Membunuh seseorang secara sadis bahkan direkam lalu dibagikan ke media sosial?  Videonya pun banyak yang menonton. Rekaman video sadis itu bahkan malah memberikan ide untuk penontonnya agar melakukan hal yang serupa. Membunuh orang! Apapun alasannya membunuh seseorang bukannya melanggar hak asasi manusia? Tidak merasa berdosa kah orang tersebut? Membunuh orang kemudian direkam juga.

Film bergenre psycho-thriller  garapannya The Mo Brothers ini menceritakan tentang dua orang yang melakukan pembunuhan di berbeda negara dan saling melakukan komunikasi seperti rival sungguhan.  Pertama dari tokoh Nomura  diceritakan bahwa dia membunuh ayahnya dan ibunya setelah kecelakaan yang menimpa kakak perempuannya. Nomura sangat menyayangi kakaknya sehingga dia merasa sangat kehilangan dan depresi. Dalam mengatasi depresinya itu dengan membunuh orang-orang terdekatnya.  Perilaku membunuh itu sudah dilakukan sejak masih kecil.

Perilaku membunuh orang-orang tersebut adalah mekanisme untuk mengeluarkan rasa frustasinya akibat kehilangan sosok seorang yang dia sayangi. Hal ini sesuai dengan teori psikoanalisa milik seorang ahli psikologi, Sigmund Freud bahwa mekanisme pertahanan ego yang dilakukannya bernama displacement (penempatan yang keliru).

Mekanisme pertahanan ego ini dapat mengurangi perasaan yang menyakitkan akibat kehilangan seseorang yang sangat disayangi. Dengan membagi video pembunuhan yang dilakukannya dan dilihat banyak orang, membuatnya merasa senang dan puas.  Selain itu, dia juga menggunakan mekanisme pertahanan diri supresi, dimana dia sengaja menyembunyikan kecelakaan kakaknya keluar alam sadarnya dan memikirkan hal yang lain seperti pekerjaannya dan membunuh orang.

Menggunakan mekanisme pertahanan diri yang sering dan kaku akan semakin dekat dengan gangguan mental. Masalah akan muncul bila mekanisme pertahanan diri sering dilakukan dan menjadi kebiasaan.

Tokoh kedua adalah Bayu, merupakan seseorang yang agresif dan ambisius. Awalnya dia melakukan pembunuhan karena ketidaksengajaan. Setelah menonton videonya Nomura, video pembunuhan pertamanya tersebut diunggah ke internet. Mekanisme pertahanan yang digunakannya adalah rasionalisasi.

Bayu memiliki alasan membunuh korbannya. Membunuh si Dharma karena geram kasus korupsinya tidak pernah terungkap media. Pada saat dia merasa sangat marah dan ingin membunuh seseorang. Menunjukan sisi gelapnya yang muncul ke permukaan.

Teori Psikologi Analitis  milik ahli psikologi Carl Gustav Jung menyatakan bahwa shadow atau sisi gelap ada pada setiap orang yang bersifat negatif. Sisi kepribadian yang disembunyikan, ditolak dan dihambat perkembangannya. Film ini menunjukan bagaimana dalam diri setiap orang, siapapun itu tidak terkecuali selalu ada sebuah kegelapan yang sering kali tidak disadari dan bisa kapan pun muncul ke permukaan.

Data Penulis

Nama lengkap: Meirna Fatkhawati

Pendidikan: Alumni S1 Psikologi Universitas Diponegoro Semarang


Sumber data tulisan (sertaan daftar pustaka atau footnote)

Sari, Kartika & La Kahija. (2012). Psikologi Dalam. Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro: Semarang.

www.movfreak.blogspot.com/2014/02/killers-2014.html

Sumber foto:

Iconsoffright.com

Total
5
Shares
%d bloggers like this: