Jangan biarkan waktu menipumu, karena waktu tak bisa kau tahlukkan.” – W.H. Auden

Hari ini Budi mendapatkan tugas membuat esai 8 halaman dan harus dikumpulkan pekan depan.  Dirasa masih lama, ia pun tak lekas mengerjakannya dan justru asyik dengan serial tv favoritnya. Waktu pun berlalu dan Budi baru mengerjakan sehari sebelum esainya dikumpulkan. Alhasil, ia harus begadang semalaman bahkan harus izin les Bahasa Inggris di malam harinya.

Siapa yang merasa sering menunda-nunda pekerjaan maupun tugas? Ya, menunda pekerjaan yang juga biasa disebut prokrastinasi ini sudah lazim dilakukan oleh siapapun. Pada tahun 2007, 75% mahasiswa melakukan prokrastinasi dan 50% nya mengakui bahwa mereka sering melakukannya. Pada orang dewasa, ditemukan pula bahwa sebanyak 20% dari mereka adalah prokrastinor yang cukup parah(1).

 Prokrastinasi berasal dari dua kata dalam bahasa Latin, yakni pro yang berarti forward yang berarti maju dan “crastinus”  yang berarti  “belonging to tomorrow” atau milik hari esok. Sehingga apabila diterjemahkan keseluruhan menjadi “forward it to tomorrow atau “lakukan besok” (2).  Biasanya prokrastinasi memang dilakukan dengan menunda pengerjaan tugas/target yang seharusnya dapat dilakukan lebih awal.

Menunda-nunda pekerjaan tentu dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Perasaan sedih, menyesal, bahkan frustasi dapat dialami seseorang yang telah menunda pekerjaan. Dirinya merasa  bahwa seharusnya ia mampu mengerjakan tugas tersebut lebih awal dan lebih baik lagi. Hal tersebut tentu berdampak negatif terhadap kesehatan mental. Seseorang dapat mengalami stres yang berat dan kecemasan ketika terburu-buru dalam mengerjakan pekerjaanya. Bahkan ketika mengalami kecemasan, seseorang cenderung tidak fokus dan dapat meningkatkan kesempatan untuk mengalami kecelakaan (3).

Prokrastinasi memang identik dengan penundaan, akan tetapi tidak semua penundaan termasuk prokrastinasi. Mengapa? Karena pada beberapa keadaan, kita memang perlu menunda satu atau dua hal. Misalnya ketika ibu Budi sakit, Budi memang perlu menunda pengerjaan esai karena dia harus merawat ibunya. Seseorang baru dianggap melakukan prokrastinasi apabila dirinya sengaja menunda pekerjaan karena sesuatu yang tidak penting atau bukan prioritas, sekalipun ia mengetahui akibat buruk dari  penundaan tersebut (4).

Prokrastinasi semakin rentan terjadi ketika orang-orang yang impulsif dan memiliki regulasi diri rendah mendapatkan tugas yang tidak menyenangkan. Pierre Steel, seorang psikolog menambahkan bahwa para prokrastinator memiliki skor conscientiusness (kesungguhan) yang rendah pada tes kepribadian Big 5 Personality Test (5). Sementara itu, Timothy Pychyl dari Carleton University, Kanada menyatakan bahwa pada dasarnya prokrastinasi adalah permasalahan regulasi diri. Kita mengetahui apa saja yang perlu dikerjakan tetapi tidak dapat menggiring diri sendiri untuk melakukan usaha tersebut. Orang yang menunda-nunda pekerjaan juga menganggap aktivitas lain yang menyenangkan lebih berharga pada awalnya, dan tugas yang sulit menjadi semakin penting seiring dekatnya deadline(6).

Sering pula para prokrastinator menipu diri sendiri dengan mempercayai bahwa mereka dapat mengerjakan lebih baik dalam tekanan waktu. Menurut Joseph Ferrari, Ph.D, profesor psikologi dari De Paul Univeristy, Chicago mengatakan bahwa terdapat 5 kebohongan yang dipercayai oleh para prokrastionator antara lain(7) :

  • Merasa masih banyak waktu untuk mengerjakan tugas
  • Merasa hanya sedikit waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas
  • Merasa akan lebih semangat jika mengerjakan esok hari, minggu depan, bulan depan, dst.
  • Tugas akan semakin sempurna apabila dikerjakan saat benar-benar ingin mengerjakannya
  • Pengerjaan tugas  tidak akan optimal ketika  tidak berada dalam mood yang baik

Mengubah perilaku dan kebiasaan memang memerlukan waktu dan usaha untuk melakukannya. Joseph Ferrari, Ph.D memberi beberapa kiat untuk menghadapi prokrastinasi. Salah satunya adalah dengan membuat semua daftar aktivitas yang harus dilakukan tiap harinya. Selain itu, perlu juga menambahkan tujuan yang realistis dari setiap kegiatan. Masing-masing kegiatan pun perlu diperinci menjadi tugas-tugas yang lebih spesifik. Kita juga perlu mengestimasi berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam pengerjaan tugas dan menaikkannya menjadi dua kali lipat. Memberi reward pada diri sendiri ketika berhasil menyelesaikan tugas juga dapat membantu kita termotivasi untuk mengerjakan tugas. Kemudian untuk menghindari tertundanya tugas, dibutuhkan keberanian untuk menyingkirkan aktivitas lain yang tidak perlu dan sekiranya mengganggu. Hal ini penting karena seseorang bisa dengan mudah terdistraksi sesuatu yang kemudian membuat dirinya lupa akan tujuan utama.


Sumber Data Tulisan

  1. National Institute of Mental Health. (2007). Cell networking keeps brain’s master clock ticking. Retrieved from NIMH NIH.gov/science-news/2007.
  2. Diambil dari buku “Procrastination : Why You Do It, What to Do About It Now” oleh Jane B.Burka Ph.D & Lenora M.Yuen, Ph.D (2008)
  3. Lebih lanjut mengenai informasi dan efek dari prokrastinasi http://www.stopprocrastinatinginfo.com/effects-of-procrastination.htm
  4. Solving The Procrastination Puzzle, sebuah buku yang ditulis oleh Timothy A.Phycill tahun 2013.
  5. Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quintessential self-regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65-94.
  6. Why Wait? The Science Behind Procrastination oleh Eric Jaffe. psychologicalscience.org
  7. Lebih lanjut mengenai cara meenghadapi prokrastinasi, dapat dilihat di psychologytoday.com pada artikel “Ending Procrastination”  oleh Hara Estoff Marano https://www.psychologytoday.com/articles/200310/ending-procrastination

Featured Image Credit: tukangteori.com

By: A’yunin Akrimni

CAM00059A’yunin Akrimni, atau akrab disapa unin, adalah alumni psikologi 2010. Sekarang masih menjadi tutor bahasa inggris untuk anak-anak di sebuah komunitas di Yogyakarta. Hobinya adalah berenang dan bersepeda. Unin dapat dikontak di [email protected]

 

 

%d bloggers like this: