Terlalu Banyak Mengikuti Kegiatan Tambahan, Anak Rentan Alami Stres

“Belajar tanpa menyukainya hanya mengotori memori dan tak akan berbekas di dalamnya”- Leonardo Da Vinci

Program belajar anak di sekolah sekarang ini dirancang memiliki jam belajar dari pagi sampai sore untuk mengoptimalkan proses belajar pada anak baik dalam hal akademis dan kegiatan ekstrakurikuler. Banyak sekolah yang demi menjaga nama baik sekolah dan takut reputasi sekolahnya jatuh maka pihak sekolah mengadakan tambahan pelajaran untuk anak didik yang tertinggal. Pihak sekolah juga mengadakan tambahan pelajaran untuk anak-anak yang memiliki nilai akademis yang tinggi agar dapat mempertahankan nilainya dan diharapkan bisa ditingkatkan lagi.

Begitu juga orang tua, masih banyak orang tua yang tetap memberikan banyak les tambahan kepada anak dengan berbagai alasan seperti anak semakin mengerti materi yang diajarkan di sekolah dan takut anak ketinggalan pelajaran di sekolah. Tidak hanya mengikutsertakan anak dalam les mata pelajaran sekolah, anak-anak juga diikutsertakan beberapa les seperti musik, lukis, balet, bahasa inggris, dan sebagainya. Tujuannya agar anak serba bisa dalam berbagai bidang, mengoptimalkan bakat anak, dan tentu saja agar anak pintar dalam berbagai hal. Hanya saja apakah bidang les yang diikuti memang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan si anak? Ataukah hanya obsesi orang tua yang menginginkan anak untuk serba bisa dalam segala bidang? Sadarkah jika obsesi untuk menjadikan anak pintar justru malah membebani anak tersebut? Agar wawasan Anda semakin terbuka berikut akan dijelaskan lebih lanjut.

Tidak semua anak bisa bertahan dalam kondisi dengan jadwal yang padat
Bagi beberapa anak ada yang tidak dapat menyesuaikan diri untuk bertahan dalam kondisi jadwal yang padat. Jadwal yang padat justru akan membuat anak rentan terhadap stres, mengalami kejenuhan dan kelelahan sehingga membuat anak tidak belajar secara optimal di kelas dan di tempat les. Anak yang awalnya memiliki prestasi akademik yang baik justru bisa jadi menurun. Anak bisa enggan untuk belajar lagi karena merasa sudah karena tidak ada waktu istirahat untuk anak. Hal ini disebabkan anak terlalu diforsir untuk terus-menerus belajar.

Ketika anak memang siap maka proses belajar akan lebih baik
Jerome Bruner, psikolog pendidikan dan kognitif, mendukung pandangan “golden age” dengan mengatakan bahwa pelajaran apapun dapat diajarkan secara efektif pada anak dengan berbagai tingkat usia manapun. Hal ini membuat banyak pihak baik sekolah maupun orang tua yang optimis bahwa anak dapat belajar dengan cepat dan menangkap apapun yang dipelajari dengan baik. Padahal ada keterbatasan biologis dalam proses belajar pada anak. Sesuaikan sistem belajar anak dengan usianya. Jika anak dirasa memang telah siap maka proses belajar akan lebih baik dan anak akan belajar lebih optimal.

Anak-anak akan kekurangan waktu untuk bermain
Beratnya tuntutan akademik pada anak menyebabkan anak dituntut untuk memikul banyak beban belajar, memaksa anak untuk menguasai pelajaran dalam waktu cepat, mengikutsertakan anak pada bimbingan belajar atau les sehingga anak-anak tidak memiliki waktu bermain. Orang tua tampaknya justru merasa bangga jika anak-anaknya pintar dan menjadi seperti apa yang diinginkan orang tua. Tuntutan orang tua yang menginginkan anak-anaknya untuk pintar dalam berbagai hal justru membuat anak tidak dapat menikmati masa kanak-kanak mereka serta tidak memiliki waktu yang cukup untuk bermain.

Kenali kondisi anak Anda
Pemberian tambahan pelajaran seperti mengikutsertakan anak dalam kegiatan les tidak sepenuhnya buruk. Namun, yang menjadi masalah adalah orang tua terlalu menuntut anak untuk mencapai berbagai prestasi tertentu yang dirasa kurang realistis dibandingkan dengan kemampuan serta mengabaikan perasaan dan kondisi anak ketika menjalaninya. Memang benar dengan memberikan kelas tambahan dan tambahan les di luar jam pelajaran sekolah memiliki peranan yang penting untuk perkembangan anak dan membantu anak untuk mengasah potensi yang mereka miliki. Hanya saja jadwal kegiatan yang padat justru akan menyebabkan anak merasa jenuh, kelelahan secara fisik dan juga mental. Anak juga tidak menikmati kegiatan yang mereka jalani dan hal tersebut akan membuat anak rentan mengalami stres.

Orang tua juga harus tahu bahwa jangan marahi anak jika anak mendapatkan nilai yang tidak memenuhi standar, tapi bimbinglah secara baik-baik anak agar anak tidak tertekan. Memaksa anak dengan mengikutsertakan dalam berbagai banyak kegiatan justru tidak baik untuk anak, jika stres dampaknya anak akan memberontak dan setengah hati dalam belajar. Jika ingin mengikutsertakan anak dalam les pastikan anak bersedia dan sesuai dengan minat anak. Ingat yang belajar bukan Anda tapi anak Anda bukan? Jangan sampai hal yang Anda dan anak Anda lakukan jadi sia-sia.


Referensi:
1Susanna. 2011. Gambaran Stres di Bidang Akademik Pelajar dengan Sindrom Hurried Child di Sekolah Chandra Kusuma. Repository Universitas Sumatrea Utara

Sumber gambar: http://harves.es

%d bloggers like this: