Unconditional love : Tentang mencintai tanpa “karena”

“Kenapa kamu mencintai aku ?”

“Karena kamu…”

Barangkali beberapa dari kita mencintai dengan alasan. Beberapa yang lain dengan syarat dan ekspektasi.  

Mencintai terkadang menjadi hal yang rumit, karena kita menyertakan alasan, syarat dan ekspektasi di dalamnya. Secara sadar ataupun tidak sadar, terkadang kita menginginkan sesuatu sebagai balasan atas cinta kita.

Kepada kita semua yang sedang berjuang mencintai dengan lebih sederhana:

“Mencintailah tanpa banyak ekspektasi”

Kita mencintai dengan berbagai ekspektasi. Kita berekspektasi memiliki hubungan yang romantis dengan pasangan. Kita terbiasa mencintai dengan syarat, alasan, maupun ekspektasi bahwa siapapun yang kita cintai seharusnya juga mencintai kita dalam ‘bentuk’ dan ‘jumlah’ yang sama.

Cinta manusia masa kini seakan hanya melulu tentang ekspektasi bahkan sampai menimbulkan gangguan delusi. Mencintai seakan menjadi kegiatan pemenuhan ekspektasi yang berulang-ulang. Apabila tidak terpenuhi, maka tidak lagi cinta melainkan amarah, sedih, dan kecewa. Ketika amarah dan kekecewaan tidak terkendali, mencintai bisa menjadi hal yang berbahaya bahkan mengarah pada tindakan kekerasan (abusive).

Baca juga tentang toxic relationship di sini

“Mencintailah dengan tulus”

Seringnya kita mengharapkan imbalan atas apapun yang kita beri termasuk dalam mencintai. Bahkan dalam berbuat kebaikan kita tergiur iming-iming pahala. Seringnya kita lupa hakikat memberi, hakikat mencintai yaitu ketulusan. Tanpa pamrih.

Kita mencintai dengan syarat-syarat. Kita mencintai seseorang hanya pada satu kondisi tertentu. Mencintai seseorang hanya jika ia selalu ada untuk kita. Hanya jika ia mau melakukan seperti apa yang kita mau. Hanya jika ia seiman. Hanya jika ia sepemikiran. Hanya jika ia lahir dari keluarga terpandang, dari kasta dan ras yang sama dan lain seterusnya. Banyak syarat kita tentukan untuk memutuskan memberikan cinta kita.

“Mencintailah dengan bijak”

Mencintai secara bijak bukan hanya sekedar mencintai kebaikannya semata. Namun, juga keburukannya yang bahkan tidak ia terima dalam dirinya. Bukan malah pergi ketika ia yang kita cintai berbuat kesalahan. Bukannya pergi ketika ia sedang berjuang dan menghadapi level terburuk dalam hidupnya.

Mencintai tidak berarti selalu meng-iya-kan apapun keinginan pasangan kita. Bukan berarti juga menerima apapun tanpa memperjuangkan kebutuhan kita sendiri dan selalu mengalah dengan pasangan. Namun, mencintai dengan bijak adalah cinta yang membuat kita bertumbuh dan mendewasa bersama. Bukan cinta yang mengikis, mengikat, abusive, dan posesif. Pandangan cinta yang tidak dewasa sering membuat kita semu dalam mencintai.

Alangkah indah jika kita merangkai cinta menjadi kalimat yang bijak. Mengayomi dan mengasihi.

“Mencintailah tanpa batasan”

Seringnya kita tidak mampu mencintai karena alasan-alasan. Berbagai alasan itulah yang membuat cinta seakan memiliki batasan-batasan. Alasan-alasan fisik, materi, agama, budaya, atau bahkan dalih kebutuhan seks.

Mencintai tanpa batasan bukan hal yang mustahil dilakukan. Adalah Davina Veronica Hariadi (@davinaveronica_gsi) CEO Garda Satwa Indonesia yang membuktikan bahwa cinta tidak seharusnya terbatasi hanya karena hal-hal fisik atau alasan artifisial. Cinta sudah seharusnya kita berikan tanpa batasan-batasan, bahkan kepada setiap makhluk-Nya.

“Mencintailah tanpa rasa takut”

Mencintai adalah tentang penerimaan. Penerimaan akan ketakutan-ketakutan dan penerimaan akan takdir. Menerima pasangan kita tanpa ada rasa takut kehilangan, rasa takut ditinggalkan, rasa takut untuk tidak memiliki seutuhnya. Karena hakikatnya ketika kita mencintai, tidak seharusnya kita takut. Kita menerima apa yang menjadi takdir kita, baik itu berakhir dengannya ataupun tidak.

***

Mencintai seharusnya menjadi kebutuhan kita sebagai manusia untuk berbahagia. Bahagia karena dengan mencintai kita membagikan apa yang kita punya. Kita belajar untuk percaya dan menginvestasikan apa yang kita miliki.

Mencintai seharusnya menjadi pemberian tanpa pamrih, sederhana tanpa menetapkan syarat, batasan, ataupun ekspektasi. Namun, bukan tidak punya kekuatan, bukan juga cinta yang bodoh dan lemah, bukan buta, tapi dewasa.

Mencintailah dengan penuh kesadaran bahwa kita ingin berbagi dan bukan karena ingin dilengkapi.

Semoga kita bisa mencintai semua makhluk dengan lebih sederhana.

 

 

 

Total
16
Shares