”Apa yang membuat seorang anak berbakat mungkin tidak selalu dengan nilai yang bagus di sekolah, tapi dengan cara yang berbeda dalam memandang dunia, dan belajar.”

– Chuck Grassley

           Orang tua akan merasa bahagia ketika mendapati anak mereka memiliki angka kecerdasan (IQ) yang tinggi, bahkan dikategorikan sebagai anak cerdas berdasarkan hasil tes yang sudah dijalani. Perasaan bangga bahwa anak memiliki kemampuan yang mumpuni dan lebih dari teman-teman sebayanya tentu banyak dirasakan orang tua. Namun perasaan gundah mulai muncul ketika anak justru kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Sementara itu semangat belajar anak juga menurun meskipun prestasi anak di sekolah cukup baik. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak? Jangan khawatir dahulu, konsultasikan pada psikolog, mungkin anak tersebut termasuk anak yang berbakat di sekolah!

Kenali Ciri Anak Berbakat

           Sulit untuk memberikan definisi yang tepat pada “anak berbakat”, karena makna berbakat berbeda bagi setiap orang. Anak berbakat yang akan diurai dalam artikel ini adalah anak yang berbakat di sekolah. Label berbakat dalam setting sekolah berarti anak memiliki kapasitas belajar yang lebih daripada anak lain seusianya. Selain itu anak juga mampu mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dalam satu atau lebih mata pelajaran atau kesenian tertentu. Label berbakat pada anak bukan sebagai label yang berkonotasi baik atau buruk, tapi lebih sebagai alat yang membantu para tenaga pengajar untuk memberikan jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Semakin memahami ciri dari anak berbakat, semakin bisa kita mengidentifikasi apakah anak tersebut berbakat dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Berikut beberapa karakteristik dari anak berbakat[1]:

  1. Memiliki kemampuan perhatian yang tidak biasa, bahkan dari masa balita. Anak biasanya menaruh perhatian lebih pada benda-benda yang ada di sekitarnya.
  2. Pembelajar yang cepat. Anak biasanya dapat dengan mudah mengerti mengenai pelajaran yang diberikan.
  3. Memiliki ingatan yang kuat.
  4. Memiliki kosakata yang luas dan mampu menyusun struktur kalimat dengan sangat baik bahkan di usia dimana anak lain belum mampu melakukannya.
  5. Menikmati pemecahan masalah, terutama yang berhubungan dengan angka dan puzzles.
  6. Memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap ekspektasi diri sendiri dan orang lain.
  7. Memiliki pemikiran yang abstrak, logis dan inovatif.
  8. Memiliki konsentrasi yang mampu bertahan untuk waktu yang lama.
  9. Memiliki keingintahuan yang tinggi
  10. Memiliki selera humor yang berbeda dari anak seusianya.

Bedakan: Anak Berbakat atau Anak Cerdas?

            Banyak orang yang salah mengartikan anak berbakat dan anak cerdas. Padahal hal ini bisa fatal akibatnya karena keduanya memerelukan perlakuan yang berbeda dalam pendampingan belajar. Beberapa hal penting yang membedakan antara anak berbakat dan anak cerdas[2] adalah:

  • Anak Cerdas Mengetahui Jawaban; Anak Berbakat Banyak Mempertanyakan

Anak cerdas dan anak berbakat memiliki kemampuan akademis yang hampir sama, namun yang membedakan adalah bagaimana mereka mengolah informasi yang mereka terima. Anak cerdas akan mengetahui kalau manusia hidup dengan bernafas. Namun anak berbakat tidak hanya berhenti di titik ia mengetahui sebuah fakta. Ia kemudian akan mempertanyakan apakah hal yang sama dilakukan makhluk lain untuk hidup.

  • Anak Cerdas Berusaha Keras untuk Bisa Berprestasi; Anak Berbakat Mampu Berprestasi tanpa Usaha yang Berarti

Untuk anak cerdas, suasana ruang kelas mendukung keinginannya untuk belajar keras. Ia akan menirukan gurunya dalam menjawab pertanyaan dan kegiatan akademis lain dan berusaha keras untuk bisa mendapatkan nilai terbaik. Sementara anak berbakat tidak termotivasi akan nilai yang tinggi. Anak berbakat cenderung akan mengembangkan caranya sendiri dalam mencari tahu mengenai banyak hal. Dalam hal lain, kemampuan nalar anak berbakat dan anak cerdas pun memiliki perbedaan. Ketika anak cerdas membutuhkan pengulangan materi sekiar 6-8 kali untuk bisa menguasai, terkadang anak berbakat hanya perlu 1-2 kali. Hal ini yang kemudian harus diperhatikan dalam pemberian materi pengajaran pada anak berbakat dan anak cerdas.

  • Anak Cerdas Menikmati Sekolah; Anak Berbakat Lebih Menikmati Belajar dengan Caranya Sendiri

Anak cerdas tertarik dan responsif ketika berada di sekolah, berbeda dengan anak berbakat yang cenderung lebih tertarik kepada hal lain yang lebih luas misalnya tentang keadaan iklim, cuaca atau hal lain. Anak cerdas akan menerima pelajaran dari guru apa adanya, sementara anak berbakat cenderung lebih menyenangi proses belajar yang dipraktikkan langsung. Misalnya ketika guru menjelaskan tentang rotasi bumi, maka anak berbakat akan menggerak-gerakkan jari-jari tangannya untuk menggambarkan proses tersebut. Anak cerdas akan menemui teman-temannya usai belajar, namun anak berbakat akan lebih memilih menemui guru atau orang dewasa lain. Anak cerdas akan menikmati bagaimana kurikulum berjalan, namun anak berbakat akan merasa keberatan menjalani kurikulum itu.

  • Anak Cerdas Memiliki Imajinasi yang Cukup Baik; Anak Berbakat Menggunakan Imajinasinya untuk Mencari Ide dan Inspirasi

Ide yang muncul dari anak yang cerdas akan cenderung lua biasa, namun ide yang muncul dari anak berbakat biasanya lebih orisinil atau inovatif. Anak cerdas mengerti akan lelucon yang dilontarkan teman-teman sebayanya, namun anak berbakat cenderung akan membuat leluconnya sendiri berdasarkan hasil pemikiran yang lebih rumit.

Masalah yang Biasa Dialami Anak Berbakat di Sekolah

           Sering kali anak berbakat mengalami masa-masa sulit di sekolah. Kesulitan yang dialami bukan berdasarkan hal akademis, namun dalam hal kehidupan di sekolah. Dari mulai interaksi di kelas, interaksi dengan guru bahkan teman-teman sebayanya. Pola pikir anak berbakat yang biasanya jauh di atas teman-teman sebayanya membuat anak berbakat terkadang kesulitan untuk bersosialisasi. Kurikulum yang disetarakan dengan anak normal lain pun menyulitkan anak berbakat untuk dapat berkembang, meskipun ini bukan menjadi hambatan bagi anak berbakat untuk mendapatkan nilai yang baik. Keingintahuan anak berbakat yang tinggi, mendorongnya untuk lebih mengeksplor pelajaran yang diterima di kelas, daripada hanya sekedar duduk di dalam ruang kelas dan mendengarkan guru. Hal lain yang mungkin muncul, adalah perilaku anak berbakat yang cenderung “menunggu” di kelas, karena ketika proses belajar berlangsung, anak cenderung memiliki pemikiran bahwa ia sudah mengerti akan apa yang dijelaskan oleh guru, sehingga anak lebih memilih untuk “menunggu” hingga tugas diberikan. Perilaku “menunggu” ini bisa menimbulkan dampak negatif dan positif. Dampak negatif akan muncul ketika anak menggunakan waktu “menunggu”-nya untuk mengganggu teman-temannya yang lain. Sementara dampak positif akan muncul ketika anak menggunakan waktu “menunggu”-nya untuk mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat, misalnya membaca buku atau mengerjakan tugas lain, atau bila tidak diijinkan oleh guru, anak akan tetap memperhatikan guru, namun pikirannya akan memikirkan hal lain.

              Masalah lain yang lebih kompleks bisa terjadi ketika anak berbakat menjadi sasaran perilaku bullying di sekolah. Anak berbakat yang cenderung akan menjauh dari teman-teman sebayanya, akan menuntun pada pengucilan dari anak-anak “normal” lain. Anak berbakat yang mengalami pengucilan kemudian akan dengan mudah menjadi sasaran bully oleh teman-teman sebayanya. Kasus yang pernah terjadi di sebuah sekolah di Amerika pada tahun 1999[3], sebuah penembakan terjadi di Columbine High School dimana pelaku penembakan adalah justru anak berbakat. Setelah diselidiki motif penembakan adalah akibat bullying yang diterima oleh pelaku dan menyebabkan anak berpikir untuk melakukan hal buruk pada pelaku bullying dan keinginan untuk melepaskan kemarahan yang selama ini dipendam.

          Dengan mengenal ciri anak berbakat dan mampu membedakannya dengan anak cerdas, tentunya akan memudahkan orang tua, pihak sekolah, dan pihak lain yang terlibat dengan anak dalam berkomunikasi di kehidupan sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri, anak berbakat tetap membutuhkan perhatian khusus, apalagi ketika ia mulai menyadari bahwa ia berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Pendeteksian anak berbakat sejak dini, tentu akan semakin memudahkan orang tua dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak, dan akan memudahkan pemilihan kebijakan apa yang harus diambil apalagi menyangkut proses akademis. Dengan demikian, anak berbakat tetap dapat menikmati proses dalam hidupnya meskipun ia sadar justru karena kelebihan yang ia miliki, yang menyebabkannya berbeda dari anak yang lain.


[1]Disadur dari website National Association for Gifted Children, sebuah asosiasi di Amerika yang mendukung peningkatan potensi pada anak berbakat dengan cara memberikan pelatihan kepada guru di sekolah, orang tua dan pihak lain yang terlibat bersama anak berbakat untuk dapat mendukung anak berbakat dalam banyak hal. Informasi diambil dari http://www.nagc.org/resources-publications/resources/my-child-gifted/common-characteristics-gifted-individuals

[2]Disadur dari website Psychology Today. Artikel ditulis oleh Christopher Taibibi, seorang spesialis di bidang pendidikan anak berbakat. Dipublikasi pada 29 Januari 2012 dengan judul asli artikel The “Bright  Child” vs the  “Gifted Learner”: What’s The Difference?

[3]Kasus diambil dari http://www.education.com/reference/article/gifted-children-bullying-victims-

 By: Ayunda Zikrina

Total
173
Shares

1 comment

Comments are closed.

%d bloggers like this: