“Kehilangan identitas diri dan nilai personal hanya karena mengikuti sebuah trend bukanlah sebuah pilihan”

Masih terkenangkah di benak Anda berita di media sosial tentang maraknya anak sekolah yang melakukan tawuran antarpelajar? Kalo sendirian, mereka tidak banyak bertingkah laku. Tetapi kalo mereka sudah ramai-ramai bersama dengan teman gengnya.. mereka langsung berani tuh mengeluarkan benda-benda berbahaya untuk amunisi tawuran.

Masih ingatkah Anda tentang aksi besar-besaran di Ibukota tanggal 4 November yang tentang kasus Ahok tempo lalu yang membawa massa lebih dari ribuan orang? Kalo sendirian, mereka nggak kuat untuk melawan Ahok. Tapi berhubung mereka bisa menggandeng banyak pasukan.. mereka jadi tim yang kuat dan berani.

Masih jelaskah dibayangan Anda sederet berita aksi massa klub sepakbola melakukan tindak anarkis menyerang klub lain yang membuat geram para penikmat bola yang lain dan bahkan tidak jarang aksi mereka sampai menimbulkan korban jiwa? Kalo sendirian, mereka diam dan pasti tidak berani melawan klub bola lain. Tapi ketika mereka bersama-sama dengan pecinta klub bola tertentu, ketika mereka merasa emosi dengan kemenangan pihak lawan, mereka tidak pikir dua kali untuk melemparkan segala benda yang ada didepan mereka untuk menyerang klub bola lain.

Semakin hari sering ditemui di media cetak maupun elektronik mengenai sekelompok masyarakat baik dalam ranah politik, olahraga, maupun yang lainnya. Seringkali suatu kelompok yang tidak senang dengan kehadiran kelompok lain yang dianggap menimbulkan persaingan, tidak segan-segan mereka lawan dengan cara yang tidak manusiawi. Walaupun begitu, tetapi ada juga lho sekelompok orang yang tergabung dalam komunitas yang hobi melakukan aksi sosial yang positif seperti berbagi ilmu pengetahuan dengan mengajar  yang membuat orang-orang didalamnya bahkan mungkin orang disekitarnya ikut-ikutan berbuat demikian.

Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan mereka? Apa sih yang membuat mereka tergerak untuk berperilaku sama dalam satu kelompok? Ternyata fenomena yang sedang viral itu bisa dilihat dari sisi psikologi lho. Mari kita pahami lebih dalam!

Kenali Deindividuasi

Wajar bila sebagai manusia, ada kebutuhan dalam diri untuk berbaur, melebur, dan menyatu dengan orang atau kelompok lain. Nah, sebagai orang yang berusaha untuk beradaptasi, tentunya diri kita akan menyesuaikan nilai dan norma yang kita miliki dengan orang atau kelompok lain supaya dapat diterima. Kok bisa gitu ya? Ya, jawabannya adalah karena munculnya kondisi deindividuation. Dalam psikologi sosial, deindividuasi merupakan kondisi psikologis ketika seseorang kehilangan kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan kehilangan arti penting identitas pribadi dalam situasi kelompok besar yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan perhatian dari individu1. Untuk memahami lebih mudah lagi, gampangnya deindividuasi adalah berkurangnya kekuatan individu karena dirinya telah melebur dalam satu kelompok sehingga nilai dan norma dalam diri tergantikan oleh nilai dan norma kelompok. Jadi, ketika seseorang ‘melepas’ identitas dirinya, kesadaran akan dirinya dan tanggung jawab dirinya juga hilang dan beralih ke kelompok atau crowd (kerumunan). Semakin besar jumlah anggota dalam kelompok, seseorang semakin berpeluang untuk menjadi anonimus dan menjelma menjadi bagian dari kelompok2 .

Mengapa bisa terjadi?

Deindividuasi lahir akibat munculnya kelompok-kelompok besar yang dapat memengaruhi individu dalam berpikir, bertindak, dan berperasaan. Menurut Reicher (1995), deindividuasi sejatinya disebabkan oleh tiga hal3:

  1. Group Immersion yaitu individu tidak lagi melihat dirinya sebagai seorang diri tetapi dirinya saat ini adalah bagian dari kelompok sehingga apapun pilihan kelompok, akan diikuti
  2. Anonimity yaitu ketika identitas seseorang tidak diketahui
  3. HIlangnya Self-awareness dan self-regulation yaitu ketika individu tidak dapat lagi mengontrol dirinya dan merelakan kelompok untuk memegang kendali atas dirinya

Setelah membaca sekilas informasi tersebut, deindividuasi terkesan mengerikan bukan? Ya, memang deindividuasi dapat mengarah pada perilaku agresif dan antisosial. Kenapa bisa antisosial? Nah, karena ketika nilai dan norma suatu kelompok itu buruk maka otomatis dong orang-orang didalamnya dapat terjerumus berperilaku buruk, anarkis, tidak terkontrol, dan bahkan bisa sampai menganggu kenyamanan lingkungan. Walau begitu, tidak selamanya deindividuasi buruk. Ada deindividuasi yang positif. Ketika suatu kelompok besar membutuhkan kekompakan dan persepsi yang sama untuk mencapai suatu tujuan maka deindividuasi sangat dibutuhkan. Seperti aksi sosial besar-besaran untuk menggalang dana korban bencana. Contoh lain misalnya dalam dunia militer yang, para prajurit harus memiliki satu tujuan yang sama, nilai dan norma yang sama, dan perilaku yang sesuai dengan aturan kemiliteran. So, deindividuasi bisa ditilik dari sisi positif dan negatif. Tetap tingkatkan kesadaran diri agar tidak terjerumus kedalam perilaku buruk yang jutsru dapat merugikan diri sendiri!


Sumber Data Tulisan

  1. Baron, Robert A & Nyla R. B. 2012. Social Psychology. USA: Pearson Education Inc.
  2. Chang, Jenna. 2008. The Role of Anonymity in Deindividuated Behavior: A Comparison of Deindividuation Theory and The Social Identity Model of Deindividuation Effects (SIDE). The Pulse, vol. 6, issue 1. Diambil dari http://www.baylor.edu/.
  3. Reicher, S. D., R. Spears, Russell., & Tom Postmes. 1995. A Social Identity Model of Deindividuation Phenomena. European Review of Social Psychology, vol. 6. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/240237685_A_Social_Identity_Model_of_Deindividuation_Phenomena.

Featured Image Credit: http://1000weirdfacts.com/tag/deindividuation/

By: Nurkhalisa Ersyafiani

 

Total
14
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: