“Aku bukan tipe orang yang mengkhianati teman demi mewujudkan impianku.” – School 2015

Pernahkah Anda melalui masa-masa di mana Anda memiliki kecenderungan lebih dekat dengan teman daripada keluarga? Jika diibaratkan, seperti apakah kedekatan Anda denagan teman Anda? Kali ini artikel yang sedang Anda baca akan mencoba membahas hal tersebut. Dunia psikologi menyebutnya dengan peer. Peer memiliki pengertian kawan sebaya atau kawan seusia1. Pengertian lain menyebutkan peer adalah kawan, sahabat atau orang yang sama-sama bekerja atau berbuat2.

Sebenarnya, saat seseorang sudah memasuki lingkungan di luar rumahnya saat itulah mereka mengenal kawan sebaya. Entah itu lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan kegiatan ekstrakurikuler dan sebagainya. Seseorang memiliki kecenderungan untuk memilih sendiri orang yang akan dijadikan sebagai kawan sebaya. Kawan sebaya yang dipilih biasanya karena letak rumah yang berdekatan, berasal dari sekolah yang sama, berkegiatan yang sama atau bahkan memiliki ketertarikan pada hal yang sama3.

Bagaimana kawan sebaya memberikan pengaruh kepada Anda?

Anda sudah pasti sering mendengar peribahasa, jika Anda berkawan dengan pandai besi maka Anda akan terkena bau besi. Jika Anda berkawan dengan penjual minyak wangi maka Anda akan ikut berbau wangi parfum. Sederhananya, peribahasa itu mengingatkan kita untuk cerdas dalam memilih teman karena ingin dipungkiri atau tidak teman akan mempengaruhi bagaimana Anda berperilaku. Kawan sebaya dapat memberikan kontribusi pada seseorang dalam bentuk rasa memiliki, perasaan layak, memperluas dan mempengaruhi pandangan serta memperkuat padangan tentang perilaku mana yang dapat diterima atau tidak4.

Remaja yang memiliki pola asuh orang tua yang sewenang-wenang atau biasa disebut dengan otoriter cenderung memiliki ketergantungan yang besar terhadap kawan sebayanya. Mengapa? Karena ketika orang tua tidak menyesuaikan diri, seorang remaja mungkin menolak pengaruh orang tua dan mencari dukungan serta persetujuan teman sebaya, apapun resikonya5. Selain itu, kawan sebaya merupakan sumber rasa kasih sayang, simpati, pemahaman dan panduan moral, tempat bereksperimen dan kesempatan untuk mendapatkan kemandirian dan indepedensi dari orang tua6.

Apa dampak positif dan negatif dari kawan sebaya?

Berbicara mengenai dampak positif dan negatif dari kawan sebaya sama saja seperti kita membahas tentang kecocokan. Ya, tidak hanya dalam urusan teman hidup saja yang membutuhkan kecocokan. Memilih seseorang untuk dijadikan kawan sebaya juga membutuhkan kecocokan. Entah itu cocok karena memiliki norma yang sama, perilaku yang sama, sikap atau bahkan memiliki selera berpakaian yang sama.

Dampak positif yang kita dapatkan dari kawan sebaya antara lain rasa kepercayaan diri yang positif, pengungkapan diri yang positif dan lain sebagainya. Dengan catatan Anda menemukan kecocokan dengan kawan sebaya Anda.

Namun, jika seseorang tidak menemukan kecocokan dengan kawan sebayanya maka akan mengalami hal yang tidak menyenangkan. Niatnya mencari kawan justru mendapat lawan. Perasaan tertindas, merasa tidak menjadi diri sendiri, bahkan menurunnya prestasi merupakan salah satu sebab negatif yang didapatkan dari kawan sebaya. Hal itu juga yang menyebabkan terjadinya bullying pada seseorang.

Disadari atau tidak, perilaku cerdas kita dalam memilih kawan sebaya menjadi salah satu hal yang dapat kita lakukan dalam pencegahan fenomena bullying. Selain itu, kawan sebaya dapat membantu Anda dalam membentuk perilaku. Jika Anda ingin berperilaku baik maka pilihlah kawan sebaya yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Setelah menemukan kawan sebaya yang baik, maka langkah selanjutnya yang dapat dilakukan adalah membangun kecocokan. Jika Anda sudah merasa cocok dengan kawan sebaya Anda maka, hal positif yang didapatkan dari kawan sebaya Anda. Selamat mencari dan memilih kawan sebaya!


Sumber Data Tulisan

[1] Selengkapnya dapat dibaca pada buku Kamus Lengkap Psikologi J.P Chaplin

[2] Dapat di cek pada laman web http://www.kbbi.web.id/kawan-sebaya

[3] [4] https://www.psychologytoday.com/blog/appearance-and-peer-pressure

[5] [6] [7] Selanjutnya dapat dibaca pada buku Psikologi Perkembangan, Diane E. Papalia, dkk

Sumber gambar: http://www.magicmum.com/wp-content/uploads/2014/04/teen-friendships.jpg

1 comment

Comments are closed.

%d bloggers like this: