Taare Zamen Par : Yuk, Pahami Kehidupan Anak dengan Disleksia Lewat Film!

“Ungkapan ‘Pendidikan untuk Semua’ memiliki arti bahwa semua anak berhak atas pendidikan tanpa terkecuali. Namun, nampaknya banyak sekolah yang belum melaksanakannya.”

– Celetuk Nikumbh pada Kepala Sekolah.

 

Ibu guru kelas III A yang memanggil nama murid dalam kelas satu per satu sembari membacakan nilai. Ekspresi wajahnya mendadak berubah saat menyebut Ishaan Awasthi dan angka 3 yang ia peroleh. Kejadian itu terulang kembali, seorang guru dengan buku bertuliskan III A di tangannya tengah memanggil nama murid di dalam kelas satu per satu. Ekspresi wajahnya berubah pula saat memanggil Ishaan. Kali ini anak laki-laki bernama Ishaan itu memperoleh nilai 2. Lagi-lagi nilai Ishaan mengecewakan.

Ya, ini adalah kisah tentang Ishaan Awasthi.

Ia adalah seorang anak laki-laki berusia 8 tahun. Sehari-hari Ishaan tinggal bersama dengan kedua orang tuanya dan seorang kakak laki-laki yang sangat pintar. Kedua orang tua sering mengeluhkan perilaku Ishaan karena ia sulit untuk diatur, selalu menolak saat belajar, dan sudah dua tahun berada di kelas III A. Pada akhirnya, ia harus menerima tuntutan orang tuanya untuk pindah ke sekolah berasrama yang jaraknya cukup jauh dari rumah.

Bukannya memperbaiki sikap, Ishaan justru makin “berontak” di sekolah barunya. Hingga suatu hari datang seorang guru seni bernama Ram Shankar Nikumbh. Cara mengajarnya terasa lebih positif dan menyenangkan hingga membuat murid-murid merasa antusias. Namun, hanya Ishaan satu-satunya murid yang acuh padanya. Nikumbh menaruh rasa penasaran pada Ishaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu?  Lama-kelamaan Nikumbh mencari tahu lebih jauh tentang Ishaan. Ia berusaha mengorek informasi mengenai Ishaan. Sampai pada akhirnya ia pun tahu, ternyata muridnya itu mengalami disleksia (gangguan dalam memahami dan mempelajari kata).

Disleksia masih dianggap sebagai istilah asing bagi kebanyakan orang.

Padangan  negatif sering ditujukan pada orang dengan disleksia, tanpa ada keinginan untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi. Kesulitan seorang anak dalam belajar, terutama membaca dan menulis huruf sering dianggap sebagai suatu kesalahan anak. Orang tua justru sering mengasumsikannya sebagai perilaku anak yang malas. Hal inilah yang dialami oleh Ishaan. Kedua orang tuanya buru-buru men-cap Ishaan sebagai anak yang tidak pandai, suka membuat keributan, dan menyusahkan orang lain. Mereka tidak memahami kesulitan yang dialami Ishaan. Hal ini membuat orang tua Ishaan tidak mengetahui bahwa putranya mengalami gangguan dalam belajar (disleksia). Mereka  juga terlalu kesal hingga mengabaikan perasaan Ishaan. Keputusan mereka untuk memindahkan Ishaan ke sekolah berasrama nyatanya justru tidak membuat Ishaan bahagia.

Kedatangan Nikumbh ke rumah Ishaan kurang direspon dengan baik. Nikumbh berusaha mengawal pembicaraan langsung pada orang tua Ishaan mengenai kondisi Ishaan yang sebenarnya. Namun, nampaknya hal tersebut justru dianggap sebagai tindakan yang salah oleh Ayah Ishaan. Ia masih  saja beranggapan bahwa sebaik-baiknya anak adalah ia yang mampu menguasai pelajaran eksakta, seperti menghitung, membaca, dan menulis. Ia menuntut Ishaan agar menguasai hal tersebut. Ada satu hal penting yang justru ia abaikan. Ia mengesampingkan kemampuan luar biasa Ishaan dalam menggambar.

Pikirkan.. Setiap anak memiliki kecakapan yang unik, kemampuan, dan mimpi.”

– Nikumbh pada orang tua Ishaan

Pada akhirnya, memahami adalah kata kunci yang paling tepat dalam tiap sisi kehidupan.

Waktu menyimpan sebuah kejutan untuk Ishaan dan orang-orang disekitarnya.  Selama ini, Nikumbh selalu berusaha untuk  tetap mendampingi Ishaan. Ia tahu betul bahwa memahami dan mengembangkan potensi anak dengan disleksia bukanlah hal sederhana. Namun, ia tak bergeming. Semangatnya bahkan tak sedikitpun  surut. Sampai pada suatu hari sekolah asrama Ishaan mengadakan lomba mengambar antar siswa. Tak ketinggalan, Ishaanpun turut dalam lomba tersebut. Siapa sangka Ishaaan akan menyabet gelar juara, namun kenyataan telah membuktikannya. Goresan karyanya begitu indah dan imajinatif. Orang tuanya pun menyambut hangat seorang Ishaan dengan pelukan hangat. Mereka akhirnya mengetahui bahwa dibalik disleksia yang dialami Ishaan, ternyata ia memiliki potensi yang luar biasa.

Film ini begitu menyentuh dan menginspirasi, terutama untuk bidang pendidikan dan perkembangan. Tak heran bila banyak penghargaan yang berhasil diraup, seperti Best Film dalam Apsara Film Producers Guild Awards 2009 dan masuk nominasi Best Indian Film dalam Bombay International Film Festival 2008. Meski berdurasi nyaris 3 jam. Namun jangan khawatir, selingan lagu dan beberapa adegan komedi membuat film ini terasa lebih ringan untuk ditonton.

Kehidupan anak dengan disleksia digambarkan begitu jelas dalam film Taare Zamen Par. Bagaimana kesulitan anak memahami tiap huruf, apa yang anak pikirkan saat ia tak mampu memahami satu kata pun, serta bagaimana perasaannya ketika tak ada seorang pun yang mau memahaminya. Pun, dari sisi keluarga, kita mendapat gambaran nyata, bahwa untuk menerima kondisi anak yang terlahir istimewa bukanlah hal yang mudah. Perlu adanya kesabaran dan sikap positif dalam setiap prosesnya. Satu hal yang perlu disadari adalah rasa penerimaaan dan ketulusan dalam mendampingi merupakan jawaban atas cita dan masa depan anak. Jadi Sobat Pijar, Zamen Par sepertinya patut anda masukkan ke dalam daftar film yang akan anda tonton.


Informasi Seputar Film

Judul         :  Taare Zamen Par

Sutradara     : Aaamir Khan

Aktor         : Aaamir Khan, Darsheel Safary, Tanay Cheda, Sachet Engineer, Tisca Chopra, Vipin Sharma

Rilis         : Desember 2007

Produksi      : PVR Pictures and Aamir Khan Productions’

Durasi        : 140 menit

Featured Image Credits: www.taarezameenpar.com

By: Nisrina Putri U.

%d bloggers like this: