“Jangan menangis karena semua berakhir. Tersenyumlah karena semua telah terjadi.”

-Dr. Seuss

Cinta. Demikian orang menyebutnya. Banyak puisi tertulis mengagungkan indahnya perasaan jatuh cinta. Namun tak sedikit pula sajak tertulis menuangkan perasaan terhunjam sakitnya patah hati. Ketika semua dirasa indah ketika jatuh cinta, terkadang manusia bisa lupa, semua cinta punya kemungkinan untuk berakhir. Dalam prosesnya, ada yang sadar, merasakan cinta yang dulu di awal dirasakan memuncak, perlahan berkurang. Jika hal ini sama-sama dirasakan oleh kedua pihak yang terlibat hubungan romantis, proses berakhirnya hubungan biasanya akan berjalan lebih mudah. Hal berbeda terjadi jika yang merasakan hanya salah satu pihak. Ketika tiba tiba salah satu pihak menyatakan tidak lagi ingin melanjutkan hubungan, pihak lainnya bisa jadi tidak siap dengan kenyataan itu. Banyak hal yang bisa terjadi sebagai dampak atas ketidaksiapan tersebut. Dampak yang muncul biasanya bersifat negatif terkait gangguan suasana hati (mood), kesedihan, kemarahan, hingga stres1.

Dampak Putus Cinta Bukan Hanya tentang Perasaan….

Harus diketahui, berakhirnya sebuah hubungan romantis memang sewajarnya menimbulkan dampak negatif pada diri seseorang. Umumnya, dampak yang paling terasa pasca berakhirnya sebuah hubungan adalah dampak secara emosional. Seseorang bisa merasa sedih, kehilangan rasa percaya, kehilangan perasaan dicintai hingga penilaian negatif pada diri sendiri1. Dampak emosional ini tentunya membuat hidup seseorang masuk dalam fase yang tidak nyaman, mulai dari pikiran yang terasa terbebani hingga mengakibatkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan penelitian, meskipun putusnya hubungan romantis biasanya banyak mengganggu situasi emosional seseorang, ternyata secara fisik tubuh juga bereaksi. Mungkin bagi Anda yang pernah merasakan patah hati akibat berakhirnya hubungan romantis, cukup familiar dengan perasaan nyeri yang muncul di sekitar dada. Perasaan nyeri ini diberi nama Stress Cardiomyopathy atau lebih sering dikenal dengan Sindrom Patah Hati. Ini istilah medis, lho! Jadi memang benar adanya. Sindrom Patah Hati ini disebabkan melemahnya otot jantung secara cepat dan cukup parah2. Hal ini terjadi karena stres yang timbul akibat berakhirnya hubungan romantis tadi memicu munculnya hormon hormon di tubuh terutama hormon kortisol yang menjadikan Anda merasa dada Anda cukup nyeri dan berat3.

Selain itu, stres yang muncul juga menurunkan sistem imun tubuh Anda, meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan detak jantung. Ini mengapa, jantung Anda cukup terkena pengaruh jika Anda lama membiarkan diri Anda stres karena putus cinta. Bahkan dalam sebuah penelitian, perasaan sakit karena patah hati bisa meningkatkan risiko serangan jantung3.

Yang Berlalu Biarkan pada Tempatnya, Saatnya Menatap Masa Depan

Kenyataannya, semua hubungan romantis punya potensi untuk berakhir, seharmonis dan sebahagia apapun hubungan itu. Seseorang bisa merasa secara fisik tidak ada yang berubah dari pasangannya, akan tetapi seseorang itu merasa pasangannya tidak bisa membuatnya sebahagia dulu saat awal memulai hubungan. Atau sebuah hubungan romantis bisa berakhir karena tiba-tiba seseorang mengetahui pasangannya memiliki hubungan romantis lain dengan selain dirinya. Atau banyak penyebab lain berakhirnya sebuah hubungan romantis. Hubungan romantis yang dimaksud tidak hanya hubungan yang masih sebatas pacaran, namun juga hubungan romantis dalam ikatan pernikahan. Hubungan yang sudah terikat pernikahan sekalipun tetap berpotensi untuk berakhir dengan perceraian.

Dalam menjalani sebuah hubungan tentunya, setiap pasangan terus merencanakan kebahagiaan bersama. Akan tetapi hendaknya tidak melupakan kemungkinan bahwa apapun yang dimulai tetap berpotensi berakhir. Ibarat setiap “halo” selalu akan bertemu “selamat tinggal”. Namun, kemungkinan berakhir ini seyogyanya tidak dijadikan batasan dalam mencari kebahagiaan bersama pasangan. Sejatinya, memiliki cinta itu seharusnya menjadikan seseorang kuat, bukan melemahkannya.

Namun jika cinta sudah berakhir, lalu apa? Apakah Anda akan terus menenggelamkan diri dalam kesedihan? Semua berada di tangan Anda. Uraian di atas sudah menjabarkan sedikit mengenai dampak yang mungkin ditimbulkan dari perasaan stres atau sedih berkepanjangan. Apakah Anda akan membiarkan diri Anda mengalami hal tersebut. Jatuh cinta memang mendidik kita untuk bisa semakin bijak dalam hidup. Seperti kata seorang tokoh, “tidak ada yang salah dalam hidup, yang ada hanyalah pelajaran.”. Hubungan romantis yang salah dan berakhir adalah salah satu cara hidup mengajarkan pada Anda bagaimana nantinya hubungan romantis yang benar. Jangan menyesali hubungan romantis Anda yang telah berakhir. Justru bersyukurlah, berarti Anda telah mendapat pelajaran yang mungkin tidak lagi diajarkan hidup di lain kesempatan. Tidak masalah jika Anda tidak bisa cepat menyembuhkan semua rasa sakit. Nyatanya, sesiap apapun kita pada kehilangan, pada saatnya sesuatu itu hilang kita tetap tidak siap. Sembuh itu sendiri memang butuh waktu. Beri waktu diri Anda menyelami perasaan sendiri, lalu bangkitlah. Semua hati manusia diciptakan dengan kekuatan yang berada di luar jangkauan pikir Anda. Jangan terus merasa lemah dan betah berada di bawah jajahan bayang masa lalu. Masa lalu sudah berakhir, biarkan ia di tempatnya, dan selalu ingat, Anda memiliki masa depan yang menanti Anda.

“Seperti senja dan hujan, cinta selalu datang dan pergi tepat waktu.” –Ayunda Zikrina


Sumber Data Tulisan

  1. Disadur dari hasil penelitian Joanni L. Sailor dalam jurnal yang berjudul, “A Phenomenological Study of Falling Out of Romantic Love” terbit tahun 2013.
  2. Disadur dari website Johns Hopkins Medicine di http://www.hopkinsmedicine.org/asc/faqs.html
  3. Disadur dari hasil penelitian yang tercantum di laman https://www.psychologytoday.com/blog/two-takes-depression/201202/broken-heart-syndrome-its-real-and-its-rough

Featured Image Credit: pinterest.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: