Waspadai Toxic Relationship di Dekatmu!

Sudah merupakan rahasia umum jika manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mungkin manusia hidup tanpa orang lain. Akan selalu ada suatu kondisi yang membutuhkan bantuan atau sekadar berinteraksi dengan orang lain.

Hubungan yang dijalani pun beragam, mulai dari keluarga, pertemanan, pasangan, atau rekan kerja. Idealnya sebuah hubungan yang dijalani bersifat dua arah, melibatkan satu sama lain untuk saling membantu tanpa mengharapkan imbalan. Akan tetapi, tidak semua hubungan yang dimiliki manusia merupakan hubungan yang sehat.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling memberi dukungan dan memelihara satu sama lain. Hubungan sehat ini memiliki ciri-ciri, meliputi rasa kasih sayang, rasa aman, kebebasan dalam berpikir, saling peduli dan menyayangi, serta menghormati perbedaan pendapat yang ada.

Akan tetapi, mungkin kamu pernah merasa sebaliknya dari penjabaran mengenai hubungan sehat di atas. Bukannya merasa aman, tetapi kamu malah merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan temanmu. Selain itu, bukannya merasakan ada kebebasan, tetapi kamu malah merasa lelah menghadapi pasanganmu sendiri.

Contoh pengalaman di atas menunjukkan lebih banyak emosi negatif yang dirasakan daripada emosi positif dalam menjalani sebuah hubungan. Bisa jadi, sebenarnya hubunganmu itu termasuk dalam toxic relationship.

Toxic relationship adalah hubungan yang tidak menyenangkan bagi diri sendiri atau orang lain. Hubungan ini juga akan membuat seseorang merasa lebih buruk. Ciri-ciri toxic relationship antara lain, merasa tidak aman, ada kecemburuan, keegoisan, ketidakjujuran, sikap merendahkan, memberi komentar negatif, dan mengkritik.

Seseorang yang terjebak dalam toxic relationship dapat menyebabkan terjadinya konflik batin dalam diri. Konflik batin ini akan mengarah pada amarah, depresi, atau kecemasan. Pada intinya, toxic relationship menyebabkan mereka yang terlibat di dalamnya kesulitan untuk hidup produktif dan sehat.

Mendeteksi Awal Toxic Relationship

Mungkin beberapa dari kamu tidak menyadari potensi toxic dalam hubungan yang kamu miliki. Toxic yang dimaksud bukan berarti seluruh pribadi seseorang menjadi toxic¸ tetapi bagaimana perilakunya atau hubunganmu dengan dia yang tergolong toxic.

Salah satu pernyataan yang dapat menjadi bahan refleksi hubunganmu adalah pertanyaan berikut ini,

Apakah dia memanfaatkanmu sebagai tempat peluapan emosinya untuk menghilangkan konflik dan frustrasi dengan orang lain?”

Jika iya, coba kamu mengambil jarak sementara waktu untuk lebih memahami tentang situasi ini dan menilai kembali tujuan dari hubungan kalian.

Selain itu, ada beberapa rambu yang perlu kamu perhatikan untuk mengenali toxic relationship. Rambu-rambu tersebut antara lain: berbohong, sikap tak acuh, menolak untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, tidak mau memaafkan, tidak mau mengakui kesalahan, selalu menyalahkan orang lain, melakukan segala bentuk kekerasan, berbicara buruk tentang orang lain, bersikap manipulatif, dan menolak untuk mendengarkan permasalahanmu.

Mungkin kamu pernah mengalaminya secara langsung. Memiliki seorang teman yang hanya ingin didengarkan dan mencarimu di saat dia kesusahan, tetapi dia tidak pernah mendengarkan kisahmu dan melupakanmu di saat bahagia. Di sisi lain, mungkin kamu memiliki pasangan tapi tidak pernah menghargaimu. Dia malah berbuat sesukanya asal keinginannya tercapai, selalu menyalahkan dirimu kalau terjadi masalah, bahkan berani bertindak kasar padamu.

Meskipun begitu, pernahkah kamu malah merasa sulit untuk mengakhiri hubungan itu?

Tidak Mudah untuk Mengakui

Mengenali dan mengakui bahwa kamu sedang berada pada toxic relationship bukan hal yang mudah. Banyak orang terjebak dengan cinta dan kebahagiaan sesaat dalam menjalani hubungannya. Kemudian, rasa takut akan kesepian karena ditinggal pergi orang lain turut menjadi alasan sulitnya mengakui sedang dalam toxic relationship.

Tanpa disadari, munculnya rasa ketergantungan antar satu sama lain menjadi alasan wajar untuk terus menjalani toxic relationship ini. Hal-hal tidak menyenangkan yang terjadi juga dianggap sebagai hal yang biasa. Ketika ada pihak di luar hubungan yang menyadarkanmu akan toxic relationship, kamu malah menyangkalnya.

Berani untuk Mengakhiri

Menjalani hubungan dengan orang lain secara dekat menjadi kebutuhan sosial setiap manusia. Akan tetapi, bukan berarti membiarkan diri terjebak dengan orang yang salah. Membiarkan dirimu terjebak dalam toxic relationship bukanlah sebuah keputusan yang bijak dalam menjalani kehidupan. Hal ini sama saja seperti melupakan untuk menyayangi dirimu sendiri.

Jika kamu mengalami kesulitan untuk mengakhirnya, coba meminta bantuan kepada yang lebih ahli untuk menyelesaikan. Selain itu, coba tuliskan kegiatan yang kamu habiskan selama bersama dia. Hal ini dapat menjadi cara untuk menyadarkanmu akan baik atau tidaknya hubungan yang kamu jalani selama ini.

%d bloggers like this: