Suka Menonton Drama: Hidup dalam Dunia Drama atau Nyata?

Hidup layaknya sebuah drama atau drama layaknya kehidupan nyata?

Mungkin saja kamu pernah berkata, “Hidup itu tidak seindah drama di televisi. Terlalu berlebihan dan dibuat-buat. Lihat apa yang ada di depan mata dong!”

Akan tetapi, pernahkah kamu berpikir sebaliknya? Situasi dan kondisi yang terjadi dalam drama terasa begitu nyata di kehidupan. Sampai kamu berkata, “Iya ya, drama itu memang berdasarkan kehidupan nyata, bahkan bisa jadi pelajaran”.

Drama menjadi salah satu konsumsi hiburan bagi manusia. Bagi sebagian orang, drama seakan-akan menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan. Drama yang dimaksud dalam tulisan kali ini bukanlah drama di Indonesia, melainkan drama Asia (Korea, Jepang, Cina, Taiwan, Thailand) ataupun Barat.

Drama Asia maupun Barat memang memiliki penggemarnya sendiri di Indonesia. Ada yang menyukai keduanya, ada juga yang hanya menyukai salah satunya. Fasilitas tv kabel ataupun internet mempermudah masyarakat Indonesia untuk mengonsumsinya. Bila tidak bisa nonton di televisi, cukup streaming atau unduh saja melalui internet.

Kenapa Menonton Drama?

Berbagai alasan, mendorong seseorang untuk terus menonton drama. Keberagaman genre drama yang ditawarkan, membuat penonton merasa tidak mudah bosan. Penonton tinggal memilih saja genre drama yang disukai atau yang sedang sesuai dengan keadaan dirinya saat itu juga. Ada romance, romance comedy, thriller, work life, atau kehidupan era kerajaan.

Drama juga dianggap sebagai media hiburan maupun pembelajaran. Drama menjadi suatu hal yang dicari saat seseorang merasa penat. Drama juga dapat menjadi pembelajaran bagi seseorang ketika harus berhadapan dengan situasi yang sama, seperti yang digambarkan dalam drama.

Menikmati Drama

Apabila kamu termasuk penggila nonton drama, pernahkah merasa seakan-akan kehidupan nyatamu tercampur dengan kehidupan drama? Kamu menjadi sulit membedakan mana situasi nyata dengan situasi yang kamu lihat dalam drama. Pikiranmu seolah-olah terasuki oleh apapun yang terjadi di drama. Sampai-sampai, kamu bermimpi sebagai salah satu tokoh di dalam drama.

Pengaruh drama terhadap kehidupan, memang bisa dirasakan selama kamu menyukai serta menikmati drama tersebut. Untuk menjelaskan kesenangan maupun kenikmatan terhadap suatu drama, teori disposisi memiliki andil dalam hal ini. Teori ini melihat kuatnya watak atau sifat yang menempel pada tokoh akan berpengaruh terhadap respons emosional yang ditimbulkan, sebagai hal yang diperlukan untuk mengetahui sukses atau tidaknya sebuah drama.

Teori disposisi juga menjelaskan,terdapat dua hal yang memengaruhi seseorang untuk menikmati drama. Dua hal tersebut ialah, disposisi afektif terhadap tokoh (penilaian penonton terhadap tokoh) dan hasil yang dialami oleh tokoh (keadaan akhir yang dialami tokoh).

Penonton akan lebih menikmati suatu drama ketika akhir cerita yang disajikan sesuai dengan yang diyakinin penonton dalam menilai tokoh yang berperan dalam drama tersebut. Sebagai contoh, bila tokoh itu berwatak baik, maka akan mendapat akhir cerita yang bahagia. Sementara itu, bila tokoh berwatak buruk, maka akan mendapat akhir cerita yang buruk pula.

Menafsirkan Tingkah Laku Tokoh

Sebagian penonton, terkadang membentuk kesan pada satu tokoh bukan karena sifat yang menempel pada diri tokoh tersebut. Mereka malah menilai berdasarkan gambaran fisik, gender, atau rasa yang terlihat pada tokoh tersebut. Hal ini dapat menjadi alasan timbulnya rasa suka atau tidak suka terhadap tokoh tertentu, tanpa melihat peran dan kepribadian dalam drama itu seperti apa.

Kemudian, penonton seringkali menafsirkan tingkah laku suatu tokoh berdasarkan harapan pada tokoh tersebut. Misalnya, kamu melihat tokoh Y sebagai sosok yang berani, tegas, dan pedas dalam berbicara. Ketika ada adegan Y yang berani protes dan mengutarakan kekesalan kepada atasannya, kamu merasa setuju dan senang akan adegan tersebut. Kamu memaklumi dan membela apa yang Y lakukan. Padahal, mungkin saja bila itu terjadi di kehidupan nyata, kamu belum tentu merespons serupa.

Penonton juga cenderung menerima hal buruk terjadi pada tokoh jahat yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Ketidakpedulian penonton terhadap nasib tokoh jahat dalam drama ini karena tidak ada ikatan emosional yang dirasakan antara penonton dengan tokoh tersebut. Oleh karena itu, bisa dilihat bahwa tidak ada emosi yang dirasakan maka tidak akan timbul kesenangan atau kenikmatan dalam menonton drama.  

Dua Unsur Pembentuk Teori Disposisi

Ada dua unsur utama yang membentuk teori disposisi, yaitu kesenangan dan empati. Kesenangan yang dirasakan merupakan hasil penilaian dari disposisi afektif. Disposisi afektif berarti ketertarikan yang muncul berdasarkan sifat atau kepribadian tokoh dalam drama. Selain itu, karakter moralitas pada tokoh juga turut mendorong ketertarikan. Setelah muncul rasa ketertarikan ini, akan berpengaruh pada rasa suka atau tidak suka pada tokoh tertentu.

Sementara itu, munculnya empati dikendalikan oleh disposisi afektif. Empati ini tidak akan muncul sampai disposisi afektif terbentuk. Dengan empati, penonton turut merasakan emosi yang ditunjukkan oleh tokoh dalam suatu drama. Ketika empati yang dirasakan semakin tinggi, maka akan mampu merasakan tingkat kesedihan yang lebih tinggi pula. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mengenali karakter yang ada dengan lebih mendalam lagi.

Bagaimana Drama Memengaruhi Pikiran Kita?
Pengaruh drama terhadap pikiran manusia dapat dijelaskan oleh teori kultivasi. Teori tersebut menyampaikan, penggambaran kenyataan di tayangan televisi membuat seseorang meyakini, seolah-olah kenyataan yang sesungguhnya dihadapi dalam kehidupan.  Dengan demikian, orang yang sering menonton drama akan memerkirakan realitas yang terjadi dalam hidupnya berdasarkan cerminan realitas yang ia lihat dalam drama.

Keyakinan terhadap cerminan realitas muncul ketika penonton memberikan perhatian penuh pada drama yang ditonton. Kemudian, ia akan memproses informasi yang didapatkan dan masuk dalam ingatannya. Semakin sering ia menonton drama, maka semakin banyak informasi serta rincian cerminan realitas sosial yang ia dapatkan. Pada akhirnya, memengaruhi persepsi yang ia miliki dalam memandang kehidupannya.

Beberapa Contoh

Sebagai contoh, kebanyakan drama Korea menceritakan tentang cinta yang romantis. Entah sesulit apapun hambatan yang ada, tokoh-tokoh yang ada dalam drama tersebut mampu untuk menghadapinya. Akhir cerita, mereka akan hidup bahagia bersama.

Ketika penonton sering menonton drama dengan genre seperti itu, maka ia meyakini hubungan romantis itu idealnya seperti yang digambarkan di dalam drama. Salah satunya seperti, bagaimana seharusnya seorang lelaki dan perempuan bersikap dalam menjalin hubungannya. Cara menghadapi konflik yang ada. Sampai akhirnya, bisa hidup bersama dengan bahagia.

Contoh yang lain, terlalu banyak menonton drama dengan genre kejahatan, dapat memengaruhi sikap seseorang dalam melihat kejahatan yang nyata di kehidupan. Satu sisi, kamu bisa saja memandang kekerasan atau kejahatan yang terjadi adalah hal yang wajar. Di sisi lain, kamu dapat bereaksi terlalu berlebihan karena merasakan kekesalan yang terjadi layaknya yang kamu rasakan saat menonton drama.

Penelitian yang dilakukan oleh Bumsub Jin dan Seongjung Jeong turut mendukung hal ini. Hasil penelitian tersebut menyatakan, anggapan individu untuk memiliki anak yang lebih sedikit dalam pernikahannya dipengaruhi oleh penayangan drama televisi yang dengan genre tertentu, yang fokus menggambarakan gaya hidup seperti itu.

Meskipun begitu, tidak berarti semua penayangan drama akan memengaruhi persepsi seseorang dengan mudah. Ada hal lain yang turut berpengaruh, seperti nilai hidup dan keyakinan yang dimiliki serta tempat tinggal. Bila ia menilai gambaran realitas dalam drama tidak benar, maka akan memperbaiki persepsi yang dimiliki dalam melihat situasi realitas yang serupa di kehidupan nyata.

Tetap Lanjut Menonton Drama?

Menonton drama sepertinya akan selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan. Menjadi salah satu kegiatan untuk mengisi waktu luang atau mencari hiburan. Akan tetapi, bukan berarti hidup kita sepenuhnya untuk drama. Hidup yang kita jalani juga tidak akan pernah sama seperti dalam drama.

Ada penulis skenario, sutradara, serta produser dalam menyelesaikan cerita sebuah drama. Seolah-olah, nasib tokoh dalam drama ada di tangan mereka semua. Berbeda dengan kehidupan nyata, Kitalah yang mengendalikan hidup kita, dengan bantuan yang Maha Kuasa serta orang lain yang ada bersama kita. Drama boleh memengaruhi jalan pikiran kita, namun baik atau buruknya untuk diterapkan adalah kebijakan kita untuk memilahnya.

Total
12
Shares
%d bloggers like this: