“Memulai bisa jadi hal tersulit yang pernah ada, tapi hal itu jauh lebih baik daripada membiarkan keadaan semakin buruk dengan memilih untuk tidak peduli.”

 

Untuk sebagian orang, berinteraksi dengan individu yang berkebutuhan khusus bisa jadi tidak semudah yang dibayangkan. Selain takut, umumnya orang akan kebingungan dan canggung1. Ditambah lagi, banyak orang yang justru acuh pada individu berkebutuhan khusus. Padahal, komunikasi adalah salah satu cara untuk mendukung perkembangan mereka2. Terutama pada orang dengan autisme. Mereka akan terbantu dan berkembang dengan adanya interaksi sosial3. Satu hal yang penting untuk diketahui adalah kesulitan terbesar orang dengan autisme justru terletak pada kemampuan komunikasi.

Kini, anda tak perlu bingung untuk  mulai membangun komunikasi dengan mereka. Beberapa hal berikut dapat diperhatikan untuk membantu anda berkomunikasi dengan orang yang mengidap autisme:

  • Pahami kondisi

Sebelum berinteraksi lebih jauh, ada baiknya kita memahami kondisi awal mereka4. Kita perlu tahu, setidaknya, apakah individu tersebut mengalami autis taraf lanjut atau masih dalam tingkatan asperger syndrome (taraf ringan). Perlu diketahui bahwa terdapat dua jenis gangguan dalam spektrum autis, yaitu autis dan asperger syndrome5. Individu dengan asperger syndrome memiliki gejala yang mirip dengan autisme, hanya saja, perkembangan bahasa mereka tidak akan terhambat seperti individu autis6.

Pahami kebiasaan mereka, bagaimana mereka bereaksi terhadap orang lain. Ketahui pula apa yang mereka suka atau tidak suka. Selain itu, kita juga bisa melakukan pengamatan singkat terhadap perilaku mereka. Cobalah untuk mengenal lebih dekat.

 

  • Posisikan diri sebagai penolong dan guru

Kadang kita terlalu sibuk untuk membantu mereka tanpa mempedulikan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Kebiasaan membantu segala kebutuhan individu autis justru bisa membuat mereka tidak cukup mandiri dan bisa berdampak negatif bagi perkembangan mereka di masa datang.  Mulai sekarang, cobalah untuk memposisikan diri kita sebagai seorang penolong, guru, atau fasilitator bagi individu autis. Kita bisa melakukannya dengan cara bertanya atau menawarkan bantuan pada mereka dan tunggu bagaimana reaksi mereka7.

 

  • Kenali gaya komunikasi

Setiap orang yang dilahirkan di dunia ini memiliki keunikannya sendiri-sendiri (individual differences). Begitu juga orang dengan autisme. Cara mereka berkomunikasi tidak hanya melalui kata-kata lisan, tetapi juga bisa melalu isyarat tubuh8 atau bahasa tertulis4. Selain itu, orang dengan autisme umumnya akan lebih mudah untuk memahami sesuatu yang tampak di hadapan mereka dibandingkan dengan instruksi yang hanya diberikan secara verbal3.

 

  • Beri kesempatan untuk berkomunikasi

Setelah kita mengetahui gaya komunikasi mereka, berikan kesempatan bagi mereka untuk berkomunikasi dan mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Perlu diingat pula bahwa mereka butuh waktu yang lebih lama untuk merespon hal-hal yang terjadi di sekitar dibandingkan dengan orang pada umumnya4. Tentu saja hal ini tidak akan mudah, tetapi jika dilakukan dengan penuh kesabaran, kemampuan komunikasi mereka akan berkembang lebih baik.

  • Dukungan

Niat tidak akan cukup untuk membuat kita memulai atau bertahan dalam melakukan kebaikan. Diperlukan pula keyakinan serta dukungan. Dukungan ini tidak hanya diberikan untuk individu berkebutuhan khusus saja, tetapi juga bagi mereka  yang senantiasa menemani dan menjadi pendamping setia bagi orang berkebutuhan khusus.

 

Kunci utama dalam berinteraksi dengan individu autis adalah adanya optimisme bahwa kita bisa membantu mereka. Semangat dan optimisme dalam diri secara tidak langsung dapat menularkan semangat positif bagi orang-orang di sekitar. Tidak hanya itu, semangat untuk mendampingi orang dengan autisme juga mampu mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tidak ada hal terbaik yang terjadi secara instan. Saat ini, yang diperlukan adalah melakukan langkah kecil dengan memberanikan diri berinteraksi dengan individu berkebutuhan khusus. Bisa jadi, justru kitalah yang akan mendapatkan banyak pelajaran dari mereka.


Sumber Data Tulisan:

  1. Lizzie Parry, 2014. Two-thirds of us are uncomfortable talking to disabled people – because we fear we’ll appear patronising.
    http://www.dailymail.co.uk/health/article-2623225/Fear-patronising-saying-wrong-thing-leaves-two-thirds-people-feeling-uncomfortable-talking-disabilities.html
  2. Alamán, Xavier, et al. “Adapting Social and Intelligent Environments to Support People with Special Needs.” In Ambient Assisted Living and Home Care. 2012.
  3. Ellen Notbohm, 2012. Ten Things Every Child with Autism Wishes You Knew. http://www.autismspeaks.org/family-services/tool-kits/100-day-kit/ten-things-every-child-autism-wishes-you-knew
  4. Steve Summers.http://www.autismum.com/2012/05/07/10-tips-on-how-to-communicate-with-autistic-people/
  5. Slavin, Robert E. Educational Psychology: Theory and Practice, 10 Edition. New York: Pearson, 2011.
  6. The National Autistic Society, 2015.http://www.autism.org.uk/about-autism/autism-and-asperger-syndrome-an-introduction/high-functioning-autism-and-asperger-syndrome-whats-the-difference.aspx
  7. The National Autistic Society, 2014.http://www.autism.org.uk/living-with-autism/communicating-and-interacting/communication-and-interaction.aspx
  8. The National Autistic Society, 2014.http://www.autism.org.uk/living-with-autism/communicating-and-interacting/communication-and-interaction.aspx

Image Feature Credit: http://www.senatorhunter.com/images/Autism_awareness.jpg

By: Nisrina Putri Utami

Total
74
Shares
%d bloggers like this: