Pertahankanlah arah pemikiranmu dan selalu jujur dengan apa adanya dirimu. Jangan pernah menjadi apapun selain dirimu sendiri.”

– Margaret Thatcher

Pernahkah anda merasa tidak percaya diri dan canggung dalam melakukan perubahan karena Anda adalah seorang wanita? Atau Anda merasa tak berdaya karena tidak memiliki dukungan? Jika iya, maka film  Film The Iron Lady akan membuka mata Anda. Film ini diilhami oleh kisah hidup Margaret Thatcher yang merupakan Perdana Menteri wanita pertama di Inggris1. Akhirnya riwayat Margaret diangkat menjadi sebuah cerita yang menginspirasi setiap wanita untuk senantiasa berjuang demi perubahan.

 Film The Iron Lady, bercerita mengenai kehidupan Margaret Thatcher (Meryl Streep) dari masa remajanya hingga masa tuanya yang sangat bergairah dengan kehidupan politik. Di masa mudanya, ketika wanita seusianya bersenang-senang, Margaret sibuk membantu orang tuanya menjalankan bisnis keluarga dalam berdagang. Saat ayahnya hidup dalam ruang politik, Margaret sering mencuri waktu untuk mendengar ayahnya berbicara di depan orang banyak. Hal tersebut berhasil membuatnya terinspirasi. Ia pun akhirnya menunjukkan gairahnya untuk meningkatkan perekonomian pedagang menjadi lebih baik dengan berpolitik.

Margaret dan Karir Politiknya

Di usia ke-24 tahun, ia gagal dalam meraih kedudukan menjadi seorang anggota parlemen untuk Dartford. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Dalam film tersebut, Margaret menunjukkan ambisi yang luar biasa untuk meraih sebuah kedudukan. Diskrimasi akan gender, menjadi salah satu hambatan kuat yang dipaparkan dalam film ini. Dinyatakan bahwa kala itu wanita tidak layak berpolitik. Hal tersebut tidak ia dengarkan. Ia tidak ingin menjadi seorang wanita yang hanya diam dan duduk manis di sisi suami, kerja di dapur serta bertugas mencuci apapun. Ia berpikir bahwa hidup seseorang harus bermanfaat dan lebih dari sekedar memasak dan mengurus anak.

Pada tahun 1959, setelah menikah dengan Denis Thatcher (Jim Broadbent) dan memiliki sepasang anak kembar, ia mencalonkan diri dan memenangkan posisi sebagai anggota parlemen untuk Finchley. Karirnya pun melesat, ia pun menduduki jabatan sebagai menteri pendidikan. Tahun 1974, dengan dukungan dari rekan-rekannya, Margaret mencalonkan diri menjadi Perdana Menteri Inggris. Namun suami dan anaknya menentang hal tersebut. Mereka melihat Margaret bukan lagi bertujuan pada pelayanan masyarakat namun ambisi dalam persaingan partai.

Margaret meyakinkan dirinya untuk tetap mencalon, dimulai dari mengubah penampilan, gaya bicara dan ‘blusukan’ di masyarakat dengan menyakinkan pengembangan bisnis kecil menjadi bisnis besar. Ia juga  mensejahterakan serikat pekerja untuk memajukan perekonomian masyarakat Inggris. Akhirnya ia berhasil menjadi Perdana Menteri Inggris.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang badai akan menerjang. Demikian hal yang terjadi pada Margaret, keputusannya banyak menjadi pro dan kontra. Setiap gagasan pemikiran dan ide-idenya menjadi pembicaraan hangat di kalangan pejabat. Pada puncaknya, terjadilah krisis perekonomian. Penolakan masyarakat terhadap Margaret mengakibatkan kerusuhan terjadi dimana-mana dan melakukan unjuk rasa agar ia turun jabatan. Setiap pergerakannya diikuti berbagai ancaman yang bahkan beresiko kematian, yang hampir saja menewaskannya bersama suaminya. Margaret pun tak gentar, bahkan saat berupaya untuk mengatasi krisis tersebut, ia pun juga bertanggung jawab melindungi sebuah pulau yang dipenuhi rakyat Inggris dan diabaikan pemerintahan. Hal tersebut menjadi konflik yang panjang diantara anggota pemerintahan, mereka menganggap tindakan Margaret terlalu berisiko dan akan menjatuhkan Inggris. Pada akhirnya, Inggris memenangkan perang dan bangkit dari krisis perekonomian, bahkan lebih dari apa yang dibayangkan, Inggris menjadi sorotan dunia.

Buah Kegigihan Margaret

Margaret membuktikan, bahwa pikiran kita akan membentuk diri kita. Ia merupakan seseorang yang selalu berpikir kritis dan berani mengambil risiko untuk melindungi rakyatnya. Dalam film ini, meskipun ia terlihat menghabiskan banyak waktu untuk politik, ia menyatakan bahwa satu-satunya hal tidak dapat dinegoisasikan adalah keluarga. Artinya, tanpa dukungan suami dan anaknya, dia bukanlah siapa-siapa. Film ini menunjukkan bahwa kita juga harus mampu melewati batas untuk mencapai impia,  bahkan saat orang lain melihat hal itu sangatlah tidaklah mungkin. Jangan fokus terhadap apa yang buruk, tetapi fokuslah terhadap yang baik. Siapapun kita, bagaimanapun latar belakang kita, jika yakin dan berusaha, maka hal tersebut akan mendekatkan kita pada langkah menuju keberhasilan. Jadi para wanita, siapkah kalian berkontribusi untuk lingkungan?


Sumber Data Tulisan

Informasi Film

Judul                    : The Iron Lady

Genre                   : Biografi, Drama, Sejarah

Sutradara          : Phyllida Lloyd

Aktor                    :   Meryl Streep (Margaret Thatcher)

Jim Broadbent (Denis Thatcher)

Alexandra (Young Margaret)

Harry Lloyd (Young Denis)

Iain Glen (Alfred Roberts)

Olivia Colman (Carol Thatcher)

Durasi                   : 1 jam 45 menit

Rilis                       : 13 Januari 2012

Bahasa                 : Inggris

Referensi

1 Biografi Margaret Thatcher http://www.biography.com/people/margaret-thatcher-9504796

2Informasi Film dikutip dari http://www.imdb.com/title/tt1007029/

Featured Image Credit: http://ecx.images-amazon.com/images/I/814NWlQB3HL._SL1500_.jpg

%d bloggers like this: