Republik Twitter: Dunia Nyata vs Dunia Maya

“Dasar, generasi menunduk. Coba lo lihat aja kelakuan mereka, semuanya menunduk aja.”

-Andre

Judul: Republik Twitter

Pemain: Abimana Aryasatya, Laura Basuki, Ben Kasyafani, Enzy Storia

Genre: Drama

Sutradara: Kuntz Agus

Tanggal Rilis: 2012

Durasi : 90 menit

Distributor: Amalina Pictures-RupaKata Cinema

Tidak bisa dipungkiri, saat ini sosial media telah menjadi bagian hidup kita. Setiap detik yang kita lalui, selalu berhubungan dengan sosial media. Sekedar menulis status, berinteraksi dengan teman lama, ataupun berkomentar. Namun, terkadang ada sebagian orang yang menyalahgunakan sosial media tersebut.

Film Republik Twitter mengisahkan tentang Sukmo (Abimana Aryasatya), seorang mahasiswa semester akhir sekaligus hacker asal Yogyakarta dan Andre (Ben Kasyafani), sahabatnya yang berasal dari Jakarta. Mereka berdua memiliki kepribadian yang berbeda. Sukmo sangat suka bermain media sosial, khususnya Twitter. Sementara Andre anti dengan media sosial walau Nadya (Enzy Storia), sang pacar, sangat suka bermain Twitter.

Berawal dari Twitter, Sukmo berkenalan dengan Hanum (Laura Basuki), seorang wartawan investigasi junior. Keduanya menjadi sering berinteraksi di dunia maya hingga Sukmo nekat memutuskan untuk pergi ke Jakarta, sekedar memenuhi komitmennya dengan Hanum. Sukmo pun memaksa Andre, sahabatnya, untuk menumpang di mobilnya menuju Jakarta sekaligus menginap di rumahnya.

Sesampainya di Jakarta, ketika kopi darat dengan Hanum, Sukmo justru bergegas keluar dari kafe tersebut karena merasa memiliki status sosial yang jauh berbeda. Semenjak itu pula Sukmo merasa minder dan tidak ingin bertemu lagi dengan Hanum. Di tengah kesedihannya tersebut, Sukmo ditawari suatu pekerjaan dari orang yang dikenalnya di Twitter. Pekerjaan tersebut menuntutnya membuat testimoni positif terhadap seseorang demi mengejar trending topic yang bertujuan menjadikan orang tersebut menjadi calon gubernur ibu kota. Berkat pekerjaan Sukmo itulah Hanum mengurungkan niat mundur menjadi wartawan dan mampu membuat artikel yang diapresiasi positif oleh semua karyawan sekaligus bos di kantornya. Walau menjadi bumerang bagi Sukmo dan orang-orang yang bekerja di kantornya tersebut.

Sejatinya media sosial memiliki banyak bentuk sesuai dengan tujuannya, seperti untuk blogging mini, jejaring sosial, situs berbagi, forum, serta social bookmarking. Twitter sendiri termasuk ke dalam blogging mini karena membatasi tweet hanya 140 karakter1. Dalam film ini, ada dua fokus yang berkaitan dengan media sosial, khususnya Twitter. Pertama hubungan antara Ben dengan Nadya dan Sukmo dengan Hanum. Pada kasus Ben dan Nadya, mereka sempat mengalami konflik karena Nadya sering sekali sibuk dengan ponselnya, bermain Twitter. Beberapa psikolog pun mengatakan bahwa media sosial sering menjadi pemicu rusaknya hubungan romantis seseorang karena terlalu asik bermain media sosial2. Walau media sosial juga membuat seseorang memiliki kenalan baru hingga menjalin hubungan romantis, seperti Sukmo dan Hanum.

Kedua, selain memengaruhi hubungan romantis, film itu pun menceritakan tentang personal branding yang dibentuk melalui media sosial. Beberapa kalangan, seperti selebritis dan politisi bahkan menggunakan pihak ketiga untuk membangun personal branding tersebut3. Di film tersebut juga dijabarkan pekerjaan Sukmo dan teman-temannya yang membuat akun palsu untuk branding seorang pengusaha. Agar pengusaha itu eksis dan mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk melaju di kursi calon gubernur ibukota. Selain itu, menurut kajian yang pernah dilakukan oleh Erik Qualman mengungkapkan bahwa salah satu dampak dari media sosial adalah Braggadocian behavior. Tipe yang seperti akan sering sekali update status atau tweet untuk memberitahukan apa yang sedang mereka lakukan atau baru saja mereka dapatkan agar dianggap eksis4.

Secara umum, film Republik Twitter ini menggambarkan pengaruh media sosial yang tidak hanya berdampak pada hubungan interpersonal, tetapi juga media untuk  eksistensi diri. Sebab setiap orang memiliki tujuan masing-masing dalam menggunakan suatu media. Dengan demikian kembali lagi ke pengguna tersebut akan menggunakan media sosial itu sebagai ajang kebaikan atau sekadar mencari eksistensi diri.


Sumber Data Tulisan (sertaan daftar pustaka atau footnote)

1Zarrella, Dan. 2010. The Social Media Marketing Book. Sebastopol: O’Reilly Media, Inc.

2Amalia, Ellavie Ichlasa. 2016. Media Sosial Punya Dampak Buruk pada Hubungan Romantis. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2016 dari Metro News.com: http://teknologi.metrotvnews.com/read/2016/02/01/477839/media-sosial-punya-dampak-buruk-pada-hubungan-romantis

3Septriadi, Dicky. 2012. Analisis Proses Pembentukan Personal Brand Melalui Social Media (Studi Kasus Proses Pembentukan Personal Brand Chappy Hakim dan Yunarto Wijaya melalui Twitter). Tesis.

4Nurudin. 2013. Media Sosial Baru dan Munculnya Revolusi Proses Komunikasi. Jurnal Komunikator UMY, 5, 2, 127-142.

Image Featured Credit: http://www.indonesianfilmcenter.com

 

Apriastiana Dian Fikroti

Introvert, penyuka warna biru, ailurophilia, penikmat kata dan kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: