“Blindness cuts people off from things. Deafness cuts people off from people.”

– Hellen Keller.

Pernahkah Anda berinteraksi dengan orang yang bisu atau tuli? Jika tidak terbiasa, mungkin rasanya sulit untuk mengikuti alur pembicaraan. Lantas, sebenarnya bagaimana orang bisu dan tuli berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya?

1 hingga 2 dari 1000 bayi yang baru lahir mengalami gangguan pendengaran. 

Universal newborn hearing screening (UNHS) merupakan alat yang digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan kehilangan pendengaran pada bayi yang baru lahir. Screening awal penting dilakukan untuk mengetahui apakah bayi yang baru lahir mengalami gangguan pendengaran atau tidak. Hal ini sangat berguna untuk pemberian tindakan selanjutnya, seperti mencari tahu penyebab dan kemungkinan diberikan penggunaan alat bantu dengar.

Umumnya, orang dapat mendengar jika telinga dapat menangkap suara dengan frekuensi bunyi 20 s.d. 20.000 hertz (Hz). Dalam ukuran decibel (dB) atau intensitas bunyi, volume terkecil yang masih dapat didengar memiliki intensitas sebesar 0 dB.  Sebagai gambaran, bisikan umumnya memiliki intensitas 30 dB, percakapan sehari-hari berkisar antara 30 sampai 60 dB, dan volume suara pada konser musik rock bisa mencapai 140 dB.

Kehilangan pendengaran memiliki rentang dari mild (ringan) hingga profound (sangat parah), secara umum dapat digolongkan sebagai berikut :

  • Mild : 20-40 dB
  • Moderate : 41-60 dB
  • Severe : 61-90 dB
  • Profound   : >90 dB

Secara klinis, dalam arti yang luas, tuli meliputi segala bentuk kehilangan pendengaran, dari samar-samar hingga tingkat paling akut. Tuli dipandang sebagai sebuah  gangguan atau ketidakmampuan yang menyebabkan masalah sehingga perlu dicegah atau diatasi. Tuli adalah sebuah kondisi yang alamiah, yang harus dijaga dan dihormati. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan bahasa isyarat. Ya, saat ini penggunaan dan pengenalan bahasa isyarat mulai digalakkan di masyarakat.

Apakah Anda tahu? Berdasarkan lokasi kerusakannya, kehilangan pendengaran dapat dibagi ke dalam dua kategori umum, yaitu :

  • Tuli Konduktif

Gangguan pendengaran ini terjadi pada telinga bagian luar dan bagian tengah. Sebagai contoh,  hilangnya fungsi dari tulang-tulang kecil di telinga bagian tengah yang mengurangi kemampuan telinga untuk menghantarkan getaran. Kebanyakan gangguan ini dapat ditangani secara medis, salah satunya dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).

  • Tuli Sensorineural

Penyebab gangguan ini terjadi pada wilayah telinga dalam. Seseorang dengan gangguan pendengaran telinga bagian dalam bisa mengalami masalah tambahan seperti distorsi atau gangguan suara, masalah keseimbangan, dan bunyi berdengung di dalam telinga. Penyebab gangguan telinga bagian dalam bisa hasil keturunan atau karena suatu kejadian, seperti mendapat pemaparan suara yang terlalu keras.

Tidak menutup kemungkinan apabila seorang yang mengalami tuli konduktif juga mengalami tuli sensorineural. Hal ini disebut dengan gangguan pendengaran campuran (mixed hearing loss). Ada berbagai alasan yang membuat seseorang mengalami gangguan pendengaran campuran ini, salah satunya karena genetik. Biasanya tuli sensorineural bisa menyebabkan infeksi pada telinga bagian tengah yang menyebabkan penurunan kemampuan mendengar lebih akut. 

Gangguan pendengaran dapat menimbulkan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. 

Kebanyakan orang mengira bahwa mengalami gangguan pendengaran lebih baik dibandingkan gangguan penglihatan. Nyatanya, orang tuli memiliki kesulitan lebih besar dibandingkan orang yang mengalami kebutaan. Kesulitan ini umumnya lebih banyak dalam hal penyesuaian. Hal ini terjadi karena hilangnya fungsi  pendengaran bisa membuat orang sulit untuk memahami dan berbicara bahasa bibir.

Ya, bahasa adalah kunci utama untuk memahami dunia. Tidak hanya mengenai hubungan dengan orang lain, tetapi kita juga menyerap segala informasi yang ada di sekitar kita melalui bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, orang cenderung berkomunikasi dengan bahasa lisan. Jika tidak dapat menguasai dua hal ini dengan baik, dapat dipastikan bahwa proses belajar seseorang akan terhambat.

 Apakah ketika seseorang mengalami tuli, ia juga bisu? Jawabannya, bisa iya dan bisa juga tidak. 

Orang-orang yang memiliki gangguan pendengaran pada umumnya memiliki pemahaman bahasa yang kurang. Mereka juga memiliki beberapa perbedaan dalam hal pemahaman bahasa, produksi bahasa, dan berbicara. Kejelasan berbicara terkait dengan tingkat gangguan pendengaran dan usia terjadinya gangguan pendengaran. Terdapat dua istilah yang digunakan untuk menjelaskan hubungan ini lebih lanjut. Istilah pertama adalah prelingual deafness, yaitu seorang yang mengalami tuli segera setelah dilahirkan atau pada masa sebelum ia bisa berbicara dan mengenali bahasa. Yang kedua disebut sebagai postlingual deafness, yaitu tuli yang dialami setelah mengenal bahasa dan dapat berbicara. 

Ada beberapa hal di dunia ini yang perlu kita rasakan, bukan hanya pahami. Salah satunya adalah dengan merasa dan mendengar isyarat yang diberikan oleh orang tuli maupun bisu di sekitar kita. Orang yang tuli memiliki kecenderungan untuk mudah curiga dengan orang lain. Satu hal sederhana yang bisa membuat orang tuli nyaman berkomunikasi dengan kita adalah berbicara dengan menunjukkan gerakan bibir yang jelas pada mereka. Jadi, sudahkah Anda mengetahui apa itu tuli maupun bisu?


Sumber Data Tulisan

  1. Hallahan, D. P., & Kauffman, J. M. (2006). Exceptional Learners Introduction to Special Education Tenth Edition. Boston: Pearson.
  2. Paul, P. V., & Whitelaw, G. M. (2011). Hearing and Deafness. Massachusetts: Jones and Bartlett Publishers.
  3. Com (http://www.hearnet.com/at_risk/risk_trivia.shtml), sebuah situs yang peduli pada pencegahan gangguan pendengaran pada musisi dan pecinta musik, terutama remaja.
  4. UpToDate.com situs yang berisi artikel dan informasi klinis dari berbagai jurnal ilmiah.

By: Nisrina P. Utami

Featured Image Credit: http://adaptasiabk.blogspot.com

%d bloggers like this: