Sudah Saatnya Tak Lagi Memendam Masalah Sendirian

“…ini merupakan hal yang penting untuk diingat bahwa kamu tidak sendirian.” – Anonim

“Hari ini aku depresi banget nih.”
Dengerin lagu sedih jadi bikin depresi.”

Mungkin kita sering mendengar atau membaca kalimat tersebut dari omongan atau status teman kita di media sosial. Seakan menganggap depresi sebagai sesuatu yang ‘enteng’ dan lumrah terjadi. Namun, di sisi lain, terkadang gangguan mental atau gangguan psikologi, seperti depresi, masih menjadi sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan. Sebab masih ada stigma negatif terhadap orang-orang yang mengalami depresi sehingga mereka jarang membuka diri mereka yang mengalami depresi.

Depresi merupakan gangguan psikologi yang paling umum terjadi tetapi sering tidak disadari oleh kebanyakan orang yang mengalaminya. Walau tidak jarang, banyak juga orang yang menduga dirinya mengalami depresi. Seperti yang telah diketahui, seringkali orang dengan depresi dianggap sering mengalami perasaan menyedihkan, padahal yang dialami orang dengan depresi lebih dari itu. Orang dengan depresi tidak hanya mengalami rasa sedih tetapi juga kehilangan minat untuk melakukan berbagai aktivitas, juga sering merasa sendiri. Namun, bukan berarti orang yang memiliki ciri-ciri tersebut termasuk orang yang mengalami depresi. (Baca juga: http://pijarpsikologi.org/depresi-apa-sih-ciri-cirinya/)

Seperti kebanyakan gangguan psikologi lainnya, orang dengan depresi juga sering dianggap sebelah mata dan ada stigma negatif tersendiri di masyarakat. Tidak heran jika banyak orang yang tidak mengakui dirinya mengalami depresi. Sebab takut dicap negatif, takut disalahkan, dan berbagai ketakutan lainnya yang justru berpotensi ‘memperparah’ depresi yang mereka alami. Padahal orang dengan depresi hanya membutuhkan orang lain sebagai tempatnya bercerita. Namun, ketika orang dengan depresi mau membuka diri, orang lain justru tidak menyadari dirinya mengalami depresi bahkan menganggap remeh. Pada akhirnya, orang dengan depresi hanya menyimpan ‘depresinya’ sendiri, tanpa mau bercerita kepada orang lain.

Sebagian orang dengan depresi menggunakan berbagai media untuk mencurahkan kegundahan hatinya. Seperti menulis di media sosial atau media lainnya, melukis, dan hal-hal lainnya seperti yang pernah dilakukan Winston Churchill, seorang penulis yang juga politikus.

Selain Winston, ada juga seseorang yang selama enam bulan tidak ingin bercerita tentang dirinya yang mengalami depresi. Namun, dengan tidak menceritakan tentang dirinya kepada keluarga dan teman dekatnya, dia justru menjadi orang yang dingin. Sebab dia berpikir bahwa tidak seorang pun yang mempercayainya. Lalu ketika pikirannya semakin gelap, dia sadar bahwa dirinya harus speak up, bercerita kepada teman dekatnya tentang dirinya yang mengalami depresi. Alasan lainnya agar orang lain, terutama orang terdekat tahu bahwa dirinya sedang berhadapan dengan depresi.

Bagi orang dengan depresi, bercerita atau tidak bercerita kepada orang lain atau media lainnya mempunyai dampak yang berbeda. Seperti dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh salah satu universitas di Amerika Serikat menyebutkan bahwa ada berpuluh ribu foto bertagar depression di Instagram. Foto-foto tersebut menggambarkan perasaan dan pikiran orang dengan depresi, bahkan 41% di antaranya mendapat komentar positif yang menunjukkan adanya dukungan dari orang lain. Dari banyaknya foto yang terunggah di media sosial menunjukkan bahwa orang dengan depresi memang membutuhkan ‘tempat’ untuk bercerita. Namun, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, orang dengan depresi takut dicap negatif oleh masyarakat, pun malu dengan kondisinya.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa orang dengan depresi harus menceritakan tentang dirinya kepada orang lain. Terkadang orang melakukan ini bisa secara langsung atau melalui sosial medianya. Selain untuk mencurahkan perasaannya, juga agar orang di sekitarnya lebih peka dengan keadaan dirinya. Hal ini juga dilakukan agar orang dengan depresi tahu dirinya tidak sendirian dan orang lain dapat membantunya melawan depresi.

Harus disadari, jika ada orang-orang dengan frekuensi postingan bernada sedih yang cukup sering, sudah saatnya Anda peka dengan kondisinya. Coba dekati sehingga yang bersangkutan tidak merasa sendiri dan merasa ada yang masih peduli padanya. Hindari perilaku berburuk sangka pada orang-orang yang sering membuat postingan sedih di akun sosial media mereka. Mereka butuh kepekaan Anda untuk memahami bahwa mereka butuh orang lain namun tidak tahu kemana harus mencari.

Selalu ingat, setiap orang sedang memperjuangkan banyak hal dalam hidup mereka di luar sepengetahuan Anda. Hal terakhir yang mereka butuhkan adalah label menjerumuskan dari Anda, seperti “orang galau”, “orang lemah” dll.


Referensi:
1The Joint Commission. 2004. What You Should Know About Adult Depression.
2Ramadhan, Adhitya. 2017. “Curhat” Membuat Kita Sehat. Diakses dari https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170409/282295320058433, pada tanggal 16 Mei 2017
3Harsono, Fitri Haryanti. 2017. Instagram, Ruang Aman bagi Pengguna yang Dilanda Depresi. Diakses http://health.liputan6.com/read/2880999/instagram-ruang-aman-bagi-pengguna-yang-dilanda-depresi, pada tanggal 16 Mei 2017
4Matthew. 2015. Speaking Up is the First Step to Overcoming Depression. Diakses dari http://youmatter.suicidepreventionlifeline.org/talk-about-depression, pada tanggal 16 Mei 2017/

Sumber Gambar: http://www.wallpaperup.com/uploads/wallpapers/2015/09/18/805515/big_thumb_e191b8d2d5c0f1820f1e12200ca53176.jpg

Apriastiana Dian Fikroti

Introvert, penyuka warna biru, ailurophilia, penikmat kata dan kopi

%d bloggers like this: