“Alasan mengapa orang tua menganiaya anak-anak mereka tidak ada hubungannya dengan karakter dan temperamen tapi kenyataannya bahwa anak tidak diizinkan untuk membela diri” – Alice Miller

Setiap anak memiliki temperamen atau gaya berperilaku khas yang berbeda-beda dalam merespon sesuatu. Ada yang memberikan tanggapan secara positif seperti mudah beradaptasi dalam lingkungan baru, ada yang pemalu dan lambat dalam beradaptasi, dan ada juga tipe anak pemberontak dan sulit diatur.

Tentunya Anda bertanya-tanya bagaimana bisa ada anak yang mudah diatur oleh orang tuanya dan ada anak yang sangat sulit diatur oleh orang tua? Tentu sangat menyenangkan punya anak yang berperilaku baik, penurut, ceria, pintar, dan dapat bersosialisasi dengan baik. Lantas bagaimana jika ada orang tua, atau justru Anda, yang mempunyai anak yang sangat sulit diatur, sering menangis, mudah meluapkan amarahnya dengan cara mengamuk, dan tidak pernah menuruti perkataan Anda di rumah? Tentu hal ini merupakan dilema untuk Anda.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Stratton dan Eyberg di Amerika mengenai hubungan antara perilaku bermasalah pada anak dengan interaksi anak-orang tua. Para ibu diminta untuk melengkapi tes temperamen anak dan tes perilaku bermasalah pada anak. Nilai yang tinggi pada kedua tes tersebut menunjukkan bahwa anak tersebut memiliki perilaku bermasalah.

Setelah itu, masing-masing ibu dan anak diamati dalam interaksi ibu-anak yang direkam dalam video dengan durasi 30 menit di dalam ruang bermain. Setelah melakukan analisa pada video interaksi ibu-anak dan juga dari hasil tes yang diberikan, ternyata masalah perilaku pada anak berhubungan dengan interaksi anak dengan ibu.

Anak-anak yang memiliki skor tes temperamen dan tes perilaku bermasalah yang tinggi cenderung untuk berperilaku negatif, tidak patuh dan mendominasi. Perilaku orang tua juga dikaitkan dengan nilai dari tes temperamen anak. Dalam kasus ini, pengamatan dari kepatuhan orang tua, terutama ibu yang memiliki perilaku mendominasi, sulit menerima dan menunjukkan perilaku negatif pada anak justru berhubungan dengan lebih banyak masalah perilaku pada anak di rumah.

Temperamen anak dan masalah perilaku pada anak
Anak yang aktif dengan perhatian yang mudah terbagi menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi dalam masalah dalam berperilaku. Dari penelitian ini, orang tua juga diminta melaporkan mengenai temperamen dan masalah perilaku pada anaknya. Dari hasil laporan orang tua tersebut menunjukkan bahwa anak sangat aktif, tidak fokus, dan memiliki perilaku bermasalah di rumah. Anak-anak yang sering menunjukkan temperamen emosi dalam kehidupan sehari-hari juga lebih banyak memiliki perilaku bermasalah di rumah.

Setelah mendalami lebih lanjut, diketahui bahwa anak yang memiliki perilaku bermasalah dalam kehidupan sehari-hari dipengaruhi dari sikap penegakan disiplin yang tinggi dari ibu mereka. Penegakan disiplin dengan pendekatan “kekuasaan orang tua” bisa membuat anak malah memberontak, bukan menaati karena rasa hormat. Bisa jadi anak menyikapi sikap disiplin tersebut dengan tangisan dan sikap cerewet yang dinilai orang tua mereka sebagai pribadi yang emosional.

Interaksi perilaku ibu dan anak dengan temperamen anak
Anak-anak yang sangat aktif dan tidak fokus justru digambarkan secara negatif, tidak menerima, dan tidak patuh dalam interaksi dengan ibu mereka. Perilaku ibu dalam interaksi dengan anak sangat berpengaruh terhadap temperamen anak. Jika ibu sedikit memberikan perhatian pada anak dan jarang memberikan penghargaan postif akan berdampak pada ketidakpatuhan pada anak. Hal itu juga didukung dengan penelitian dari Battle dan Lacey yang menemukan bahwa ibu yang jarang memperhatikan dan terlalu mengkritik dalam mendidik anak justru akan memiliki anak-anak yang hiperaktif.

Nah, setelah mengetahui hasil penelitian tersebut ternyata ibu memiliki pengaruh yang besar dalam mempengaruhi temperamen pada anak. Pengasuhan dan perawatan dari orang tua, terutama ibu, memberikan dampak yang besar dalam menentukan perilaku anak. Mendidik anak untuk disiplin memang baik namun jika dilakukan dengan cara dan pendekatan yang salah maka akan berdampak sebaliknya. Anak akan memberontak, tidak patuh, dan akan lebih sering melawan perkataan Anda.

Belajarlah untuk memberikan banyak perhatian kepada anak dan berikan penghargaan positif seperti pujian jika anak melakukan sesuatu secara mandiri atau melakukan sesuatu seperti apa yang Anda minta. Jika Anda ingin melarang anak untuk melakukan sesuatu pastikan Anda memberikan alasan mengapa Anda melarang anak. Sikap seperti itu akan membuat anak merasa dihargai dan akan membentuk temperamen yang positif pada anak.


Referensi:
1Stratton, C.W. & Eyberg, S.M (1982). Child temperament: Relationship with child behavior problems and parent-child interactions, Journal of Clinical Child Psychology, 11:2, 123-129

Sumber Gambar:
http://bomba.co/wp-content/uploads/2014/10/mat2.jpg

Total
2
Shares
%d bloggers like this: