Tujuan kami adalah membuat perangkat terbaik di dunia “ – Steve Jobs

Siapa yang tidak kenal Steve Jobs? Sosok dibalik salah satu raksasa teknologi yang mampu meraup keuntungan $18,4 miliar dalam kuartal pertama 2017 ini tentu tak asing bagi kita semua. Ialah Steve Jobs, co-founder Apple Computers yang lahir pada 24 Februari 1955 di San Francisco, California.

Walaupun ia telah tiada semenjak Oktober, 2011, begitu banyak rekam jejaknya yang masih menjadi inspirasi hingga sekarang, baik berupa buku, video, dan media lainnya. Kesuksesannya jelas membuat kagum banyak orang. Namun, siapa sangka bahwa kesuksesannya berawal dari pribadi perfeksionisnya?

Seorang perfeksionis terkadang menyebalkan. Orang-orang di sekitar Steve Jobs sepakat akan hal itu. Jobs kerap disebut sebagai orang yang kasar, pendendam, musuh, dan panggilan buruk lainnya. Ia tak akan menyetujui apapun yang ia anggap tidak sempurna.

Ia percaya bahwa setiap objek yang berkaitan dengan konsumen, tiap titik dari objek tersebut haruslah sempurna, walaupun itu tak terlihat. Tentu saja melelahkan menjadi pegawainya. Meskipun begitu, Jobs mengerti apa yang ia lakukan.

Jobs terobsesi dengan hal-hal detail. Ia mencetuskan ide kipas internal di dalam mesin hanya karena ia terusik dengan keanehan dan keberisikan kipas eksternal. Ia ingin mendesain ulang motherboard Mac agar semua terlihat elegan. Butuh 6 bulan bagi Jobs untuk menyetujui cara kerja scroll bar pada OS X.

Jobs memaksa agar iklan Apple di majalah haruslah dicetak dengan 6 warna. Detail-detail kecil seperti itu yang terus dituntut oleh Jobs ketika menjalankan bisnisnya. Perfeksionismenya jelas berpengaruh besar terhadap seperti apa produk-produk Apple saat ini.

Alasan mengapa produk-produk Apple digemari berbagai kalangan adalah rasa yang dihadirkan oleh produk tersebut kepada siapapun yang membelinya: eksklusivitas. Produk-produk Apple muncul sebagai produk dengan integritas dan orisinalitas tinggi, meskipun harus merogoh kocek lebih dalam untuk itu.

Ya, tidak hanya para konsumen yang merasa demikian, ternyata Jobs pun tidak segan-segan untuk membayar mahal untuk modal produknya sendiri. Perusahaannya memiliki pabrik, disk drive, kabel, dan soket listrik yang unik dan tidak mengikuti standar pada umumnya. Seluruh keunikan tersebut merupakan hak cipta milik Apple. Begitu pula dengan perangkat lunak yang digunakan. Semua harus serba Apple.

Efek perfeksionisme Jobs tidak berhenti sampai di situ. Caranya menyikapi produknya berhasil menciptakan ekosistem pasar baru bagi industri teknologi. Apple tidak seperti teknologi-teknologi lain yang saling berkolaborasi dan mudah dimodifikasi. Apple mampu berdiri tegak bersama kesetiaan penggemarnya, dan membuatnya semakin kuat.

Tak selamanya ketat, kadang Jobs masih berbesar hati untu melonggarkan kendalinya akan segala hal terkait produknya. Nyatanya, lebih dari 400.000 aplikasi-aplikasi iPhone dikembangkan oleh pengembang aplikasi dari luar Apple. Aplikasi-aplikasi tersebut tak lepas dari pengawasan Jobs. Ia berpendapat bahwa, mengatakan “tidak” pada sebuah ide sama pentingnya dengan menyetujuinya.

Sifat perfeksionis menjadikan Jobs sebagai sosok inspiratif hingga sekarang. Terbukti bahwa Apple tumbuh besar menjadi perusahaan paling bernilai bukan karena Jobs hanya menciptakan perangkat yang fungsional, namun ia menanamkan seluruh hati kedalamnya—bahkan ke sudut terkecilnya. Ternyata, hal-hal kecil dapat berdampak begitu besar, ya?


Sumber data tulisan

Data penjualan Apple didapat dari “Apple Pecahkan Rekor Pendapatan & Penjualan iPhone di Kuartal 1 2017” tulisan MakeMac http://www.makemac.com/apple-pecahkan-rekor-pendapatan-penjualan-iphone-di-kuartal-1-2017/

Cerita hidup Steve Jobs disadur dari :
“HOW STEVE JOBS CHANGED“ tulisan Jamse Surowiecki pada The New Yorker http://www.newyorker.com/magazine/2011/10/17/how-steve-jobs-changed ,

“The Crazy Perfectionism That Drove Steve Jobs “ tulisan Rebecca Greenfield pada The Atlantic https://www.theatlantic.com/technology/archive/2011/11/crazy-perfectionism-drove-steve-jobs/335842/

“Steve Jobs the Patron Saint of Perfectionists “ tulisan Saul Hansell pada TechCrunch https://techcrunch.com/2011/08/24/steve-jobs-the-patron-saint-of-perfectionists/

Sumber foto:
http://www.boomsbeat.com/articles/13/20131231/50-facts-that-you-didnt-know-about-steve-jobs.htm

%d bloggers like this: