“Disiplin adalah jembatan antara tujuan dan pencapaian.”

–Jim Rohn

Sebagai orang tua, Anda tentu menginginkan anak Anda untuk bisa disiplin dalam banyak aspek kehidupannya sehari-hari. Tidak hanya untuk urusan formal seperti sekolah, namun juga pada aktivitas-aktivitas sehari-hari sesederhana bangun pagi, mengembalikan mainan ke tempatnya usai bermain hingga pengaturan jam tidur malam. Bagi orang tua yang sudah berhasil menanamkan disiplin ini, tentu menjadi kemudahan tersendiri, karena biasanya anak sudah patuh pada jam jam tertentu ia harus melakukan apa. Sementara bagi orang tua lain, mungkin masih merasa kesulitan mengenai cara yang tepat membuat anak berperilaku disiplin.

Pada dasarnya disiplin di dasari oleh prinsip konsistensi dalam berperilaku. Namun harus ditekankan bahwa disiplin tidak selamanya berkaitan dengan kekerasan dalam proses penerapannya. Justru, menerapkan disiplin pada anak berkaitan dengan menguatkan ikatan antara orang tua dan anak. Disiplin sendiri juga harus bisa dipandang adil oleh anak, sehingga ketika menerapkannya, anak tidak didasari oleh keterpaksaan1.

Berikut ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu Anda dalam menerapkan disiplin pada anak. Tidak ada garansi bahwa tips di bawah ini bisa seratus persen efektif menjadikan anak Anda disiplin, namun tidak ada salahnya mencoba kan?

  1. Disiplin bukan berarti menghukum2

Pada dasarnya disiplin menjunjung tinggi proses “mengajarkan sesuatu” pada anak. Bukan “menghukum”. Jadi, sebisa mungkin hindari hukuman. Misalnya, anak Anda tidak membereskan mainannya usai ia bermain. Anda mungkin sudah kesal melihat rumah Anda berantakan dengan mainan anak Anda. Tahan dulu emosi Anda, jangan buru buru membentak anak untuk menyuruhnya membereskan. Panggil anak dan jelaskan baik-baik mengapa ia harus selalu membereskan mainannya setelah ia selesai bermain. Lalu ajak anak untuk membereskan mainannya. Jika besok anak Anda mengulangi hal ini lagi, ingatkan kembali atas apa yang sudah Anda jelaskan mengenai pentingnya membereskan mainan. Karena Anda ingin mengajarkan pentingnya menjaga kerapian rumah, maka jangan bosan terus mengingatkan anak jika ia masih mengulangi perbuatannya. Lama kelamaan, Anda tidak perlu lagi mengingatkan anak, karena ia sudah paham bahwa mainan yang berantakan akan mengganggu kerapian rumah.

  1. Bicarakan pada anak mengenai konsekuensi jika ia tidak berhasil menerapkan disiplin3

Sekali lagi, konsekuensi bukanlah hukuman. Daripada memukul atau membentak anak, bicarakan bersama anak mengenai konsekuensi yang akan ia dapatkan jika ia tidak disiplin. Misalnya, anak lalai meletakkan seragam sekolahnya yang kotor ke tempat cucian. Daripada menghukum anak, terangkan pada anak konsekuensi yang akan ia dapatkan jika ia lalai. Dalam kasus ini, tentu anak tidak akan memiliki baju seragam yang bersih untuk sekolah jika ia lalai meletakkan yang kotor ke tempat cucian. Membicarakan konsekuensi ini juga akan mendidik anak untuk lebih bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

  1. Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak menjadi faktor pendorong terciptanya perilaku-perilaku baik di rumah4

Jika anak-anak merasa Anda memperhatikan mereka dengan tulus maka kecil kemungkinan mereka akan melakukan penyimpangan penyimpangan perilaku. Misalnya, ketika Anda perhatian pada sekecil apapun aktivitas sekolahnya, maka anak biasanya akan mengerjakan PR tanpa Anda suruh, terbuka menceritakan kesulitan-kesulitannya di sekolah, belajar dengan baik di rumah, hingga aktivitas sesederhana mudah dibangunkan di pagi hari karena ia bersemangat untuk sekolah.

  1. Beri pujian pada anak jika ia berhasil mendisiplinkan dirinya sendiri4

Jangan pelit untuk memuji pencapaian diri anak. Misalnya, jika ia berhasil bangun pagi tanpa dibangunkan, ketika ia merapikan meja makan usai makan, atau hal hal kecil lainnya. Dengan demikian, anak akan terus semangat mempertahankan disiplinnya dan mudah bagi Anda untuk mendisiplinkan aktivitasnya yang lain.

  1. Pastikan Anda juga melakukan apa yang Anda minta anak Anda untuk lakukan

Anak adalah peniru yang ulung. Sebagai panutan utama, Anda sebagai orang tua harus waspada akan perilaku-perilaku Anda yang kemungkinan besar akan ditiru anak. Jadi, jika Anda menginginkan anak untuk bangun lebih awal, maka pastikan Anda juga demikian. Jika Anda menginginkan anak untuk disiplin meletakkan sepatunya di rak usai dipakai, pastikan Anda juga melakukan yang sama. Ini adalah cara yang paling sederhana untuk menerapkan disiplin karena Anda bisa dengan mudah mencontohkan diri Anda sendiri. Selain menimbulkan rasa hormat anak kepada Anda, Anda juga tidak perlu repot banyak meminta anak untuk harus melakukan ini itu. Terkadang tanpa Anda sadari, anak bahkan sudah mengikuti yang Anda lakukan sebelum Anda menyuruh mereka.

  1. Disiplin bukan hasil dari proses yang instan

Menerapkan disiplin tentunya butuh waktu. Jangan banyak memaksa anak untuk bisa disiplin dalam waktu singkat. Perkenalkan, awasi pelaksanaannya, lalu evaluasi.

  1. Mendisiplinkan anak membutuhkan ketegasan Anda. Bukan kekerasan!

Tegaslah pada anak dalam mengajarkan disiplin. Jika Anda sudah mengajarkan konsekuensi, pastikan konsekuensi itu yang akan diterima anak jika ia lalai dalam disiplinnya. Memberikan kelonggaran hanya akan membuat anak Anda semakin lama unutk bisa disiplin. Sekali lagi, tidak perlu ada kekerasan dalam proses pendisiplinan. Perilaku yang diharapkan dari proses disiplin adalah perilaku yang berdasar atas rasa aman, bukan perasaan takut akan hukuman5.

Menerapkan disiplin pada anak memang tantangan yang cukup besar. Namun, semua tentu ada hasilnya. Disiplin merupakan kunci kesuksesan anak di masa depan. Berhasil mengajarkan disiplin pada anak juga akan memudahkan Anda sebagai orang tua. Dan terakhir, tidak ada kata terlambat untuk mendisiplinkan anak. Jadi, siapkah Anda mendampingi anak Anda untuk menjadi pribadi yang disiplin?


Sumber Data Tulisan

  1. Disadur dari jurnal yang diterbitkan Canadian Paediatric Society pada tahun 2004 dengan judul Effective Discipline for Children
  2. Disadur dari artikel karya Sumitha Bhandarkar dengan judul “Positive Discipline 101: How to Discipline a Child in a Way that Actually Works!” http://afineparent.com/be-positive/positive-discipline.html
  3. Disadur dari penelitian oleh Valya Telep dari Virginia State University pada tahun 2009 dengan judul Discipline and Punishment: What is the Difference?
  4. Disadur dari jurnal yang diterbitkan American Academy of Paediatrics pada tahun 1998 dengan judul Guidance for Effective Discipline
  5. Disadur dari artikel karya Chip Ingram dengan judul Punishment versus Discipline. Artikel dapat dilihat di http://www.focusonthefamily.com/parenting/effective-biblical-discipline/effective-child-discipline/punishment-versus-discipline

Featured Image Credit: www.brainbalancecenters.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: