Menilik Lebih Dalam tentang Push Parenting

“Sebagai orang tua, Anda harus bertanggung jawab untuk menginspirasi anak Anda.  Namun, jika dengan ‘inspirasi’ yang Anda maksud adalah ‘mengomel’, atau ‘mengkritik’, Anda harus tahu bahwa omelan tidak efektif dalam jangka panjang,  meskipun kadang-kadang cara yang paling efisien untuk mendapatkan hasil dalam  jangka pendek.”

-Capuano

Setiap manusia pada dasarnya telah terlahir dengan bakatnya masing-masing. Sekalipun terlahir dari orangtua yang sama, bakat masing-masing anak tidak akan sama. Untuk mengembangkan bakat tersebut secara optimal, peran orangtua harus disertakan.

Bagi setiap orangtua, anak merupakan harta yang paling berharga. Setiap orangtua juga pasti mendambakan anaknya memiliki berbagai bakat, mengharapkan sang anak nantinya menjadi orang yang berhasil. Untuk menjadikan sang anak demikian, masing-masing orangtua memiliki caranya tersendiri, baik dengan menerapkan aturan super ketat atau membiarkannya tanpa aturan. Maka tidak heran jika saat ini banyak orangtua yang telah menyekolahkan anaknya sejak dini. Namun, terkadang para orangtua tidak menyadari cara yang mereka lakukan justru membuat sang anak merasa tertekan.

Menurut Baumrind, seorang ahli psikologi perkembangan yang mengembangkan teori gaya pengasuhan orang tua, setidaknya ada empat gaya pengasuhan, yaitu authoritarian, authoritative, neglectful, dan indulgent1. Selain empat gaya pengasuhan itu, ada satu lagi gaya pengasuhan yang jarang dibahas dalam berbagai teori tetapi tanpa disadari sering orangtua lakukan. Push parenting, atau gaya pengasuhan yang terlalu menuntut2.

Para orangtua yang menerapkan gaya pengasuhan push parenting berdalih terpaksa menerapkan gaya pengasuhan tersebut. Mereka merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebih akan masa depan anak mereka jika tidak dibekali sejak kecil. Para orangtua juga tidak ingin anak mereka bernasib sama dengan mereka ketika mereka masih anak-anak. Bahkan mereka berusaha sekuat tenaga dan berbagai cara untuk menyekolahkan anaknya di sekolah unggulan. Selain itu, pengaruh media yang sering menampilkan anak-anak berprestasi membuat para orangtua ingin anaknya memiliki prestasi yang sama, bahkan lebih2. Alasan-alasan itu lah yang menjadi dalih orangtua untuk menuntut anaknya sesuai dengan keinginan mereka, bukan sang anak inginkan.

Push parenting, sejatinya merupakan salah satu bentuk dari pengasuhan authoritarian karena orangtua hanya mendukung keinginan anak yang sesuai dengan keinginan mereka. Mereka juga melakukan pengawasan yang super ketat agar keinginan mereka yang ‘dititipkan’ ke sang anak dapat tercapai. Namun, dalam push parenting anak tidak diberikan kebebasan untuk menentukan kompetensi yang akan dimiliki2. Selain itu, tuntutan yang diberikan ke sang anak tersebut pun dapat bersifat ekstrem yang cenderung dapat menghambat tingkah laku sosial dan masalah pendidikan maupun keseharian anak mereka3. Bahkan tuntutan yang semakin tinggi membuat anak akan merasa takut, panik, dan putus asa jika mengalami kegagalan dan mengecewakan orangtua4.

Dampak lebih lanjut dari diterapkannya push parenting itu dapat membuat sang anak stress, sakit, dan berperilaku tidak semestinya. Anak akan merasa stress ketika orangtua terus memaksa dan menekannya untuk melakukan sesuatu tanpa henti. Dampaknya akan muncul gejala-gejala fisik dari stress yang anak tersebut alami, seperti sakit kepala dan sakit perut.  Selain itu, perasaan tertekan yang anak rasakan akibat push parenting dapat membuat perilakunya berubah. Anak menjadi gampang marah, membangkang, dan sulit untuk diatur5.

Push parenting, tanpa disadari banyak orangtua yang menerapkan gaya pengasuhan ini. Terlalu banyak yang orangtua tuntut dari anak membuat sang anak merasa tertekan hingga anak mengalami stress. Sebab masa kanak-kanak adalah masa bermain dan membangun hubungan interpersonal dengan teman sebayanya, bukan hanya untuk belajar tanpa henti.


Sumber Data Tulisan

1Santrock, J.W. 2011. Life Span Development 13th Edition. New York: McGraw-Hill.

2Lidanial. 2006. Anak Korban Orang Tua Ambisius (Push Parenting) dan Konseling Terhadapnya. Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan. 7, 2, 283-299.

3Respati, WS, dkk. 2006. Perbedaan Konsep Diri Antara Remaja Akhir Yang Mempersepsi Pola Asuh Orang Tua Authorian, Permissive dan Authoritative. Jurnal Psikologi. 4,2, 119-138

4Munauwaroh. 2012. Hubungan harapan orang tua dengan ketakutan akan kegagalan pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Skripsi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

5 LoBello, Karen. 2013. The Effect of Pushing Your Kids Too Far. Diakses pada tanggal 30 Agustus 2016 dari Mom.me: https://mom.me/kids/5262-effects-pushing-your-kids-too-far/

By: Apriastiana Dian Fikroti

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*