Psikolog Sama dengan Psikiater?

“Ya, aku mempelajari Psikologi. Tidak, itu bukan berarti aku dapat membaca pikiranmu.”-Anonim

Apa yang Anda pikirkan tentang mahasiswa atau lulusan psikologi dan profesi psikolog? Orang yang dapat membaca pikiran dan kepribadian Anda? Profesi yang ‘hanya’ menangani orang dengan gangguan psikologis? Banyak sekali label yang diberikan kepada mahasiswa atau lulusan psikologi. Bahkan seringkali kita tertukar antara psikolog dengan psikiater. Apakah keduanya sama? Ataukah hanya mitos belaka?

  1. Mahasiswa atau Lulusan Psikologi Dapat Membaca Pikiran dan Kepribadian
    Mitos. ‘Mempelajari’ manusia seringkali membuat mahasiswa atau lulusan psikologi dicap dapat membaca pikiran dan kepribadian orang lain. Terlebih, secara definisi psikologi memang merupakan ilmu yang mempelajari perilaku dan pikiran seseorang1. Walau begitu, tidak serta merta membuat mahasiswa atau lulusan psikologi dapat membaca pikiran dan kepribadian hanya karena ‘mempelajari’ manusia. Padahal untuk mengungkap kepribadian seseorang memerlukan beberapa alat tes psikologi atau metode konseling tertentu.
  2. Psikolog = Psikiater?
    Mitos. Psikolog dan psikiater merupakan dua profesi yang berbeda, terutama dari segi latar belakang pendidikan. Psikolog merupakan lulusan pendidikan profesi psikologi yang ketika pendidikan strata satunya mengambil jurusan psikologi juga2. Sementara psikiater merupakan profesi yang berasal dari salah satu spesialisasi di kedokteran yang berfokus pada kesehatan mental. Perbedaan lainnya antara psikolog dengan psikiater adalah psikiater dapat memberikan obat sebagai salah satu bentuk terapi, sementara psikolog tidak bisa3.
  3. Psikolog Hanya untuk Menangani Orang dengan Gangguan Psikologis
    Mitos. Psikolog memang memiliki kewenangan untuk memberikan layanan psikologi seperti konseling, asesmen, intervensi, dan konsultasi2. Namun, bukan berarti orang-orang yang datang ke psikolog hanya orang dengan gangguan psikologis. Itulah mengapa banyak anggapan negatif terhadap orang yang datang ke psikolog sehingga masih banyak masyarakat yang segan untuk datang ke psikolog. Padahal Anda dapat datang ke psikolog sekadar untuk mencurahkan perasaan atau permasalahan Anda. Saat ini peran psikolog semakin meluas. Misalnya untuk mengungkap kejahatan, konsultan pernikahan bahkan perceraian, serta memotivasi pasien rumah sakit yang kehilangan semangat.
  4. Orang-orang Psikologi Dapat Menangani Masalahnya Sendiri dengan Mudah
    Bukan berarti orang-orang psikologi, baik yang masih mengambil studi psikologi atau sudah menjadi psikolog sekalipun, selalu dapat menangani masalahnya sendiri dengan mudah. Dalam psikologi memang diajarkan berbagai macam penanganan untuk menghadapi stres atau rasa cemas. Meskipun memiliki kemampuan untuk menangani masalah seperti ini, tidak membuat psikolog terbebas dari masalah. Mereka tetap manusia biasa yang rentan menghadapi masalah dalam hidup. Sama seperti dokter yang tidak bisa melakukan operasi terhadap dirinya sendiri, psikolog juga butuh orang lain untuk mendengar keluh kesahnya. Menjadi psikolog tidak membuat seseorang berubah menjadi manusia super yang kebal terhadap masalah dalam hidup.

Banyak sekali anggapan dari masyarakat mengenai orang-orang psikologi. Entah anggapan mengenai mahasiswa atau lulusannya yang dianggap dapat membaca pikiran dan kepribadian orang lain. Pun mengenai psikolognya yang seringkali dianggap hanya menangani orang dengan gangguan psikologis. Bahkan psikolog pun sering disamaartikan dengan psikiater. Walau sama-sama berfokus di bidang kesehatan mental, kedua profesi ini jelas berbeda.

Jadi, sudah benarkah yang Anda ketahui tentang psikologi selama ini?


Referensi:
1Passer, Michael W. & Smith, Ronald E. 2009. Psychology: The Science of Mind and Behavior. New York: McGraw Hill.
2Himpunan Psikologi Indonesia. 2010. Kode Etik Psikologi di Indonesia. Jakarta: Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia.
3Disadur dari American Psychiatric Association: https://www.psychiatry.org/news-room/apa-blogs/apa-blog/2016/02/psychiatrists-and-psychologists-understanding-the-differences pada tanggal 6 April 2017.

Sumber Gambar: https://www.amherst.edu/system/files/styles/fs_1220_800/private/Psychology_compressed_1920x1280.jpg?itok=FAEv8xqf&__=1458580432

Apriastiana Dian Fikroti

Introvert, penyuka warna biru, ailurophilia, penikmat kata dan kopi

%d bloggers like this: