Savior Complex : Ketika Perilaku Menolong Menjadi Masalah

Pasangan Anda sedang mencoba untuk masuk ke perguruan tinggi ternama, sementara Anda sudah lebih dulu kuliah. Sebagai pasangan yang baik, Anda merasa membantu dia dengan cara memotivasi merupakan hal wajib. Tidak hanya memotivasi dengan kata-kata, Anda juga bersedia menjadi guru privat untuknya. Anda juga berusaha bersikap lebih semangat daripada pasangan, dengan harapan rasa semangat itu bisa menular dan menjadi motivasi. Semua hal itu Anda lakukan dengan niat untuk menolong.

Gagal sekali atau dua kali, mungkin Anda masih bisa memaklumi. Namun, Anda mulai merasa sebal. Rasanya Anda sudah mengerahkan seluruh usaha agar dia bisa lolos masuk perguruan tinggi ternama, tetapi mengapa tetap saja gagal? Anda pun mulai merenungi apa yang selama ini sebenarnya terjadi.

Rasa-rasanya, Anda sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya. Mulai dari tenaga, waktu, bahkan pikiran. Namun, tetap saja tidak ada perubahan dan berakhir dengan sebuah kegagalan. Pada akhirnya, Anda menyadari sesuatu, bahwa sebenarnya selama ini keinginan masuk perguruan tinggi ternama bukan muncul dari diri pasangan Anda.

Savior complex ada kaitannya dengan perilaku menolong yang dilakukan orang pada umumnya. Bagi yang jarang mendengar istilah savior complex, semoga tulisan kali ini dapat membantu Anda untuk memahami hal tersebut.

 Apa Itu Savior Complex?

Istilah savior complex erat kaitannya dengan perilaku menolong. Seperti yang sudah diketahui oleh hampir semua orang, bahwa perilaku menolong adalah suatu hal yang positif. Akan tetapi, istilah savior complex juga terkait dengan sebuah masalah. Mereka yang mengalami ini cenderung mencari orang-orang yang membutuhkan pertolongan, bahkan sampai mengorbankan kebutuhan diri sendiri.

Mereka yang terkena savior complex merasa bahwa menolong orang merupakan suatu kebaikan dan harus dilakukan. Mereka merasa baik dengan menolong orang tanpa berharap balasan. Namun, seringkali pertolongan yang diberikan kurang sesuai karena tidak adanya komunikasi dua arah antara orang yang mau menolong dengan orang yang menerima bantuan.

Seperti contoh kasus di atas, Anda sudah susah payah membantu. Bantuan yang diberikan bertujuan agar pasangan Anda lolos ujian masuk ke kampus ternama. Namun, sebenarnya pasangan Anda tidak membutuhkan bantuan Anda untuk ujian masuk ke kampus ternama. Sejak awal, pasangan Anda memang sudah tidak berminat untuk ikut ujian tersebut dan Anda baru mengetahuinya ketika Anda mulai putus asa untuk menolongnya.

Kuncinya : Diri Sendiri

Menolong itu suatu perbuatan yang baik dan harus dijadikan sebagai kebiasaan. Namun, ada kalanya menolong harus berhenti dilakukan. Ada batasan agar perilaku menolong tidak menimbulkan perasaan tidak berguna dan ketergantungan.

Akui saja bahwa di antara Anda, ada yang pernah merasa gagal setelah menolong orang. Gagal dalam artian, orang yang Anda tolong tidak menjadi lebih baik keadaannya. Perlu Anda ketahui, bahwa niatan menolong Anda tidak bekerja jika orang yang Anda tolong tidak mau ditolong. Selain itu, hanya diri mereka sendiri yang dapat merubah keadaanya lebih baik. Jadi, ketika Anda merasa gagal dalam menolong orang, itu bukan salah Anda.

Menolong entah itu dalam bentuk memotivasi atau memberi semangat, bukanlah kata kerja yang memiliki makna yang sama dengan mengubah. Bagaimanapun juga, perubahan seseorang tergantung pada dirinya sendiri. Harus Anda pastikan juga bahwa pertolongan Anda tidak memberi ketergantungan kepada orang yang Anda tolong.

Beri waktu sejenak untuk mereka yang ingin Anda tolong untuk berpikir dan merasa susah dengan kondisi dirinya yang tidak baik. Jika memang dia membutuhkan bantuan Anda, maka ia akan datang dengan sendirinya. Kepedulian dan kebijaksanaan Anda dibutuhkan di sini, maka cerdaslah dalam menolong!

 

Total
42
Shares
%d bloggers like this: