Remaja vs Media Sosial

“Media sosial menjadi adiktif karena ia memberikan apa yang tidak diberikan dunia nyata: kesegeraan, arah, dan nilai sebagai individu.”

-David Amerland

Remaja. Fase kehidupan manusia yang penuh dengan pencarian jati diri, proses menuju kematangan emosi lalu bermuara pada yang disebut dewasa. Dalam prosesnya, remaja sendiri sudah melalui banyak gejolak dalam dirinya, baik secara fisik maupun mental. Perkembangan hormon hingga perubahan pola pikir membuat para remaja dihadapkan pada banyak persimpangan. Pegangan hidup yang sudah ditanamkan orang tua menjadi panduan mereka dalam memilih.

Hadirnya teknologi tak diragukan lagi memberi banyak pengaruh dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan remaja. Perkembangan teknologi informasi mengantarkan media sosial masuk ke ruang tumbuh kembang remaja. Mungkin banyak yang berpendapat dengan kehadiran media sosial, remaja lebih banyak menerima dampak buruk daripada dampak positifnya. Namun, apakah benar demikian? Sejahat itukah media sosial di kehidupan remaja?

Media Sosial juga Ruang Tumbuh Kembang Remaja

Jangan buru-buru menjustifikasi bahwa aktivitas sosial media para remaja hanya semata untuk memfasilitasi keinginan mereka untuk eksis. Jangan tergesa menilai bahwa perilaku remaja di media sosial hanya untuk mengikuti perkembangan zaman. Kedua alasan tadi sebenarnya juga tidak salah. Ya, sebagai bagian dari mencari jati diri, remaja berusaha untuk lebih dikenal orang sekitarnya, hal ini mendorong mereka untuk membuka akun media sosial sebagai penyaluran keinginan tersebut. Namun apakah hanya demi itu?

Sebuah penelitian dilakukan di tahun 2014 mengenai remaja dan interaksi mereka di media sosial. Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa ada banyak hal yang dianggap enteng oleh para orang tua dan keluarga dari seorang remaja dan aktivitas mereka di media sosial. Orang tua sering kali berusaha keras mengontrol kegiatan sosial media anak remaja mereka. Yang mungkin dilupakan oleh orang tua adalah remaja memiliki strategi sendiri dalam beraktivitas di media sosial mereka.

Strategi yang dimaksud adalah remaja juga sebenarnya mengatur diri mereka sendiri akan apa yang mereka tunjukkan di dunia online. Jadi, pola pikir bahwa remaja dinilai tidak memahami konsep privasi dan kontrol atas diri mereka di dunia online perlu ditinjau ulang. Remaja juga mengatur dan membangun “dinding” mereka di dunia online. Mereka sebenarnya membagi mana bagian dari diri mereka yang mereka tunjukkan di dunia online dan mana yang tidak. Performa dari identitas yang ditunjukkan remaja di dunia online sangat berhubungan dengan pilihan pribadi diri mereka.

Dengan kata lain, terjun di dunia media sosial adalah bagian dari proses remaja menentukan identitas diri mereka. Selain itu, sadarkah Anda bahwa dengan berada di dunia media sosial, remaja sebenarnya melakukan hal hebat yang mungkin sulit dilakukan di dunia nyata? Dalam aktivitasnya di dunia media sosial, remaja terlatih untuk mengarahkan dan mengontrol batas yang sangat kabur antara ruang publik dan privat mereka. Lewat media sosial, mereka menangani bagaimana bentuk presentasi diri yang baik. Remaja juga mengontrol bagaimana proses pertemanan dan bagaimana mereka memelihara jaringan yang baik dengan dunia luar dalam proses mereka menuju dewasa.

Seperti halnya menata ruang tidur, remaja juga melakukan penataan pada ruang media sosial mereka. Faktanya, ruang tidur dan ruang media sosial bisa dijadikan perbandingan bagaimana remaja mengatur kehidupan mereka. Di kedua ruang tersebut remaja terus melakukan perubahan terhadap batasan batasan tertentu. Hal ini dikarenakan pola pikir mereka yang terus berproses mengenai banyak konsep. Batasan batasan yang dimaksud berkaitan dengan pemikiran mereka mengenai guna ruang tersebut dan apa yang diwakilkan oleh ruang tersebut. Dalam hal ini, termasuk di dalamnya ruang media sosial.

Sadarkah para orang tua bahwa aktivitas remaja di dunia media sosial lebih banyak berkutat di sekitar teman-teman terdekat mereka? Aktivitas ini pun kebanyakan berisi tentang hal hal yang memang menggambarkan diri mereka. Dengan melakukan ini, para remaja bisa menunjukkan, memainkan, dan memetakan identitas mereka serta proses transisi yang mereka jalani.

Pada akhirnya, dapat disimpulkan, dunia media sosial tidak selamanya menjadi momok yang harus ditakuti orang tua di kehidupan anak remaja mereka. Seperti yang tadi sudah diulas di awal, kehidupan para remaja penuh dengan persimpangan dimana mereka butuh panduan yang tepat dalam memilih. Hal apapun bisa saja terjadi di dunia media sosial dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini. Namun, orang tua selalu punya pilihan untuk membekali putra putri remajanya dengan kemampuan memilih dan mengambil keputusan yang baik.

Media sosial merupakan ruang tumbuh kembang tambahan dalam perkembangan remaja yang muncul akibat perkembangan zaman. Aktivitas di media sosial yang dilakukan remaja bisa menuntun mereka tumbuh dewasa dengan baik jika ada bekal yang baik dari orang tua mengenai pendidikan moral. Apa yang baik dan apa yang buruk. Apa yang pantas dilakukan dan apa yang tidak. Seperti dua sisi mata uang, semua hal di dunia ini memiliki sisi positif dan negatif. Tidak terkecuali, media sosial. Bagaimana anak remaja bisa merengkuh sebanyak mungkin sisi positif dari setiap persimpangan hidupnya, bergantung pada bekal yang diberikan orang tua. Pastikan anak Anda sudah mendapatkan bekal terbaiknya!


Sumber data tulisan (sertaan daftar pustaka atau footnote)

Artikel berisi hasil penelitian dari Jurnal New Media & Society dengan judul:

  1. Being Strategic and Taking Control: Bedrooms, Social Network Sites, and the Narratives of Growing Up. Penelitian dilakukan oleh Sian Lincoln dari Liverpool John Moores University, Inggris, pada tahun 2014.
  2. Bedrooms and Beyond: Youth, Identity, and Privacy on Social Network Sites. Penelitian dilakukan oleh Paul Hodkinson dari University of Surrey, Inggris, pada tahun 2015.

By: Ayunda Zikrina

Featured Image Credit: http://marketingland.com/only-14-of-u-s-teens-say-facebook-is-most-important-but-nearly-half-still-use-it-125158

Koes Ayunda Zikrina Putri

Alumna Fakultas Psikologi UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: