Tidak semua anak mampu bergaul dan menjalin interaksi sosial dengan mudah. Setiap anak memiliki karakteristik unik yang tidak dapat dipaksakan. Bimbing dan dampingilah mereka agar mampu menghadapi berbagai situasi yang kelak mereka jumpai.”

Pernahkah Anda menjumpai anak yang sehari-hari riang gembira namun ketika berada di rumah bisa saja tiba-tiba terdiam seribu bahasa? Hal tersebut mungkin disebabkan karena anak tengah menghadapi situasi yang tidak menyenangkan baginya. Situasi itu adalah situasi subjektif. Ya, orang lain menganggap situasi itu sebagai situasi yang normal. Anak akan tetap mempertahankan diamnya meski orang-orang di sekitarnya berusaha menunjukkan keramahan dan kehangatan. Ia hanya akan merespon sikap orang lain padanya melalui isyarat-isyarat tertentu. Hal tersebut merupakan gambaran umum dari kejadian selective mutism pada anak. Istilah selective mutism mungkin menjadi istilah yang masih terdengar asing di telinga Anda, bukan? Namun, tanpa Anda sadari hal tersebut mungkin pernah Anda temui di lingkungan sekitar Anda.

Kemungkinan terjadinya selective mutism pada anak menurut berbagai macam penelitian tercatat tidak lebih dari 1%.1 Menurut APA (American Psychological Association), jumlahnya masih tergolong kecil. Lalu, apa sebenarnya selective mutism itu?

Seorang ahli bernama Kehle, mendefinisikan selective mutism sebagai suatu gangguan yang terjadi ketika seseorang menjadi diam atau “mute” pada situasi tertentu.2 Gangguan tersebut pada umumnya dialami oleh seseorang ketika ia berada pada tahap perkembangan kanak-kanak.3 Sebagian besar anak terdiagnosis mengalami selective mutism ketika berusia antara tiga hingga delapan tahun.4

Tahukah Anda mengapa anak justru diam? Selective mutism tergolong dalam gangguan kecemasan, lebih spesifiknya adalah gangguan kecemasan sosial (social anxiety). Anak dengan selective mutism akan menunjukkan rasa takut untuk berbicara dan melakukan interaksi sosial.5 Pada umumnya, anak dengan selective mutism akan berbicara pada situasi yang menurut mereka nyaman, aman, dan tanpa paksaan.

Kecemasan yang ditunjukkan oleh setiap anak dengan selective mutism akan berbeda-beda. Beberapa anak akan benar-benar diam dan tidak mampu berbicara pada siapapun ketika menghadapi situasi sosial tertentu. Sementara itu, sebagian lainnya mungkin masih mau dan mampu berbicara pada orang-orang tertentu. Kecemasan yang dialami oleh anak dengan selective mutism dipicu oleh adanya tuntutan untuk berbicara pada berbagai situasi sosial yang asing baginya.6

Berbagai penelitian terkait selective mutism telah banyak dilakukan. Hasilnya pun bermacam-macam. Data dari berbagai hasil penelitian itu diketahui bahwa selective mutism lebih banyak dialami oleh anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki. APA American Psychological Association) menyebutkan bahwa terdapat lima kriteria yang selective mutism. Ini dia kriterianya6 :

  1. Adanya kegagalan berbicara pada sebuah situasi sosial yang sebenarnya anak diharapkan dapat berbicara pada situasi tersebut, seperti situasi sekolah, situasi permainan, dan sebagainya.
  2. Gangguan dapat mempengaruhi pendidikan, pencapaian dalam berkarya, dan komunikasi sosial.
  3. Gangguan muncul sekurang-kurangnya satu bulan. Pada setting sekolah, hal itu tidak terbatas pada satu bulan pertama masuk sekolah.
  4. Selective mutism muncul bukan karena kurangnya pengalaman atau ketidaknyamanan dalam berbahasa pada situasi sosial tertentu.
  5. Penyebab selective mutism bukanlah gangguan komunikasi. Selain itu, gangguan tersebut tidak muncul bersamaan dengan gangguan perkembangan, skizofrenia, atau gangguan psikosis lainnya.

Orang tua, guru, atau bahkan teman sebaya yang menghadapi anak dengan selective mutism memang dituntut agar memiliki kesabaran yang lebih. Akan tetapi, optimisme juga perlu ditanamkan oleh berbagai pihak tersebut. Sebab, pada berbagai kasus, selective mutism dapat disembuhkan.7 Menurut Kehle, selective mutism pada anak dapat ditekan melalui terapi. Terapi yang ditujukan bagi anak dengan selective mutism merupakan terapi dengan pendekatan perilaku.8 Bentuk terapi itu sendiri banyak dan bermacam-macam, tergantung pada penggunaan dan pengembangan konsep terapi perilaku oleh para ahli. Terapi bagi anak dengan selective mutism yang berhasil tidak luput juga dari upaya keluarga, sekolah dan teman sepermainan dalam memberikan dukungan agar anak berani untuk me-nonaktifkan mode “mute” nya. Jadi sudahkah Anda tahu mengapa anak cenderung diam dalam situasi tertentu?


Sumber data tulisan

1 Data dirujuk dari tesis yang ditulis oleh Puspita Adhi K. W., Magister Psikologi Profesi UGM.

2 Sumber definisi dirujuk dari salah satu artikel dalam National Association of School Psychologists yang ditulis oleh Thomas J. Kehle, Melissa A. Bray, dan Lea A. Theodore.

3 Kajian terkait usia perkembangan disarikan dari tesis yang ditulis oleh Puspita Adhi K.W., Magister Psikologi Profesi UGM.

4 Data pelengkap usia prevalensi selective mutism didapatkan dari situs www.selectivemutismcenter.org

5 Kajian terkait gangguan kecemasan pada anak dengan selective mutism dapat ditinjau dalam situs www.selectivemutismcenter.org

6 Gambaran situasi kecemasan pada anak dengan selective mutism, data, serta kriteria dirujuk dalam tesis yang ditulis oleh Puspita Adhi K. W., Magister Psikologi Profesi UGM.

7 Keterangan terkait selective mutism yang dapat disembuhkan dirujuk dari tulisan dr. Appolina Sidauruk dalam situs www.ayahbunda.co.id/artikel/Balita/Gizi+dan+Kesehatan/terapi.untuk.gangguan.selective.mutism.sm/001/001/1763/2

8 Terapi pada gangguan selective mutism dirujuk dari artikel yang ditulis oleh Thomas J. Kehle, Melissa A. Bray, dan Lea A. Theodore dalam National Association of School Psychologists.

By: Happy Virgina

Featured Image Credit: www.top10magz.com

 

Total
179
Shares
%d bloggers like this: