“Sometimes you have to let life turn you upside down, so you can learn how to live, right side up…”

Sebagai manusia, dalam hidup ini kita akan mengalami sekian plot kehidupan yang secara umum seringkali ditafsirkan sebagai sepasang istilah oposisi biner, berhasil atau gagal, pasang atau surut, naik atau turun dan seterusnya silakan Anda tambahkan sendiri. Seringnya, dari sepasang istilah tersebut, yang pertama selalu disuperiorkan dibanding yang kedua. Namun, apakah keberhasilan dalam  sebuah fragmen kehidupan kita itu memang nilainya selalu lebih superior dibanding kegagalan?

Pertama-tama, mungkin kita perlu sedikit mencari tahu mengenai psikologi terbalik (reverse psychology). Istilah ini pertama kali dikeluarkan oleh Adorno dan Horkheimer sekitar tahun 1970-an. Inti dari teori ini adalah orang akan merespon berlawanan atau berkebalikan dari perintah yang diberikan kepada mereka. Lho, lalu hubungannya dengan kegagalan dan keberhasilan? Begini… Kadang kala ketika kita memaksakan diri untuk mencapai sebuah keberhasilan, sering kali yang terjadi malah sebaliknya. Kita malah mengalami kegagalan akibat tekanan-tekanan yang ada yang kemudian menjadi beban dan akhirnya malah menjauhkan kita dari apa yang kita inginkan. Beban tersebutlah yang membuat psikologi kita berbalik.  Chuang Tzu pernah berkisah tentang seorang pemanah yang tengah mengikuti lomba. Ketika hadiahnya kecil, tidak masalah. Namun, ketika hadiahnya besar tembakannya malah jadi tidak akurat. Kadang, pikiran kita dipenuhi oleh beban yang menganggu kemampuan kita mencapai kesuksesan hidup. Kita cenderung abai terhadap proses dan terlalu berfokus pada hasil akhir sebuah pencapaian.

Sebenarnya sudah banyak pemaknaan dan penafsiran atas hal semacam ini, mulai dari kalangan agamawan, filsuf, mistikus hingga para trainer motivator yang mulutnya sampai berbusa menyemangati para peserta training. Padahal, bahkan Tuhan sekali pun tidak membutuhkan manusia untuk berhasil, Dia hanya ingin kita mencoba. Berhasil atau tidak bukanlah ukuran dan yang pasti bukan pula aib.

Sejak jaman kita kecil, sering kali orang tua menanamkan kalimat bijak “jika awalnya tidak berhasil, coba dan coba lagi” agar kita menjadi yakin. Tetapi apakah memang ada bukti ilmiah bahwa kegagalan beruntun merupakan hal positif yang akan menuntun kita pada sebuah inovasi untuk maju? Jawabannya, ada. Mungkin karena inilah Tuhan menargetkan manusia pada titik berusaha dan berusaha, bukan pada hasil akhir.

Tom Pohlmann, kepala strategi dan nilai di perusahaan analisa data Mu Sigma, mengatakan bukti itu ada. Mereka telah mengkaji secara dalam ide tentang kegagalan beruntun. “Perubahan ritme yang cepat dalam bisnis membuat perusahaan semakin ditekan untuk terus berinovasi, teknologi baru bisa menjawab tantangan itu melalui konsep inovasi-sambil-jalan,” katanya.

Laporan Mu Sigma menunjukan kegagalan yang cepat dan terus menerus adalah pendekatan terbaik dan kunci untuk sukses di banyak aspek bisnis.

Ironisnya, umumnya manusia selalu berharap berhasil dan mati-matian mempertahankan diri agar, setidaknya, tidak terlihat gagal di mata orang lain. Yah, semacam pertaruhan citra diri barangkali. Manusia sering tergiring untuk menimbang-nimbang bagaimana pandangan orang lain pada dirinya apabila dia memilih jalan hidup sebagai orang yang gagal dalam perkara yang secara sterotipe seharusnya tidak boleh gagal. Padahal, siapa yang tidak pernah gagal dalam hidupnya? “Banyak orang masih beranggapan bahwa kegagalan adalah tanda ketidakmampuan personal dan mereka mencoba menghindarinya sebisa mungkin,” kata Andrew Filev, CEO dan pendiri Wrike, perusahaan piranti lunak di Mountain View, California. “Tetapi ketika Anda ingin membangun bisnis sebagai sebuah seri eksperimen, Anda akan melihat bahwa kegagalan adalah hal yang tak mungkin dihindari dalam prosesnya.” Seperti kata Rumi dalam salah satu puisinya, “try not no resist the changes that come your way. Instead let life live through you. And do not worry that your life is turning upside down. How do you know that the side you are used to is better than the one to come? Sometimes your world turns upside down so you can land in a better place”.

Jadi, barang kali bukan gagal atau tidaknya yang perlu kita fokuskan terlalu dalam melainkan kesadaran untuk selalu mawas diri ketika kita berada dalam titik-titik rawan menghasilkan performa yang buruk. Soal besar kecilnya kegagagalan yang mungkin tetap tercipta setelahnya, biarlah jadi urusan-Nya dalam menentukan keputusan akhir. Toh, sekian juta manusia akan menghasilkan sekian juta tafsiran atas besar kecilnya suatu perkara dalam kehidupan.


Sumber Data Tulisan

http://www.bbc.com/capital/story/20160316-the-hidden-psychology-of-failure

By: Ditha Marissya Daud

Image Featured Credit: : http://media-cache-ec0.pinimg.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

%d bloggers like this: