Reaksi Formasi: Baik atau Buruk?

“Seseorang dapat memahami betul apa yang orang lain lakukan, tetapi tidak dengan apa yang orang lain rasakan.“ – Gustave Flaubert

Pernahkah Anda berbuat baik dengan orang yang tidak Anda sukai? Percaya atau tidak, banyak orang yang mampu bersikap sangat baik dan terlihat sangat akrab pada seseorang, padahal ia tidak menyukai orang tersebut. Apakah sikap tersebut sama seperti sikap tokoh antagonis yang menyimpan dendam di sinetron yang kita tonton?  Yuk, kita ulas lebih lanjut!

Sikap yang berlawanan seperti contoh di atas disebut “Reaksi Formasi”. Reaksi formasi adalah sikap menyembunyikan dorongan atau ide yang mengancam ke dalam alam bawah sadar dan menunjukkan perilaku yang sebaliknya di alam sadar.1 Reaksi formasi merupakan hal yang wajar dilakukan oleh seseorang ketika alam bawah sadarnya merasa terancam dengan lingkungannya, sehingga ia mulai melakukan perlawanan terhadap ancaman tersebut.

Sikap perlawanan itu sendiri disebut sebagai “Mekanisme Pertahanan Diri”. Mekanisme pertahanan diri adalah sebuah metode yang digunakan seseorang untuk mempertahankan diri ketika merasa jati diri atau egonya terancam oleh banyak hal di luar dirinya.2 Reaksi formasi merupakan salah satu dari mekanisme pertahanan diri.

Orang yang melakukan reaksi formasi untuk mempertahankan diri mereka dengan cara berperilaku yang berkebalikan dengan apa yang ia ingin lakukan karena ia merasa bahwa apa yang ingin ia lakukan itu dapat mengancam jati dirinya.

Banyak sekali contoh reaksi formasi yang kita temui sehari-hari. Misalnya saja, seorang anak yang memendam amarahnya kepada orang tuanya yang bersikap keras dan berusaha menunjukkan hanya rasa kasih sayang karena takut melawan orang tuanya tersebut.

Anak tersebut sebenarnya sangat ingin menunjukkan ketidaksukaannya ketika mendapat kekangan dari orang tuanya. Namun, karena ia takut hal tersebut dapat merusak jati dirinya sebagai anak yang baik, ia pun mengurungkan niatnya.

Contoh lain yang lebih menarik adalah seseorang yang melakukan gerakan anti pornografi yamg mungkin secara tidak sadar justru memiliki ketertarikan terhadap pornografi. Ia rela menyembunyikan ketertarikannya tersebut agar tidak mendapat cap buruk dari orang-orang di sekitarnya.

Agar orang-orang di sekitarnya semakin yakin bahwa ia tidak memiliki ketertarikan tersebut, tak tanggung-tanggung ia pun mengikuti gerakan anti pornografi. Hal tersebut merupakan salah satu dampak akibat alam bawah sadarnya yang merasa terancam, sehingga ia berusaha keras untuk membuat dirinya merasa aman kembali.

Apakah dampak dari reaksi formasi ini? Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, reaksi formasi adalah hal yang wajar untuk dirasakan oleh seseorang. Bagi orang yang melakukan reaksi formasi, ia akan merasa aman dan diterima oleh orang sekitarnya. Namun, di sisi lain, orang di sekitarnya tidak mengetahui sisi asli dari dirinya. Hal ini bisa berdampak baik atau buruk.

Misalnya, pada kasus anak yang memendam rasa marah terhadap ibunya sehingga hanya menunjukkan kasih sayangnya. Sang ibu mungkin tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan anaknya sehingga tidak berusaha untuk mengubah sikap kerasnya tersebut. Sang anak juga akan merasa terbebani dengan rasa amarah yang terus dipendamnya tanpa bisa ia ungkapkan.

Namun, tak dapat dipungkiri, bahwa memang sepantasnya seorang anak menunjukkan rasa sayang kepada orang tuanya. Sehingga, dapat kita lihat bahwa reaksi formasi sendiri memiliki dampak positif dan negatif, baik pada orang yang melakukannya maupun lingkungan disekitar orang tersebut.

Sejatinya, reaksi formasi perlu pengelolaan yang baik agar tidak memunculkan efek lain yang tidak diinginkan. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda telah melakukan pertahanan diri dengan baik?


Sumber data tulisan

Pengertian “Reaksi Formasi” disadur dari buku terbitan Thomson Wadsworth, California berjudul Personality oleh Jerry M. Burger pada tahun 2008.

Pengertian “Mekanisme Pertahanan Diri” disadur dari buku terbitan Lawrence Erlbaum Associates Publishers, New Jersey berjudul An Introduction to Theories of Personality (edisi ke 6) oleh Robert B. Ewan pada tahun 2003.

Sumber foto:

http://www.businessinsider.com/9-signs-youre-dealing-with-an-emotional-manipulator-2016-12

Faroh Alfani

Mahasiswa teknik pembelajar psikologi.

%d bloggers like this: