“Kunci untuk kepemimpinan yang sukses hari ini adalah pengaruh, bukan otoritas “

– Kenneth Blanchard

Pemimpin, sebuah gelar yang kerapkali membuat kita takut saat mendengarnya. Banyak hal yang terpikirkan ketika menyangkut soal pemimpin: Kekuasaan, tanggung jawab yang sangat besar, serta tuntutan yang sangat banyak. Banyak orang yang mundur seribu langkah ketika diminta menjadi pemimpin. Andakah salah satunya?

Begitu besarnya hal-hal yang harus dihadapi seorang pemimpin pasti membuat mempertimbangkan kemampuan Anda dalam menanganinya. Sanggupkah Anda? Bagaimana dengan pemimpin-pemimpin besar yang tersohor karena sifat bijak dan adilnya, apakah mereka memiliki kemampuan itu dari lahir? Begitu banyak pertanyaan yang membuat Anda semakin ragu akan kemampuan seseorang menjadi sosok pemimpin. Padahal, semua orang bisa menjadi pemimpin! Tidak percaya? Simak pernyataan-pernyataan berikut dan temukan faktanya.

  1. Jiwa kepemimpinan itu bawaan lahir, dan saya tidak punya itu.

Memang benar, banyak orang yang terlihat secara natural sebagai seorang pemimpin. Dapat dilihat dari bagaimana ia menyikapi sesuatu dan sifat tanggapnya dalam memimpin sebuah situasi tanpa diminta. Menurut dr. Tim Elmore, terdapat dua jenis seorang pemimpin,yaitu “habitual leader” dan “situational leader”[1]. Habitual leader” adalah orang-orang yang disebutkan sebelumnya, yaitu orang yang cenderung baik dalam memimpin di keadaan apapun. Hal itu telah terbiasa di dalam dirinya. Orang-orang di sekitarnya pun senang akan keputusannya. Memang sangat beruntung memiliki jiwa kepemimpinan yang satu ini. Namun, jangan abaikan “situational leader”, yaitu orang yang tidak memiliki sifat natural sebagai pemimpin, namun akan ada situasi-situasi yang bisa mereka manfaatkan untuk menunjukkan kekuatan mereka. Pada kategori ini, semua orang bisa menjadi pemimpin. Silahkan pikirkan lingkup apa yang Anda kuasai dan Anda sangat mungkin untuk menjadi pemimpin di sana.

  1. Merasa introvert dan tidak bisa memimpin? Salah besar!

Salah satu paradigma yang dimiliki oleh masyarakat adalah seorang pemimpin haruslah orang yang vokal dan memiliki jiwa sosial yang sangat baik. Ini membuat para introvert ragu akan kemampuan mereka untuk memimpin. Kepribadian yang lebih fokus kepada perasaan internal daripada stimulasi dari lingkungan eksternalnya[2] ini memang cenderung pendiam dan pemalu, sehingga merasa sulit untuk menjadi pemimpin. Padahal, banyak sifat-sifat  dari para introvert yang sangat cocok untuk menjadi pemimpin. Di antaranya adalah sifat mereka yang tenang, memiliki kemampuan analisis yang baik, serta pendengar yang baik pula. Dan faktanya, sebagian besar orang introvert adalah orang-orang yang berpengaruh di lingkungannya. Secara rata-rata, pengaruh mereka dirasakan oleh 10000 orang selama hidup mereka![3] Tidak percaya? Pemimpin-pemimpin besar seperti Abraham Lincoln, Eleanor Roosevelt, Bill Gates, dan J. K. Rowling sudah membuktikannya.

  1. Hanya orang-orang yang memiliki posisi tinggi yang bisa menjadi pemimpin

Tidak semua sosok pemimpin adalah sosok yang berperan sebagai bos atau ketua di suatu organisasi. Anda tidak perlu menjadi CEO ataupun presiden untuk menjadi seorang pemimpin. Memimpin bisa dilakukan dimana saja, karena inti dari memimpin adalah mempengaruhi. Kepemimpinan dapat disisipkan di kegiatan apapun, baik ketika menyelesaikan masalah, melakukan pekerjaan, bahkan berjalan-jalan bersama teman-teman. Buang jauh-jauh definisi pemimpin yang harus di depan dan memerintah anak buahnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa apabila Anda kerap melatih kemampuan memimpin Anda di rutinitas sehari-hari, Anda dapat menjadi pemimpin besar di organisasi Anda.

  1. Menjadi pemimpin dapat dipelajari?

Jawabannya adalah: Ya, bisa. Faktanya, jiwa kepemimpinan hanya dipengaruhi 30% oleh faktor genetik[4]. Sisanya? Pengalamanlah yang menjawab. Kemampuan memimpin dapat dipertajam dengan kemauan diri yang besar serta usaha untuk mencapainya. Semakin anda termotivasi untuk menjadi pemimpin yang baik, kemampuan memimpin akan terus meningkat. Salah satu cara untuk belajar menjadi seorang pemimpin adalah menilai kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri Anda. Dimulai dengan menjawab tiga pertanyaan ini: (1) Apa kualitas yang harus dimiliki pemimpin? (2) Apa saya punya kualitas itu? (3) Bagaimana cara mendapatkan kualitas itu?[5]. Jika anda sudah dapat menjawabnya, tidak mustahil untuk Anda menjadi pemimpin yang semakin baik di setiap harinya.

  1. Saya punya keterbatasan. Bisakah saya memimpin?

Salah satu hal yang membuat diri enggan untuk maju menjadi seorang pemimpin adalah ketidaksempurnaan yang kita miliki. Tak perlu mengkhawatirkan hal itu. Faktanya, banyak pemimpin-pemimpin yang memiliki berbagai keterbatasan namun tetap dihormati. Sebut saja Franklin D. Roosevelt, mantan presiden Amerika Serikat yang mengalami lumpuh akibat polio, Gabriela Michetti yang merupakan wakil presiden Argentina saat ini yang mampu memimpin negaranya diatas kursi roda, serta mantan presiden Indonesia yang pasti belum hilang dari ingatan kita, Abdurrahman Wahid. Mereka adalah beberapa dari banyaknya pemimpin yang tetap dipercaya meski dengan keterbatasan mereka.  Jika mereka bisa, kenapa Anda tidak bisa?

Sudah tidak diragukan lagi, siapapun Anda, Anda bisa menjadi seorang pemimpin. Siapkah Anda untuk menghadapinya?


Sumber Data Tulisan (sertaan daftar pustaka atau footnote)

1,3 disadur dari artikel “Is Everyone A Leader?” situs Psychology Today  https://www.psychologytoday.com/blog/artificial-maturity/201402/is-everyone-leader

2 pengertian “introvert” disadur dari artikel “5 Signs You Are an Introvert” situs Verywell https://www.verywell.com/signs-you-are-an-introvert-2795427

4,5 disadur dari artikel “ Can Leadership Be Learned or Are You Born with It?” situs Psychology Today https://www.psychologytoday.com/blog/the-squeaky-wheel/201502/can-leadership-be-learned-or-are-you-born-it

Featured Imaged Credit: http://thepointva.com/am-i-a-leader/

Total
39
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: