Tidak ada bahasa, yang bergantung pada aturan ketat maupun kebiasaan, bisa sama persis secara permanen, tetapi akan selalu mengalami pasang surut dan mudah berubah; apa yang dianggap sopan dan elegan pada suatu masa bisa dianggap kasar dan biadab di zaman yang lain.”

– Benjamin Martin –

Oxford English Dictionary atau Kamus Besar Bahasa Inggris Oxford boleh jadi merupakan salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Mungkin tak banyak dugaan bahwa proses penyusunannya yang nyaris memakan waktu seabad justru dilakukan oleh rakyat biasa alih-alih para bangsawan dan elit bahasa. Mungkin juga belum banyak yang tahu, bahwa ketua tim penyusunnya tak pernah lulus sekolah dasar karena kurangnya biaya. Selain itu, salah satu kontributor utamanya adalah warga negara Amerika Serikat yang pernah membunuh orang karena gangguan jiwa.

Pernah ada masa di Inggris Raya, mungkin sekitar abad ke-17, dimana seorang pembaca karya Shakespeare menemukan kata elephant—gajah—tapi tidak mengerti apa sebetulnya arti kata elephant, bagaimana penggunaannya, atau bagaimana sesuatu disebut dengan kata elephant. Sekarang, seseorang tinggal membuka www.oxfordenglishdictionary.org di laman web browser-nya, mengetik kata “elephant” pada kolom entri yang disediakan, kemudian menekan tombol enter. Dalam sekejap, arti, cara baca, berikut referensi penggunaan kata “elephant” telah tersaji di depan mata. Hal yang sama juga bisa kita lakukan secara manual menggunakan bentuk cetak dari kamus tersebut.

Pernahkah terpikirkan dalam benak kita, bagaimana jutaan atau bahkan triliunan variasi kata tersebut pertama kali disusun, lengkap dengan cara baca, akar kata, urut berdasarkan  abjad? Ketika Oxford English Dictionary (OED) pertama kali disusun pada penghujung abad ke-19, teknologi komputer masih hanya dalam angan-angan. Untuk bisa menampung semua kata Bahasa Inggris yang pernah ada dalam satu kamus besar, para ahli leksikografi dan linguistik era Victoria harus mencari semua kandidat kata secara manual. Para sukarelawan di seluruh negeri diminta mencarikan kutipan berisi kata yang dibutuhkan dari sebanyak mungkin literatur yang dinilai kredibel. Kemudian semua itu dikirim lewat pos ke Scriptorium, markas penyusunan OED kala itu.

Selanjutnya, para editor harus bekerja menyeleksi kiriman kutipan yang datang—jumlah per harinya bisa mencapai ribuan—sebelum memutuskan bagaimana makna kata tertentu akan dituliskan berikut kutipan mana yang harus dipilih sebagai ilustrasi penggunaan. Tidak heran, butuh waktu lebih dari tujuh dekade untuk menyelesaikan keseluruhan 12 jilid pertama OED. Meski demikian, sistem ini tampaknya memang yang paling efektif dilaksanakan pada era yang serba saklek seperti waktu itu. Buktinya, para bangsawan dan elit akademisi penerbit Universitas Oxford menyetujuinya, meski sempat diawali dengan cibiran sinis.

Meski harus diakui bahwa kisah proses penyusunan OED sendiri bisa dibilang fantastis. Cerita tentang orang-orang yang berada di balik penyusunan kamus rupanya tidak kalah menarik. Beberapa begitu sensasional pada zamannya hingga nyaris terdengar seperti mitos; salah satunya, kisah pertemuan Sir James Murray, rakyat jelata yang mampu meniti jalan menjadi editor utama OED.  Keberhasilan dalam menyusun OED tidak lepas dari hadirnya Dr. James Murray, seorang amatir yang menjadi ahli di bidang linguistik, fonetik, dan filologi dari belajar otodidak.

Selain itu, tokoh dibalik penyusunan OED adalah William Chester Minor, salah satu sukarelawan yang paling banyak dibicarakan oleh tim penyusun OED kala itu—baik karena kualitas dan kuantitas kontribusinya, maupun karena kemisteriusannya. Kala itu tim penyusun OED menyebar sayembara untuk mencari sukarelawan. Seorang pria bernama W.C. Minor mengirimkan paket slip-slip kertas berisi kutipan-kutipan yang berhasil membuat Murray dan rekan-rekannya terkesan. Bersama dengan itu, sang sukarelawan menyertakan surat permohonan ikut berkontribusi yang  ditulis dengan bahasa yang santun, cerdas dan dalam tulisan tangan yang sangat rapih. Seiring dengan berlalunya waktu, kutipan-kutipan kalimat kiriman Mr. Minor terbukti hampir selalu kredibel dan diambil dari karya-karya para penulis yang dipilih secara cermat. Singkatnya, Mr. Minor seakan tahu dengan tepat kutipan apa yang dibutuhkan oleh para tim penyusun bagi kata-kata tertentu.

Namun setelah hampir dua puluh tahun rutin berkorespondensi, Murray tidak pernah tahu identitas kontributor besar ini. Mr. Minor tidak pernah menampakkan diri di Scriptorium. Ia pun tidak hadir pada jamuan makan yang diselenggarakan Universitas Oxford sebagai penghargaan bagi seluruh kontributor OED, bahkan ketika semua orang tahu jarak ke tempat tinggalnya di Berkshire seharusnya tidak begitu jauh. Murray akhirnya memutuskan untuk berkunjung pada akhir musim gugur 1986. Mungkin tidak ada yang bisa menggambarkan keterkejutan Murray saat mengetahui bahwa Mr. Minor yang sangat dihormatinya selama ini mengerjakan semua kutipannya dari dalam sel di sebuah rumah sakit jiwa bagi para kriminal.

Kisah penyusunan OED yang terangkum  dalam novel The Professor and the Madman seakan menceritakan sebuah dongeng, meski hampir seluruh isinya adalah kisah nyata. Benar bahwa W.C. Minor yang memiliki skizofrenia pernah menembak mati seseorang. Ia kemudian menghabiskan  sisa hidupnya dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa yang lain. Namun, ia juga merupakan pria jenius. Tanpa jasanya, OED mungkin tidak akan pernah seperti yang bisa kita baca saat ini.

Novel ini memuat informasi sejarah yang sangat kaya. Kisah Murray dan Minor sendiri seakan diselipkan sedikit demi sedikit di tiap bab. Awalnya alur cerita terasa tidak relevan ataupun masuk akal, namun semakin lama mulai membentuk pemahaman yang utuh bagi pembaca. Gaya penulisan Simon Winchester berisiko membingungkan pembaca di bagian awal kisah, namun ia sesungguhnya tengah berusaha memberikan konteks-konteks yang relevan. Tujuannya agar pembaca lebih memahami bagaimana posisi Murray dan Minor pada periode tertentu, mengapa mereka menjadi pribadi seperti yang dikenal publik kemudian, serta bagaimana tiap peristiwa dalam kehidupan keduanya berpengaruh dalam pembuatan OED.

Lebih dari itu, novel ini memberikan gambaran bagaimana proses penyusunan OED dikerjakan pada masa di mana buku-buku masih dicetak menggunakan pelat-pelat logam yang berat. Kala itu belum ada program spread sheet komputer untuk membantu proses input dan sortir data. Butuh lebih dari dua puluh tahun untuk merealisasikan ide pembuatan kamus Bahasa Inggris terlengkap sepanjang masa. Tujuh puluh tahun selanjutnya untuk menyelesaikan seluruh jilid pertama. Lima puluh tahun untuk melengkapinya dengan lima suplemen. Hingga akhirnya memerlukan beberapa tahun tambahan hingga edisi kedua yang lengkap dan terpadu bisa diterbitkan.

Bagaimanapun, kamus besar ini akhirnya rampung sebagai salah satu mahakarya dunia yang tak ternilai. Bukan sebagai wacana para bangsawan dan elit bahasa tapi hasil kontribusi masyarakat yang dikumpulkan dan disunting dengan saksama dari waktu ke waktu. OED ini menjadi bukti kerja keras dan persahabatan antara seorang profesor yang putus sekolah di usia empat belas dan seorang pria asing yang pernah menjadi kriminal akibat mengidap gangguan jiwa.


Identitas Novel

Judul buku                   : The Professor and the Madman

Penulis                           : Simon Winchester

ISBN                                : 979-1112-53-3

Penerbit                        : PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta (edisi Indonesia)

HarperPerennial, New York (edisi Amerika Serikat)

Penerjemah                 : Bern Hidayat

Editor                              : Ken Nadya Irawardhani Kartakusuma

Desain sampul & isi   : Fadly

Terbit                               : Cetakan II – Maret 2007

Cetakan I – Januari 2007

Tebal                                 : 344 halaman (termasuk sampul)

By: Karina Langit Rinesti

Featured Image Credit: lensabuku.com

%d bloggers like this: