Tameng Itu Bernama Disosiasi

“Terkadang saya kembali melihat diri saya dalam cara yang berbeda dan itu menyebabkan masalah dan ketidakpuasan dengan diri sendiri.” – Maureen Brady

Setiap manusia pernah mengalami emosi negatif yang besar dalam dirinya. Emosi negatif tersebut dapat berasal dari keinginan kuat kita terhadap sesuatu tetapi tidak dapat dipuaskan. Penyebab lain emosi negatif adalah kecemasan akibat kelemahan-kelemahan yang kita miliki, baik fisik maupun secara psikologis.

Anna Freud, seorang psikolog Psikoanalisis, mengemukakan adanya mekanisme pertahanan diri yang terjadi secara tidak sadar untuk meredam emosi negatif agar tidak ditunjukkan dalam perilaku yang tampak1. Mekanisme pertahanan diri memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah disosiasi.

Perilaku disosiasi diartikan sebagai memisahkan memori atau emosi yang dirasa tidak menyenangkan dari kesadaran utama, seperti amnesia. Seperti mekanisme pertahanan diri lainnya, disosiasi terjadi secara tidak sadar2. Disosiasi dapat disebabkan oleh pengasuhan atau lingkungan rumah yang tidak berjalan baik, sering melakukan kekerasan, atau biasa dengan obat-obatan terlarang. Keadaan ini dapat mendorong munculnya disosiasi karena anak tidak dapat menghadapi kondisi tersebut dengan mudah.

Disosiasi ditandai dengan adanya depersonalisasi dan derasionalisasi. Depersonalisasi adalah perasaan bahwa seseorang tidak berada dalam tubuhnya dan tidak terhubung dengan jiwanya. Derealisasi adalah perasaan bahwa dunia dan lingkungan tidak nyata bagi seseorang3. Disosiasi dapat menjadi sesuatu yang membantu bagi orang yang mengalami trauma akibat kekerasan seksual atau eksploitasi.

Bagi orang-orang yang mengalami masalah tersebut, melupakan kejadian yang tidak ingin diingat atau tidak bisa diselesaikan sendiri dapat menjadi pertahanan yang sangat membantu. Meskipun demikian, jika disosiasi dilakukan terus-menerus sebagai mekanisme pertahanan, gangguan yang lebih buruk akan terjadi. Gangguan tersebut misalnya Dissociative Identity Disorder, atau yang lebih dikenal dengan kepribadian ganda2. Dengan demikian, penanganan lanjut dari ahli kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater perlu segera dilakukan.

Nah, kita sudah semakin dalam mengetahui apa itu disosiasi. Kita juga dapat menyimpulkan bahwa disosiasi yang berlebihan berpotensi menimbulkan masalah baru. Mengapa demikian? Perilaku disosiasi yang memisahkan kita dengan perasaan atau ingatan, perlu diselesaikan agar dapat bersatu secara utuh dalam keadaan sadar. Setelah kesadaran ini terbentuk, barulah kita meniti kembali masalah yang kita alami untuk diselesaikan.

Apakah ada cara untuk mencegah perilaku disosiasi? Pijar Psikologi punya beberapa saran yang dapat digunakan. Pertama, kita perlu mengenali diri kita dengan baik. Siapa diri kita, kelebihan, atau kekurangan dan tentunya mengakui apa adanya diri kita sehingga tidak perlu ada yang disembunyikan dari dunia luar.

Kekurangan bukan untuk ditutupi tetapi untuk diperbaiki, bukan? Cara kedua adalah menjalani hidup ini secara sadar dan sepenuhnya, fokus pada apa yang terjadi saat itu. Cara ketiga adalah jangan sungkan untuk meminta bantuan orang lain jika ada sesuatu yang membuat kita tertekan.

Bagaimana jika perilaku disosiasi terjadi pada orang-orang di sekitar kita? Sama seperti ketika kita meminta bantuan orang lain, kita juga perlu menyediakan diri untuk membantu orang lain. Cara-cara di atas bukanlah sesuatu yang mutlak tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Yuk, kita mulai dari sekarang!


Sumber data tulisan

  1. Disadur dari artikel yang ditulis oleh Susan Krauss Whitbourne, Ph. D yang berjudul “The Essential Guide to Defense Mechanisms” pada link https://www.psychologytoday.com/blog/fulfillment-any-age/201110/the-essential-guide-defense-mechanisms.
  2. Disadur dari artikel yang ditulis oleh Sandra L. Brown, M. A. yang berjudul “Dissociation Isn’t a Life Skill” pada link https://www.psychologytoday.com/blog/pathological-relationships/201211/dissociation-isnt-life-skill.
  3. Disadur dari artikel yang ditulis oleh Abigail Christine Wright yang berjudul “Dissociation as a Psychological Defense Mechanism” pada link http://www.sussex.ac.uk/broadcast/read/30878.

Sumber gambar: https://c.tribune.com.pk/2015/11/990201-image-1447340011-811-640×480.JPG

Annisa Ayuningtyas

Mahasiswa Fakultas Psikologi UGM

%d bloggers like this: