47

3Harahap, UH. 2010. Gambaran Perilaku Masyarakat Dalam Penanggulangan Malaria Di Kelurahan Penyabungan II Kecamatan Penyabungan Kota Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2010. Skripsi. Universitas Sumatera Utara

4 U.S. Department of Health and Human Services National Institutes of Health. 2005. Theory at a Glance: A Guide for Health Promotion Practice.

5 Orji, R., Vassileva, J., Mandryk, R. 2012. Towards an Effective Health Interventions Design: An Extension of the Health Belief Model. Online Journal of Public Health Informatics. 4.

6Glanz, Karen, dkk. 2008.  Health Behavior and Health Education: Theory, Research, and Practice. San Fransisco: Jossey-Bass.

7 Permatasari, Leya Indah, dkk. 2014. Hubungan Dukungan Keluarga dan Self Efficacy dengan Perawatan Diri Lansia Hipertensi. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia, 10.

By: Apriastiana Dian Fikroti

Featured Image Credit: www.journeyofadreamer.com

Total
45
Shares
%d bloggers like this: