Berani dan Bahagia lewat Memaafkan

Orang yang paling cepat meminta maaf adalah orang yang paling berani. Orang yang paling cepat melupakan kesalahan orang lain adalah orang yang paling bahagia.

-Anonim

Hal tersulit apa yang pernah Anda lakukan selama hidup Anda? Mungkin salah satu jawabannya adalah memaafkan seseorang yang telah berbuat salah kepada Anda. Memaafkan  dalam psikologi adalah cara seseorang menyusun solusi yang dianggap postensial untuk mengurangi efek merusak dari permasalahan yang terjadi secara interpersonal (Fry & Bjorkqvist, 1997)[1]. Selain itu, berdamai dan kembali mencintai situasi yang menyakitkan dalam Enright et.,al (Snyder, C.R & Lopez, S.J, 2007) juga menjadi pengertian lagi dari memaafkan[2]. Memaafkan juga termasuk dalam proses yang melibatkan perubahan emosi dan sikap pelaku. Para ahli memandang memaafkan adalah proses yang sukarela dan didorong oleh keputusan yang sengaja dibuat untuk memaafkan[3]. Banyak ahli yang telah sepakat bahwa memaafkan berbeda dengan rekonsiliasi karena rekonsiliasi lebih kepada istilah yang menyiratkan pemulihan dari hubungan yang retak (Freedman, 1998)[4]. Memaafkan memang bukan sesuatu yang mudah karena memaafkan tidak hanya sekedar Anda berkata, ‘Saya sudah memaafkan Anda’. Ada beberapa tahap atau proses yang harus dilewati seseorang ketika memaafkan (dalam Worthington), yaitu[5] :

  1. Memanggil rasa sakit Anda

Dalam tahap ini Anda diminta untuk menerima emosi apapun yang Anda rasakan ketika Anda menjadi pihak yang tersakiti. Cermati emosi apa yang Anda rasakan waktu itu. Tahap ini dianggap penting karena dengan Anda bisa mencermati emosi yang Anda rasakan dapat membantu Anda untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

  1. Memberikan rasa empati pada orang yang menyakiti Anda

Setelah Anda mencermati dan memahami betul yang Anda rasakan saat menjadi seseorang yang tersakiti lanjutkan kepada tahap berikutnya yaitu memberikan rasa empati pada orang yang menyakiti Anda. Maksudnya, posisikan diri Anda sebagai seseorang yang telah menyakiti Anda. Dengan Anda bisa memposisikan diri Anda sebagai seseorang yang telah menyakiti Anda maka, Anda bisa mengira-ngira alasan mengapa orang lain menyakiti Anda.

  1. Memberikan kebaikan “memaafkan”

Iringi proses memaafkan Anda dengan perbuatan-perbuatan baik. Sangat luar biasa ketika perbuatan baik itu bisa Anda berikan kepada seseorang yang telah menyakiti Anda. Hal tersebut dapat dianggap sebagai bentuk nyata bahwa Anda benar-benar siap dengan tahap selanjutnya. Sebagai wujud Anda siap tulus memaafkan orang yang telah menyakiti Anda.

  1. Komitmen untuk memaafkan

Anda telah tulus memaafkan orang yang telah menyakiti Anda.

  1. Masuk ke dalam memaafkan

Lepaskan dan selamat! Anda telah berhasil memaafkan orang lain yang telah menyakiti Anda. Dalam tahap ini Anda sudah tidak diijinkan lagi untuk mengungkit kesalahan orang lain karena pada tahap ini, Anda sudah dianggap tulus memaafkan orang lain.

Selain proses di atas, ada cara lain yang dapat Anda lakukan sebagai bentuk proses memaafkan yaitu dinamakan letting go. Anda bisa melakukannya ketika sebelum tidur. Mengingat kembali sesuatu atau siapa yang telah membuat Anda bahagia pada hari itu. Jika sesuatu yang membuat Anda bahagia maka, niatkan untuk melakukannya kembali pada esok hari. Jika seseorang yang membuat Anda bahagia maka, niatkan besok akan berterimakasih kepada orang tersebut karena telah membuat Anda bahagia. Niatkan untuk membalas kebaikannya dengan kebaikan yang akan Anda lakukan kepadanya. Mengingat kembali hal apa yang telah Anda lakukan pada hari itu. Jika hari itu ada seseorang yang menyakiti Anda maka lepaskanlah. Maafkanlah dan ikhlaskanlah kesalahan orang tersebut supaya tidur Anda nyenyak di malam hari. Supaya tidur Anda berkualitas dan Anda merasa lega karena Anda sudah menjadi pribadi yang mudah untuk memaafkan. Jadi, sudahkah Anda memaafkan hari ini?


Sumber Data Tulisan

[1], [4] Dapat dibaca pada jurnal The Psychology of Forgiveness oleh Michael E. McCullough & Charlotte vanOyen Witvliet

[2], [5] Selanjutnya dapat dibaca pada buku dengan judul Bangkit dari Keterpurukan Pasca Perselingkuhan Suami oleh Satih Saidiyah, Dipl.Psy., M.Si

[3] Selanjutnya bisa dibaca salah satunya pada jurnal Fincham, F. D. (2000). The kiss of the porcupines: From attributing responsibility to forgiving. Personal Relationship, 7, 1-23

Image Featured Credit: www.ou.org

Let others know the importance of mental health !
Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*