Senang Berfoto? Ketahui Dampaknya!

Seberapa sering kamu memanfaatkan kamera dalam kegiatan sehari-hari? Mungkin beberapa akan menjawab hampir setiap hari. Ada yang suka selfie, mengambil gambar makanan, mengambil gambar di depan kaca toilet mall atau setiap bertemu teman. Beberapa contoh tindakan tersebut menimbulkan kebiasaan baru. Setiap ingin melakukan sesuatu, harus difoto dulu.

Tanpa disadari, manusia seakan terjebak dengan kamera. Kamera seperti menjadi bagian penting untuk kelangsungan hidup dengan mengabadikan setiap momen. Hal ini membuat manusia lupa untuk menikmati momen pada saat itu juga dengan tidak terus-menerus mengambil gambar.

Cerita Penulis

Saya merasa sedih ketika pergi menonton konser. Kesedihan ini disebabkan oleh hampir semua penonton memegang handphone untuk mengambil gambar atau video. Hal itu menjadi tidak mengganggu ketika mengambil beberapa kali saja. Akan tetapi, ada saja penonton yang memegang handphone hingga berakhirnya konser.

Saya menuliskan cerita ini bukan berarti tidak melakukan hal serupa. Setelah melakukannya, saya menyesal karena tidak dapat menghayati konser yang berlangsung. Saya malah berfokus pada hasil gambar atau video yang sudah diambil. Selanjutnya, saya memastikan bahwa gambar dan video ini cukup baik menjadi pengingat untuk dikenang nanti. Contoh pengalaman saya menunjukkan manusia lebih berfokus untuk mengambil gambar daripada merasakan pengalaman langsung dari momen yang terjadi.

Dampak Mengambil Gambar

Perlu diketahui bahwa kemampuan berpikir dibutuhkan lebih banyak saat mengambil gambar. Sebagai tambahan, mengambil gambar juga dapat mengganggu memori manusia. Manusia berpikir tidak perlu mengingat pada saat itu juga karena bisa dilihat kembali melalui gambar. Seakan-akan gambar tidak memperbolehkan untuk mengingat suatu momen secara langsung.

Mengambil gambar menimbulkan sudut pandang yang berbeda saat melihat kembali gambar yang sudah diambil. Jika manusia melihat dirinya sebagai objek, ia akan melupakan pengalaman emosional yang dirasakan. Sebaliknya, manusia yang melihat dirinya sebagai pelaku akan lebih mengingat pengalaman emosional yang dirasakan.

Gambar dapat menjadi pengingat jika kita menghayati momen. Apabila hanya jadi bahan koleksi, kita akan lupa makna dari peristiwa yang terjadi. Memotret memang boleh, tetapi tidak setiap saat perlu dilakukan. Ada waktu untuk menikmati secara langsung dan menjadi kenangan yang berarti dalam ingatan.

“Ketika ingin mendokumentasikan pengalaman penting, gadget memang sangat berguna. Akan tetapi, tidak untuk kehidupan sehari-hari.”
–Evangelos Nifratos-

%d bloggers like this: