“Jangan membenarkan hal yang sudah biasa, tapi biasakanlah untuk selalu hidup dalam kebenaran.”

– Lugas Anegah

Akhir-akhir ini kerap kita jumpai berbagai akun berbau psikologi di social media. Konten-konten tersebut pada umumnya berisi tentang cara membaca kepribadian, zodiak, hingga tes kecerdasan. Ragam bentuk tesnya pun sangat bervariasi dan cukup mudah untuk di lakukan sendiri, misalnya melihat garis tangan, menjawab sebuah pertanyaan yang cukup rumit, hingga menjawab beberapa pertanyaan sederhana untuk mengetahui kepribadian. Hal-hal seperti itu disebut dengan pseudosains atau pengetahuan yang belum teruji kebenarannya.

Apakah Anda termasuk orang yang percaya dengan hal demikian? Apakah hal tersebut memang dapat dibuktikan kebenarannya? Yuk intip jawabannya!

  1. Garis tangan dapat mengungkap kepribadian manusia.

Hal tersebut adalah mitos. Faktanya, untuk mengungkap kepribadian manusia diperlukan alat tes khusus yang tentunya telah teruji ketepatan dan konsistensinya. Tidak semua orang pula yang dapat menggunakan alat tes kepribadian ini. Untuk dapat menggunakan tes dengan efektif, perlu mengenal dasar-dasar konstruksi tes. Dalam hal ini orang yang berkompeten adalah psikolog.

  1. Tebakan gambar atau perhitungan angka rumit dapat mengetes kecerdasan manusia.

Pernahkah Anda menemukan sebuah akun yang berisi mengenai tebakan dalam bentuk angka atau gambar yang mengklaim dapat mengukur kecerdasan? Tentu saja hal ini adalah mitos! Kecerdasan tidak hanya dilihat dalam satu sisi. Thorndike, seorang tokoh dalam bidang Psikologi menuturkan bahwa inteligensi dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk kemampuan.  Yang pertama adalah kemampuan abstraksi, menggunakan gagasan atau simbol-simbol untuk bekerja dan menggunakan gagasan dan simbol-simbol. Kedua adalah kemampuan mekanik, suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan alat-alat mekanis dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan aktivitas indera gerak. Yang terakhir adalah kemampuan sosial yaitu kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri sendiri dengan cara-cara yang efektif. 

  1. “Posisi jari tangan saat mengepal maka dapat diketahui bagian otak mana yang lebih dominan”.

Sebaiknya Anda tidak mempercayai hal ini karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya.  Memang ada orang yang lebih dominan menggunakan otak kanan maupun otak kiri. Thurstone menyatakan ada enam kemampuan, yaitu verbal, numerik, spasial, kata, memori, dan penalaran. Kebanyakan orang memiliki kemampuan tersebut, perbedaannya terletak pada kemampuan mana yang lebih dominan.  Tentu saja masing-masing orang akan berbeda.

  1. Kemiringan tulisan tangan menandakan kepribadian seseorang

Mitos ini tak selamanya salah namun juga tidak selamanya benar.Ada bagian dari ilmu psikologi yang mempelajari tentang tulisan tangan atau  grafologi. Namun, syarat keterbacaan dalam grafologi pun harus memenuhi kaidah tertentu.  Keakuratannya perlu diuji dan melalu riset-riset yang tidak sebentar. Kesalahan interpretasi masih kerap dijumpai. Grafologi juga harus dilakukan oleh orang yang benar-benar kompeten. Lain halnya dengan pseudosains atau ilmu semu yang mengklaim bisa membaca kepribadian seseorang dalam waktu kurang dari lima menit dan tanpa dasar teori yang jelas.

  1. Sidik jari dan potensi seseorang

Mitos terakhir ini masih menjadi kontroversi di masyarakat luas. Ada yang mengatakan bahwa deteksi sidik jari adalah ilmiah, ada pula yang meragukannya. Secara neurologi belum bisa dibuktikan secara logis bagaimana keterkaitan antara jari-jari dengan bagian-bagian otaknya. Jadi dengan kata lain bukti ilmiah mengenai hal ini masih belum bisa dibuktikan.

Masih  banyak “pernyataan-pernyataan” kontroversial yang beredar di media sosial. Sebagai gudang informasi, media sosial menawarkan berbagai pengetahuan dengan cepat dan praktis. Namun tidak semua hal dapat dibuktikan keakuratannya. Baiknya, Anda tidak melahap hal-hal yang belum dapat dibuktikan kebenarannya begitu saja.  Mari menjadi lebih bijaksana dengan menyaring informasi dari media sosial!


Sumber Data Tulisan

Buku yang terkait dengan fungsi kognitif dapat dibaca dalam buku Saifudin Azwar (2014) yang berjudul Pengantar Psikologi Inteligensi yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar.

Dakwatuna.com/2014/02/06/45926/pseudosains-ancaman-dunia-sains/#axzz3jJCRTgyw

www.faktailmiah.com/2011/04/26/sidik-jari-dan-bakat-anak.htm

By: Dita Ayu Puspita

Featured Image Credit:

psikologid.com

%d bloggers like this: