“Tidak ada yang salah dengan anak ibu. Karena semua anak terlahir sempurna.”

Judul: Wonderful Life

Pemain: Atiqah Hasiholan, Sinyo, Alex Abbad, Lydia Kandou

Genre: Drama

Sutradara: Agus Makkie

Tanggal Rilis: 13 Oktober 2016

Durasi : 79 menit

Distributor: Visinema Pictures

Tidak dapat dipungkiri, setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Namun, Tuhan selalu memberikan kelebihan untuk melengkapi kekurangan tersebut. Tinggal bagaimana manusia tersebut dapat mensyukurinya, sehingga tercipta kesempurnaan di balik kekurangan yang dimiliki..

Wonderful Life, film yang diangkat dari novel berjudul sama ini menceritakan perjuangan Amalia, CEO sekaligus strategic planner Le Homme yang memiliki anak disleksia. Dia sering dipanggil oleh pihak sekolah karena Aqil—sang anak, tidak dapat menulis dan membaca, hanya dapat menggambar dan mewarnai. Akhirnya dia pun mendatangi tiga terapis untuk memeriksa Aqil. Diagnosa ketiga terapis itu pun sama, Aqil mengalami disleksia dan autis ringan. Namun, Amalia menyangkal hasil tersebut sekaligus merasa malu. Terlebih karena tuntutan ayahnya kepada Aqil yang cukup besar agar prestasi akademik Aqil meningkat. Untuk itu, Amalia pun mencari beberapa tempat untuk menyembuhkan sang anak, termasuk rela cuti beberapa hari dari pekerjaannya.

Perjalanan mencari terapi alternatif tersebut ternyata tidak semulus yang Amalia kira. Mulai dari tuntutan pekerjaan yang masih menghantuinya sementara akses internet tidak ada hingga harus tidur di terminal karena dompetnya hilang. Namun, perjalanan itu jugalah yang membuat Amalia belajar banyak hal, termasuk untuk tidak memberikan tuntutan kepada Aqil. Dia sudah mengizinkan Aqil untuk terus menggambar, termasuk di dinding rumah mereka. Bahkan dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya untuk menemani Aqil sembuh dari disleksianya.

Film ini tidak hanya menyuguhkan persoalan disleksia yang dialami oleh Aqil, tetapi juga parenting atau pengasuhan. Dalam psikologi, disleksia dikategorikan sebagai salah satu learning disability atau kesulitan belajar. Disleksia merupakan kondisi neurologis yang disebabkan oleh permasalahan di otak1, yang spesifik terkait dengan bahasa2. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh faktor genetis3. Seseorang yang mengalami disleksia ditandai dengan ketidakmampuan dalam membaca, menulis, dan mengeja, serta kesulitan untuk membedakan bunyi fonetik (suara huruf) yang menyusun sebuah kata3. Hal ini disebabkan dia tidak cukup mampu untuk melakukan proses fonologi atau penyusunan kata2. Walaupun disleksia tidak ada obatnya, tetapi dengan instruksi yang tepat, mereka belajar untuk dapat membaca dan menulis1. Harus diperhatikan bahwa disleksia tidak ada kaitannya dengan masalah kognitif dan inteligensi1.

Dari segi pengasuhan, terlihat jelas gaya pengasuhan sang ayah pada Amalia cenderung menuntut dan memaksa Amalia untuk menjadi yang sang ayah inginkan. Begitu pun pada Aqil, ayah Amalia menuntut cucunya untuk memiliki prestasi akademik yang baik. Sementara pengasuhan Amalia pada Aqil cenderung kurang karena Amalia yang terlampau sibuk sehingga tidak tahu perkembangan anaknya. Namun, perjalanan mencari terapi alternatif itu membuatnya sadar untuk lebih sering bersama anaknya, menjadi sahabat anaknya.

Dari film ini dapat dipetik hikmah bahwa anak adalah harta yang paling berharga bagi orangtua. Bukan jabatan, atau material lainnya. Untuk itu, orangtua sebaiknya dapat memberi perhatian lebih pada anak dan memberikan sedikit waktunya, termasuk menemaninya belajar.


Sumber data tulisan (sertaan daftar pustaka atau footnote)

1Dyslexia At A Glance. Diakses dari International Dyslexia Association: https://dyslexiaida.org/dyslexia-at-a-glance/ pada tanggal 15 Oktober 2016.

2Kirk, Samuel, dkk. 2009. Educating Exceptional Children. Edisi keduabelas. Boston: Houghton Mifflin.

3Weinstein, Lissa. 2008. Living wirh Dyslexia: Pergulatan Ibu Melepaskan Putranya dari Derita Kesulitan Belajar. Bandung: Penerbit Qanita.

By: Apriastiana Dian Fikroti

Image Featured Credit: http://www.tribunnews.com/seleb/2016/09/29/film-wonderful-life-bawa-atiqah-hasiholan-ke-masa-kecilnya?page=2

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*