Sindrom Peter Pan : Lelaki yang Tidak Ingin Menjadi Dewasa

Pernahkah kamu menjumpai anak lelaki yang masih bertingkah seperti anak kecil di usia remajanya? Ia manja, tidak bisa mengatur diri sendiri, ataupun bertindak sesukanya. Ketika ini terjadi pada lelaki berusia 12-15 tahun, mungkin masih dianggap wajar karena sedang proses menuju dewasa. Akan tetapi, apa yang terjadi bila ini dialami oleh laki-laki usia 17 tahun ke atas? Mungkin saja lelaki itu memiliki Sindrom Peter Pan!

Takut Menjadi Dewasa

Tumbuh menjadi dewasa dipandang sebagai hal yang menakutkan. Orang dewasa dianggap harus mampu menghadapi kesulitan ataupun tantangan yang menyakitkan, bertanggungjawab atas banyak hal, dan terbatas dalam menentukan pilihan kehidupan.

Ditambah lagi, munculnya pernyataan yang sering diucapkan seperti, “Kamu akan memahami perihnya kehidupan saat dewasa nanti” atau “Nikmatilah masa mudamu karena nanti saat menjadi dewasa, kamu akan merasakan betapa kerasnya hidup.”

Tanpa disadari, pernyataan-pernyataan seperti itu memberikan pengaruh cukup mendalam bagi anak. Pengaruh itu akan semakin kuat dirasakan bila ditambah dengan sikap mengeluh dari orang dewasa di depan anak. Anak seperti menangkap gambaran bahwa tidak perlu tumbuh menjadi dewasa karena nanti akan menderita.

Ketidakinginan anak lelaki untuk menjadi dewasa inilah yang dikenal sebagai Sindrom Peter Pan. Mereka tidak ingin melakukan apapun yang berhubungan dengan sekolah, pekerjaan, atau apapun yang menuju dewasa. Mereka juga layaknya menikmati perannya sebagai anak kecil untuk menghindari beban yang dirasakan orang dewasa.

Orang dengan Sindrom Peter Pan akan merasakan masalah psikologis yang mendalam nantinya. Masalah ini mengarah pada ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri secara sosial, tidak mampu merasakan emosi, dan tidak cakap dalam menjalin relasi dengan orang lain. Selain itu, mereka akan merasa terasingkan dan terabaikan karena masyarakat tidak bisa menerima kondisi orang dengan Sindrom Peter Pan.

Gejala Sindrom Peter Pan

Berikut ini merupakan gejala-gejala yang muncul selama proses perkembangan anak laki-laki, yang dapat memicu timbulnya Sindrom Peter Pan.

Ketiadaan Rasa Bertanggung Jawab

Sikap permisif dalam membesarkan anak yang berarti menghindari hukuman dan dominasi, serta tidak menetapkan atau menerapkan batasan, seakan mengajarkan tidak ada rasa bertanggung jawab pada anak. Ketiadaan rasa bertanggung jawab secara penuh ini membuat anak yakin bahwa peraturan itu tidak berlaku padanya.

Kebiasaan yang berkenaan dengan perawatan diri saja sulit dilakukan. Sebagai contoh, kebersihan, ketertiban, dan sopan santun. Mereka akan kesulitan untuk menangani hal besar jika tidak pernah tahu cara menangani hal kecil.

Kecemasan

Orang dengan Sindrom Peter Pan dipenuhi oleh kecemasan. Kecemasan ini telah dirasakan sejak kecil dan disebabkan oleh ketidakbahagiaan orangtua. Ketidakbahagiaan orangtua yang merasa tidak puas dengan pernikahan dan dirinya masing-masing.

Beberapa alasan dari ketidakbahagian orangtua adalah kurang merasakan kehangatan emosional dan rasa saling berbagi, ketidakseimbangan antara kerja dan peran di keluarga, disiplin diri yang rendah, serta kekacauan peran dan nilai dalam keluarga.

Ayah cenderung akan menunjukan kesan sebagai lelaki yang kuat dan mengekspresikannya dengan kata-kata biasa. Contohnya, “Okee, kamu akan baik-baik saja” atau “janganlah merasa kasihan pada dirimu sendiri.”. Kata-kata ini diberikan terhadap anak di tengah ketidakbahagiaan yang dirasakan dalam keluarga.

Akibat dari tindakan ayah yang seperti itu, ada kerengganan antara anak lelaki dengan sosok ayah. Anak melihat ayah sebagai sosok yang membingungkan dan tidak pernah bisa mengungkapkan rasa cinta dan penerimaan pada orang lain.

Sementara itu, ibu berusaha diam tetapi gagal. Ibu berpura-pura merasa puas dengan pernikahannya seolah mengorbankan hidupnya demi anak. Ibu tidak menginginkan apapun untuk dirinya sendiri, kecuali kebahagian anaknya. Akan tetapi, anak malah merasa terasingkan dan sengsara.

Anak cenderung ingin menyalahkan ayahnya atas ketidakbahagiaan yang dialami keluarga. Akan tetapi, ia tidak bisa melakukannya karena membutuhkan kasih sayang dari Ayah. Akhirnya, ia malah menyalahkan dirinya sendiri karena melihat ibunya memiliki alasan yang tepat untuk menolak kehadirannya.

Banyak orangtua yang berpura-pura bahagia karena merasa takut untuk menghadapi perasaan mereka dan kebenaran. Mereka memilih untuk tidak membicarakannya dan memutuskan untuk tetap bersama demi anak. Padahal ini, bukanlah cara yang tepat. Anak malah menderita dan diikuti oleh kecemasan selama hidupnya.

Kesepian

Orang dengan Sindrom Peter Pan biasanya tumbuh di keluarga yang terlalu kaya untuk kebaikan mereka sendiri. Orangtua pun terbiasa memberikan uang daripada waktu mereka. Situasi ini menyebabkan anak tidak pernah belajar bagaimana caranya memperoleh uang. Malahan anak menemukan cara untuk membeli kesenangan dengan uang. Bila terus dibiarkan tanpa ada batasan yang jelas, akan berdampak buruk bagi anak.

Meskipun memiliki banyak uang, anak merasa tidak aman ketika di rumah. Hal ini mendorong keinginan anak untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok. Mendapat identitas dari kelompoknya serta rasa memiliki dalam kelompok tersebut.

Akan tetapi, anak ini malah dimanfaatkan oleh teman dari kelompok itu sendiri. Semuanya seakan bisa dilakukan dengan uang agar tetap diterima di kelompok itu. Ketika rasa memiliki ini hilang, maka kesepianlah yang dirasakan.

Konflik Peran

Ada ketidakseimbangan dalam harapan peran pada lelaki dan perempuan. Lelaki diharuskan untuk berperan sebagai lelaki yang kuat untuk diterima di kelompoknya. Tidak diperbolehkan sama sekali untuk bertindak seperti perempuan. Sebagai contoh, mengungkapkan apa yang dirasakan, mengakui kelemahan dalam dirinya, atau tidak boleh bergantung pada perempuan.

Sementara itu, perempuan diperbolehkan untuk menunjukkan sifat-sifat yang maskulin, namun tidak terbatas pada ketegasan, ketangguhan, dan mandiri secara finansial. Secara sosial maupun politis pun menerima akan hal ini.

Anak lelaki yang tidak mendapat dukungan dari keluarganya memiliki dua pilihan. Pertama, tidak pernah menunjukkan sikap yang dianggap sebagai kelemahan serta tidak mengakui jika merasa kesepian dan terasingkan. Kedua, memilih untuk keluar dari stigma ini dan berani menunjukkan sisi feminin yang ada dengan bergabung pada kelompok yang menyetujui hal ini.

Narsisisme

Narsisisme yang dimiliki seperti mengunci anak laki-laki pada fantasinya sendiri dan menahan pribadinya untuk tumbuh yang berasal dari hubungan yang berarti. Narsisisme ini sebagai jawaban atas keinginan diri menjadi seseorang yang sempurna. Sifat-sifat dominan yang sering muncul pada narsisisme ini adalah eksploitatif dan rasa tidak bersalah.

Lelaki dengan Sindrom Peter Pan akan memanfaatkan teman atau kenalannya untuk mendukung kesempurnannya. Ketika hal ini tidak berhasil, maka ia marah dan mengintimidasi orang lain yang menyebabkan kegagalan ini. Rasa amarah inilah yang membuat dirinya terkucilkan dari hubungan dekat dengan orang lain.

Di sisi lain, ia juga tidak pernah mau disalahkan. Seberapa menganggu dan merugikan tingkah laku yang dilakukan, ia akan menunjuk orang lain yang dianggap lebih lemah untuk bertanggung jawab atas kesalahannya.

Sovinisme

Biasanya narsisisme memelopori sovinisme pada diri seseorang. Sovinisme ini berarti adanya perilaku heroik pada diri lelaki dan memandang perempuan itu tidak penting serta lebih rendah posisinya daripada laki-laki. Hal ini seperti menjadi cara untuk memproyeksikan ketidakamanan rasa dirasakan terhadap orang lain.

Pada awalnya, ketika menjalin hubungan dengan seorang perempuan, laki-laki ini akan bersikap sangat baik. Ia akan menunjukkan sikap yang menghargai  dan tidak mendiskriminasi perempuan. Akan tetapi, semua berubah saat terjadi masalah. Lelaki ini akan menunjukkan reaksi yang tidak bisa diprediksi dan merendahkan pasangannya.

Lelaki dengan Sindrom Peter Pan akan merasa kesal dengan pasangannya yang terlalu emosional dan menganggap itu sebagai hal yang bodoh. Kemudian, ia akan meminta pasangannya untuk berhenti emosional dan diam. Pada akhirnya, perempuan harus menahan emosinya agar tetap berdamai dengan lelaki tersebut.

Sovinisme membuat lelaki berpikir bahwa kekurangan dalam dirinya adalah salah perempuan. Permasalahan yang terjadi karena perempuan memanfaatkan kebaikan dan kemurahan hatinya. Hal ini kemudian menyebabkan sifat tidak berperasaan pada lelaki ini.

Mereka Tidak Sadar itu adalah Masalah

Lelaki dengan Sindrom Peter Pan seringkali tidak menyadari jika hal-hal yang dilakukannya adalah sebuah masalah. Selain itu, menggunakan cara-cara tersebut untuk menghindari rasa sakit yang pernah dirasakan dan berpura-pura bahwa mereka telah menjadi orang dewasa. Mereka menikmati permainan yang mereka lakukan tanpa melihat akibat yang ditimbulkan.

Ada dua cara untuk menyadarkan mereka, yaitu

  • menyadarkan mereka terhadap konsekuensi yang akan datang, bahwa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan mereka selain menjadi dewasa
  • seseorang yang sangat penting bagi mereka berhenti untuk terlalu melindungi atau membiarkan dipermainkan oleh mereka

Pengaruh keluarga, terutama orangtua dalam membesarkan anak laki-lakinya ternyata memiliki andil cukup besar terhadap proses kedewasaannya. Andil ini juga termasuk pada kemungkinan munculnya Sindrom Peter Pan pada diri anak laki-lakinya.

Menjadi dewasa bukan suatu hal yang menakutkan dan dapat ditolak begitu saja. Justru, diri yang menolak untuk menjadi dewasa adalah tindakan yang akan merugikan diri sendiri untuk ke depannya. Rasa tanggung jawab pada orang dewasa bukan berarti melakukan hal yang tidak disukai dan berpura-pura menyukainya. Melainkan bagaimana kemampuan kita untuk merespon segala bentuk situasi yang ada dengan kebenaran dan ganjaran yang menyenangkan.

Total
55
Shares
%d bloggers like this: