Ada Apa di Balik Hoaks?

Setiap hari kita terpapar dengan ratusan hingga jutaan informasi. Baik itu informasi yang dianggap penting maupun informasi yang sifatnya hanya sebagai hiburan. Berbagai informasi yang kita baca bisa jadi merupakan informasi yang terpercaya. Atau, bisa saja informasi tersebut hanyalah kebohongan alias hoaks.  Marak munculnya hoaks tentu membuat kita resah dan tak jarang merasa kesal. Seperti hoaks yang tengah ramai beberapa minggu yang lalu adalah tentang penipuan publik yang dilakukan oleh seorang seniman, aktivis sekaligus politisi.

Sebenarnya, saat membaca suatu berita, kita dapat mengenali mana berita hoaks maupun berita yang valid sehingga kita dapat lebih bijak untuk memilah mana informasi yang patut dipercaya. Namun terkadang kita memiliki kecenderungan untuk tetap memercayai berita hoaks yang kita baca.

Proses Kognitif dari Hoaks

Sama seperti pemrosesan informasi lain, menyebarnya informasi palsu berupa penipuan atau hoaks melibatkan proses kognitif pada diri kita. Proses kognitif yang terlibat merupakan kinerja fungsi eksekutif dalam otak yang berperan dalam memroses respon terhadap suatu informasi. Fungsi eksekutif ini juga berperan dalam perencanaan, pembuatan keputusan, pemecahan masalah serta proses kognitif lain yang lebih kompleks.

Menurut sebuah penelitian, pemrosesan informasi mengenai hoaks atau penipuan juga dipengaruhi oleh kemampuan kognitif. Biasanya, orang akan memercayai suatu informasi palsu yang pertama kali diberitakan tak peduli bagaimanapun tingkatan intelegensinya. Namun perbedaan respon dapat terlihat saat responden diberi tahu bahwa apa yang mereka baca merupakan informasi palsu atau hoaks. Responden dengan kemampuan kognitif yang baik akan akan mengkritisi dan berhati-hati dengan informasi palsu tersebut, dengan kata lain dia tidak akan memercayai lagi informasi palsu tersebut. Namun menariknya, responden yang memiliki kemampuan kognitif kurang baik, walaupun sudah diberikan informasi mengenai kebohongan informasi palsu yang baru saja dia terima, dia tetap akan memercayai informasi palsu tersebut.

Penerimaan terhadap informasi palsu tidak hanya tergantung pada perbedaan proses kognitif saja. Informasi palsu yang diberikan secara terus menerus juga akan menyebabkan orang lebih mudah percaya terhadap kebenaran informasi tersebut karena dia akan sulit menghilangkan rasa percaya yang dibangun atas informasi yang telah dibacanya berulang kali. Selain itu, dalam memutuskan suatu informasi tersebut layak dipercaya atau tidak, proses kognitif kita memiliki dua kecenderungan cara untuk memroses informasi atau pesan yang diterima.

Hal ini dapat dijelaskan dengan teori pemrosesan sistematik dan heuristik. Saat menggunakan pemrosesan sistematik, orang akan memilih untuk mencari informasi tambahan tentang suatu informasi kemudian membandingkan dan mengaitkan informasi lain serta berpikir lebih dalam tentang informasi yang dia terima. Biasanya individu yang menggunakan pemrosesan sistematik tidak akan mudah percaya dengan satu berita atau informasi tertentu dan mereka akan cenderung lebih berhati-hati untuk menyebarkan (share) berita atau informasi yang diterima. Sedangkan, orang yang menggunakan pemrosesan heuristik cenderung untuk lebih memilih membuat keputusan yang singkat dalam menentukan suatu informasi karena hal ini membutuhkan usaha dan proses kognitif yang lebih mudah. Pemrosesan heuristik biasanya juga dilakukan apabila seseorang memiliki harapan atau keinginan sesuai dengan informasi palsu yang diterima. Hal inilah yang memengaruhi mengapa orang lebih memilih langsung memercayai suatu informasi dibandingkan mencari informasi lebih lanjut mengenai informasi yang baru saja dia terima.

Proses Komunikasi Dua Arah

Apapun informasi penipuan yang diberitakan, dia tetaplah sebuah informasi yang dapat menjadi sarana komunikasi. Informasi sebagai sarana komunikasi merupakan interaksi dua arah, antara pemberi informasi dan penerima. Informasi palsu pun bekerja seperti hal tersebut. Dia melibatkan pemberi informasi palsu dan penerima informasi palsu. Ketika seseorang menyebarkan informasi palsu, dia akan memerhatikan karakteristik target yang disasar. Sebelum memutuskan suatu informasi layak dipercaya atau tidak, penerima informasi biasanya akan memertimbangkan hubungannya dengan pemberi informasi atau motivasi dari informasi yang diberikan tersebut. Kedekatan secara personal biasanya lebih memungkinkan seseorang untuk lebih cepat memercayai suatu informasi tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut.

Bijak Memilih Informasi

Berbagai kanal berita online yang kian banyak saat ini memberikan sajian berbagai macam informasi, tanpa terkecuali. Tentu sebagai makhluk sosial, kita tak ingin kehilangan satupun informasi yang tengah hangat diperbincangkan. Tak jarang, keingintahuan kita membuat kita secara tidak sadar untuk mencari informasi apa saja yang sedang dan akan hangat diperbincangkan. Namun, hal yang perlu kita pahami bahwa informasi dan berita mungkin saja dibuat dengan berbagai macam kepentingan. Bahkan kepentingan tersebut bukan tidak mungkin membuat peredaran informasi palsu atau hoaks mudah ditemukan dan dibagikan secara massive di kanal-kanal berita. Sebagai konsumen yang mengonsumsi informasi tiap saat, ada baiknya kita memilah-milah informasi apa yang akan kita baca atau kita lewatkan.

“Kalau masih katanya, kamu harus cari tahu faktanya” – Iwan Esjepe

 

Let others know the importance of mental health !