Rasionalisasi, Mengurangi Kecemasan dengan Pembenaran?

“Rasionalisasi dapat didefinisikan sebagai menipu diri sendiri dengan penalaran.” – Karen Horney

Tidak dapat dipungkiri, sebagai manusia kita sering kali berbuat salah kepada orang lain. Baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Hal ini membuat kita merasa bersalah atas kesalahan yang telah kita perbuat.

Kita pun sering merasa cemas atas kondisi yang sedang kita alami. Namun, sering kali kita melakukan ‘pembenaran’ atas segala kesalahan dan kecemasan kita tersebut agar kita tidak lagi merasakan hal negatif tersebut. Dalam psikologi, hal itu dapat disebut sebagai rasionalisasi.

Apa Itu Mekanisme Pertahanan?

Dalam psikologi, Sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisis mengemukakan beberapa macam defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri.

Ketika seseorang merasa terancam atau cemas, tanpa sadar sering melakukan mekanisme pertahanan diri. Salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri adalah rasionalisasi. Pada dasarnya mekanisme pertahanan diri hanya mengubah persepsi seseorang terhadap suatu masalah.

Hal ini tidak serta merta mengubah kondisi yang bahaya atau mengancam menjadi lebih baik. Mekanisme pertahanan diri memiliki karakteristik penting yaitu suatu bentuk penolakan atau gangguan terhadap realitas serta berlangsung tanpa disadari.

Rasionalisasi, Salah Satu Bentuk Mekanisme Pertahanan

Salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri adalah rasionalisasi. Suatu mekanisme pertahanan diri ketika seseorang melakukan pemahaman kembali mengenai pemikiran yang mengancam bahwa ada alasan rasional dari tindakan yang kita lakukan.

Rasionalisasi menjelaskan alasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk membenarkan perilaku yang tidak dapat diterima. Menurut teori Cressey, rasionalisasi merupakan tindakan mencari pembenaran sebelum melakukan tindakan kecurangan untuk melakukan kejahatan.

Selain itu, secara awam rasionalisasi dipahami sebagai pencarian suatu alasan yang dianggap masuk akal sebagai landasan berlangsungnya perilaku tertentu.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari, kita sering melakukan rasionalisasi. Contohnya ketika seorang ibu yang tidak dapat memberikan ASI eksklusif kepada anaknya karena sibuk bekerja. Sang ibu menoleransi tindakannya sendiri untuk tidak memberikan ASI dengan alasan bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anaknya.

Pun saat seorang siswa mendapat nilai buruk dalam ujiannya, untuk mengurangi rasa bersalahnya, dia justru menyalahkan sang guru yang mungkin membencinya. Walau sebenarnya dia tahu kalau dia mendapat nilai buruk karena tidak belajar.

Seringkali rasionalisasi disamaartikan mengatasi diri dengan membingkai ulang sikap pasrah negatif menjadi positif agar berfokus pada aspek positif dari situasi yang menentang. Padahal rasionalisasi merupakan mekanisme pertahanan diri yang digunakan seseorang untuk membuat berbagai alasan dan menyalahkan atau mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.

Mekanisme pertahanan diri memang wajar dan sering dilakukan oleh banyak orang. Namun, jika mekanisme pertahanan diri dilakukan secara ekstrem akan mengarah pada perilaku yang memaksa, berulang-ulang, dan gangguan saraf.


Sumber data tulisan

  • Hutagalung, Rizky Putri Asridha S. 2012. Psikologi Kepribadian I. Modul. Universitas Mercubuana.
  • Andri dan Dewi, P.Y. 2007. Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik. Majalah Kedokteran Indonesia, 57,7.
  • Noevira, Dyas Dinda. 2008. Koping Remaja Putri yang Mengalami Sindrom Pramenstruasi di SMK Negeri 8 Semarang. Skripsi.
  • Pamungkas, Imang Dapit. 2014. Pengaruh Religiusitas dan Rasionalisasi dalam Mencegah dan Mendeteksi Kecenderungan Kecurangan Akuntansi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 15, 02.
  • Satiadarma, Monty P. 2001. Menyikapi Perselingkuhan. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
    6Hanjayani Putri, Lea Triastuti & Setija Utami, M Sih. 2015.
  • Mekanisme Pertahanan Ego pada Ibu Bekerja yang Mengalami Konflik Intrapersonal dalam Usaha Memberikan ASI Eksklusif.
  • Psikodimensia, 14, 1, 37-48.
  • Feist & Feist. Teori-teori Kepribadian.

Sumber Gambar:

http://www1.pictures.gi.zimbio.com/Sports+Pictures+Week+2008+March+24+MyNH3fDiAFVl.jpg

 

Apriastiana Dian Fikroti

Introvert, penyuka warna biru, ailurophilia, penikmat kata dan kopi

One thought on “Rasionalisasi, Mengurangi Kecemasan dengan Pembenaran?

Comments are closed.

%d bloggers like this: