“Pikiran adalah segalanya. Kau menjadi yang kau pikirkan.”

-Buddha

Melalui ungkapan Bahasa Latin cogito, ergo sum — “aku berpikir maka aku ada,” filsuf Perancis René Descartes ingin mengungkapkan bahwa inti keberadaan seorang manusia adalah “berpikir.” Didampingi ungkapan lain seperti you are what you think you are—“kau adalah  apa yang kau pikirkan”—dan didukung pelbagai bukti penelitian tentang kekuatan sugesti otak, daya pikir manusia rupanya memiliki potensi yang sangat dahsyat. Kita bertindak dan melihat realita berdasarkan apa yang di diktekan oleh pikiran kita sendiri.Dalam Think! Before It’s Too Late, penulis bestseller dan pakar creative thinking (pemikiran kreatif) dunia Edward De Bono mencoba mengulas pentingnya proses “berpikir” dalam kehidupan kita. Bagaimanapun, De Bono juga menekankan betapa kemampuan ini kerap mubazir untuk menghadapi aneka persoalan dunia saat ini, terutama yang berkenaan dengan isu kemanusiaan. Alasannya terletak pada kesalahan cara kita dalam berpikir.

Dimulai  sejak era para pemikir Yunani  seperti Sokrates, Plato,  Aristoteles, hingga zaman Renaisans, kegiatan “berpikir” dipandang sebagai tradisi mencari kebenaran. Hampir semua sekolah dan perguruan tinggi di dunia mengajar siswanya untuk berpikir kritis dengan mengedepankan logika, menggunakan argumen-argumen untuk mencari “jawaban yang benar” atas suatu masalah. Metode berpikir ini sangat hebat, terbukti terutama di bidang sains dan teknologi, namun belum cukup untuk menghadapi persoalan lain dalam kehidupan sehari-hari.

De Bono berpendapat bahwa tujuan “berpikir” yaitu memampukan kita untuk melahirkan dan menikmati nilai-nilai, menciptakan perubahan yang berujung pada kemajuan. Untuk itu, dibutuhkan kreativitas. Sayangnya, pemikiran kritis, argumen, dan logika dirancang untuk mengevaluasi ide yang sudah ada, bukan menggali kemungkinan dan ide baru.

Dikenal luas sebagai “Lateral Thinking-Guru,” De Bono memiliki misi untuk mengajak orang-orang berpikir  secara lateral—memikirkan jalur-jalur alternatif alih-alih lurus sesuai pola mainstream yang biasa dipakai masyarakat kebanyakan. Melalui serangkaian contoh dari studi dan pengalaman nyata, De Bono menunjukkan beberapa fakta-fakta sederhana namun penuh provokasi tentang metode pemikiran manusia.

Penyimpangan, misalnya, bisa  dipandang  sebagai suatu kemungkinan—bagian tak terpisahkan dari  kreativitas. Argumen  dan analisis efektif untuk menemukan kesalahan, tapi  kurang mampu memicu ide-ide baru. Logika—berbeda dari pandangan umum selama ini—bukan inti dari kegiatan berpikir, melainkan persepsi. Perubahan persepsi atau cara  pandang akan menentukan logika berpikir kita  tentang suatu masalah. Konsekuensinya, emosi, sikap, bahkan tindakan kita akan berubah pula. Dengan persepsi yang berbeda, dua orang yang sama-sama patah hati bisa menunjukkan  sikap yang sama sekali  berbeda.

De Bono juga banyak membuat perbandingan antara beberapa konsep dan metode berpikir; ia menarik garis antara berpikir kritis dengan berpikir kreatif. Sejak permulaan buku, De Bono telah menegaskan bahwa  isi dari buku yang ia tulis adalah pemikirannya sendiri, maka ia memilih tidak repot-repot menyusun daftar pustaka. Meski demikian, De Bono tetap menyertakan beberapa temuan atau hasil studi ahli lain sebagai  contoh penguat. Seperti saat mengulas tentang persepsi dan logika, ia tak tanggung-tanggung mengutip hipotesis Goedel dan mencantumkan hasil penelitian Profesor David Perkins dari UniversitasHarvard.

Dalam Think! Before It’s Too Late, De Bono mengulas seluk-beluk seni dan metode berpikir secara relatif singkat namun kaya contoh. Bahasa yang digunakan juga cenderung sederhana. Penjelasannya terbagi dalam bab-bab singkat. Kebanyakan isinya berupa ilustrasi dan pengalaman nyata di mana metode pemikirannya dapat dijalankan, seperti di ranah pendidikan formal, kepemimpinan, bahkan sistem politik.

Melalui buku ini, kita juga bisa mempraktikkan beberapa metode manajemen berpikir temuan De Bono, seperti “EnamTopi Berpikir,” “Enam Medali Nilai,” dan “DATT-Direct Attention Thinking Tools.” Meski demikian, para pembaca mungkin perlu membaca buku-buku karangan De Bono yang lain untuk benar-benar memahami cara kerja peranti-peranti berpikir tersebut.

Pada akhirnya, buku kecil ini ingin memantik kita tidak hanya untuk berpikir, namun juga bertindak, sebagaimana De Bono menambahkan kutipan lain di belakang cogito, ergo sum: ago, ergo, erigo—“saya bertindak, maka saya membangun.”


Sumber Data Tulisan

Identitas Buku

Judul buku                               : Think! Before It’s Too Late

Penulis                                       : Edward De Bono

ISBN                                            : GWI 703.10.4.001

Penerbit                                    : Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), Jakarta (edisi Indonesia).Vermilion –                                                                           Random House Group, London (edisi Bahasa Inggris)

Penerjemah                            : Martha Indrati

Editor                                         : Adinto F. Susanto

Desain sampul & isi              : Budi Triyanto & Inner Child Studio

Terbit                                         : Edisi Bahasa Indonesia – 2010; Edisi Bahasa Inggris – 2009

Tebal                                          : 264 halaman (belum termasuk sampul)

Featured Image Credit: www.amazon.com

%d bloggers like this: