“Musik adalah terapi. Musik menggerakkan orang. Menghubungkan orang dengan cara yang tidak dimiliki media lain. Menarik hati. Bertindak sebagai obat” – Macklemore

Ketika mendengarkan musik Anda pasti pernah terbawa suasana dan irama musik yang Anda dengarkan, bukan? Salah satunya dengan cara mengerakkan anggota tubuh Anda sebagai bentuk menikmati musik. Entah mengetukkan jari, menghentakan kaki, hingga menggoyangkan seluruh anggota gerak tubuh Anda seperti menari misalnya. Cara ini merupakan usaha di mana tubuh menyeimbangkan irama musik

Dalam konsep berpikir, musik hanya diketahui sebagai wujud dari suatu keinginan pribadi. Dari segi konsep perilaku, musik diaplikasikan dengan gerakan tubuh dan tarian. Secara terstruktur, musik yang terkait dengan alur musik seringkali ditandai dengan improvisasi irama yakni sinkopasi. Sinkopasi merupakan suatu teknik permainan yang menggantikan ketukan atau aksen dalam musik atau ritme sehingga ketukan yang kuat menjadi lemah yang ditandai dengan jeda ketukan pada pukulan drum. Irama musik ini dapat ditemui dalam jenis musik funk. Selain itu jenis musik soul, hip-hop dan musik dansa elektronik juga memiliki sinkopasi. Sebagai contoh, lagu Bruno Mars, 24K Magic memiliki irama lagu seperti ini.

Oleh karena itu Witek dan Clarke yang berasal dari fakultas musik, University of Oxford serta Wallentin, Kringelbach, dan Vuust yang berasal dari Pusat Fungsional Integratif Ilmu Saraf yang ingin tahu mengenai hubungan antara sinkopasi dalam irama musik dan perasaan ingin pindah gerakan dan kesenangan terhadap musik yang didengarkan. Jika selama ini orang-orang selalu mengikuti irama dengan ketukan yang teratur, maka bagaimana jika harus mengikuti irama dengan ketukan musik yang tidak dapat ditebak? Tentu saja menyebabkan gerakan tidak teratur karena badan berusaha untuk mengikuti ketukan selanjutnya. Namun dari gerakan tersebut justru menciptakan kesenangan tersendiri. Hal ini juga didukung dengan pendapat Keller dan Schubert dalam penemuannya yang menunjukkan bahwa irama musik yang tidak dapat ditebak lebih membuat orang yang mendengarnya merasa senang jika dibandingkan dengan ritme yang mudah diprediksi. Mengapa? Karena irama yang kompleks juga akan mempengaruhi bagaimana orang tersebut dalam menggerakan badan.

Dalam penelitian Witek dan rekannya, peserta diminta memberikan penilaian mengenai pengalamannya lewat survey berbasis web. Dalam survey tersebut juga melibatkan serangkaian dari rangkaian drum buatan yang bervariasi dalam tingkat sinkopasi. Peserta dinilai sejauh mana jeda drum membuat mereka ingin bergerak dan seberapa banyak kesenangan yang mereka alami. Peserta terdiri dari 66 peserta dari berbagai negara seperti Eropa, Oceania, Afrika, Amerika dan Asia yang direkrut untuk mengisi survei secara sukarela. Peserta juga dibagi dalam dua kategori yaitu musisi dan bukan musisi.

Dalam hasil survei tersebut, Witek dan rekannya menemukan hubungan antara sinkopasi dalam jeda drum pada tingkat gerakan dan kesenangannya. Ternyata sinkopasi dengan tingkat sedang dapat menimbulkan keinginan paling banyak bagi peserta untuk bergerak dan juga mendapatkan lebih banyak kesenangan dalam mengikuti irama musik. Jika tingkat sinkopasi semakin ditingkatkan maka menyebabkan menurunnya keinginan orang tersebut untuk bergerak.

Dari hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tingkat keinginan untuk menggerakan tubuh dan perasaan senang saling berhubungan dengan kuat. Tingkat sinkopasi yang berbeda menimbulkan keinginan untuk bergerak dan perasaan senang secara berbeda. Sementara jeda drum dengan terlalu banyak sinkopasi dapat menghambat keinginan untuk bergerak, hanya saja keinginan untuk senang mungkin masih tetap ada. Jadi ketukan drum dengan tingkat sinkopasi menengah dipilih sebagai irama musik yang lebih tepat . Hal ini disebabkan mereka dapat memperoleh keinginan untuk bergerak dan merasakan kesenangan secara seimbang.

Satu-satunya kategori latar belakang musik yang mempengaruhi peringkat secara signifikan adalah sejauh mana peserta dapat menari ketika mendengarkan musik. Peserta yang mempunyai pengalaman lebih sering dalam menggerakan tubuh ketika mendengarkan musik akan lebih mudah untuk mendapatkan kesenangan. Hal ini berbanding dengan yang hanya mendengarkan musik tanpa disertai dengan gerakan. Orang yang lebih ahli dalam bidang musik terbukti lebih mudah dalam menyeimbangkan sensorimotorik mereka saat mengikuti irama sinkopasi. Dari segi budaya secara umum semua peserta lebih menyukai irama sinkopasi tingkat sedang yang mana mereka akan benar-benar menikmati setiap gerakan yang mereka lakukan.

Jadi bagi Anda yang suka mendengarkan musik, apakah Anda suka dengan musik berirama seperti ini?


Referensi:
Disadur dari penelitian Witek MAG, Clarke EF, Wallentin M, Kringelbach ML, Vuust P. (2015). Syncopation, Body-Movement and Pleasure in Groove Music. Journal Plos One Tenth Anniversary

Sumber Gambar:
http://fablefeed.com

Total
3
Shares
%d bloggers like this: