Cara Sederhana Atasi Job Insecurity

Perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari siapapun, seperti pertambahan usia. Semakin dewasa umur seseorang, maka tanggung jawabnya juga ikut bertambah. Salah satunya adalah tanggung jawab mendapat pekerjaan, supaya bisa mandiri secara ekonomi dan tidak membebani orang tua lagi. Namun menyempitnya lapangan pekerjaan, akhirnya ikut memperketat persaingan kerja. Ketidakpastian masa depan karir, menjadikan para karyawan dan pemburu kerja merasakan job insecurity

Dr. Janet Smithson, peneliti dan pemerhati bidang psikologi, menuturkan bahwa job  insecurity adalah rasa tidak aman serta khawatir, karena kondisi lingkungan yang berubah – ubah. Lebih jauh, apabila rasa khawatir itu diabaikan, dapat mengganggu kesehatan fisik.

Masalah pelik yang dihadapi orang berusia dewasa sering berkepanjangan karena diselesaikan dengan cara yang berbelit- belit. Padahal ada cara sederhana yang apabila diterapkan dalam keseharian, bisa jadi lebih solutif menyelesaikan masalah.

Sikap sederhana yang kadang disepelekan

1. Berpikir kreatif baru berspekulasi

Salah satu penyebab munculnya perasaaan job insecurity adalah ketidakmampuan para karyawan dan pencari kerja menciptakan alternatif pekerjaan lain. Dengan kata lain, lebih baik mereka pilih aman. Misal karyawan yang sebenarnya sudah tidak tahan dengan kondisi kantor, namun kebijakan tunjangan perusahaan lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari. Apalagi di luar pekerjaan kantor, tidak ada pemasukan dari usaha lain, jadi mau – tidak mau, ya bertahan saja. Lalu bagi pemburu kerja yang tidak berani mengambil resiko membuka usaha sendiri. Menjadikan mereka memutuskan bekerja di perusahaan atau lembaga pemerintah, yang jam kerja dan gajinya sudah pasti tiap bulannya.

Kemampuan mencari alternatif dapat timbul dalam diri individu, apabila sering dibiasakan berpikir kreatif. Sebab berkreativitas memiliki arti aktivitas menghubungkan beberapa informasi atau peristiwa, sehingga tercipta hal baru dan berbagai rencana sebagai solusi penyelesaian masalah. Jadi ketika dihadapkan oleh satu permasalahan, melalui proses kreatif, orang yang mendapat masalah mencoba mencari beragam solusi. Setelah mendapatkan solusi, kemudian baru berspekulasi untuk mengukur keberhasilan ide solusi yang dipikirkan sebelumnya. Orang yang sekedar berspekulasi, hanya memunculkan perasaan atau presepsi bahwa usahanya akan gagal, padahal belum mencoba mencari penyelesaian masalah.

2. Menghargai proses belajar

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2017, menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi menyumbang  9,35 persen (688.600 orang) untuk angka pengangguran di Indonesia. Menurut hasil studi Willis Tower Watson, banyaknya jumlah pengangguran dari alumni perguruan tinggi disebabkan ketidakmampuan mereka berdaya saing di dunia kerja. Diantaranya mereka tidak memiliki kapasitas memahami teknologi; berkomunikasi dengan berbagai pihak; dan teknis di realitas kerja, jadi tidak siap pakai setelah lulus. Sedangkan dari sudut karyawan, beberapa dari mereka mengalami penurunan kinerja, karena keterbatasan dalam beradaptasi dengan lingkungan; budaya; dan target kerja di perusahaan tempat mereka bekerja. Hal itu menyebabkan akhirnya sang karyawan mengalami stress dan konflik kerja dengan rekannya.

Dari kisah karyawan dan penganguran terdidik di Indonesia, kita dapat memahami pentingnya menghargai proses pembelajaran. Menurut Douglas Hinzmant sebagai pakar di bidang psikologi, belajar merupakan serangkaian aktivitas yang membuat seseorang memiliki pemahaman baru, sehingga cara berpikir atau bertingkah lakunya berubah. Proses belajar dilalui melalui kegiatan mengamati, menghubungkan, dan menempatkan informasi. Bahkan jika perlu, mencoba atau menguji pemahaman tersebut, agar tahu apakah pemahaman atau pengetahuan yang didapat benar atau salah.

Jika dikaitkan dengan job insecurity, menghargai proses belajar membantu seseorang dapat mengidentifikasi kekuatan dan potensi diri yang mungkin masih perlu dikembangkan. Selain itu, kemampuan belajar dapat meningkatkan kepekaan dan pemahaman tentang pola kerja rekan atau kebijakan di lingkungan perusahaan. Dari pemahaman itu, akhirnya orang tersebut bisa menempatkan atau mempersiapkan diri dengan segala kondisi kantor. Sebab selalu ada kemungkinan target kerja yang banyak dalam satu waktu dan potensi di- PHK.

3. Berani berinisiatif, agar siap menghadapi penolakan dan perubahan

Jika sudah berhasil menerapkan perilaku sebagai pribadi pembelajar yang selalu berkreativitas, agaknya tidak akan sulit memunculkan banyak ide baru. Ide ini bisa jadi menyelesaikan masalah diri sendiri dan orang sekitar. Tetapi ketika ide itu hanya berhenti di strategi dan rencana yang hanya di pikiran, maka tidak akan berfaedah atau bermanfaat. Oleh karena itu, dibutuhkan inisiatif untuk menyatakan pendapat atau ide, bertanya, mendengar pendapat orang lain, dan mengajak orang sekitar berkalaborasi mewujudkan suatu gagasan yang dianggap menghasilkan perbaikan.

Inisiatif merupakan kemampuan untuk memutuskan dan melakukan sesuatu dengan benar tanpa arahan orang lain, dan biasanya hal itu dilakukan untuk menghadapi kesulitan yang sedang dialami.

Ketika dihadapkan dengan target kerja yang menumpuk, kompleks, dan butuh cepat, terkadang kita bisa memunculkan ide berupa strategi, yang mungkin bisa menjadi solusi efektif bagi seluruh tim. Maka, hal yang perlu dilakukan adalah berani berinisiatif mengkomunikasikan ide itu kepada seluruh anggota atau manjer tim. Di sisi lain, apabila ternyata ide dan usaha berhasil menyelesaikan masalah, kemungkinan mendapat kepercayaan dari manajer, seluruh anggota tim, bahkan bisa mendapat promosi kenaikan jabatan bukan suatu hal yang mustahil.

4. Tulus dan Ikhlas

Terkadang apa yang sudah kita rencanakan dan usahakan belum tentu mencapai ekspektasi yang diharapkan. Beberapa waktu, harus siap ditolak perusahan. Atau bagi karyawan yang mungkin sudah berpikir dan berusaha fokus menyelesaikan target kerja, tetapi tenyata hasil kerja karyawan tersebut dirasa belum maksimal oleh atasan. Kalau dari awal kita memiliki motivasi untuk ikhlas mengerjakan seluruh tugas kita. Maka, kita akan cepat move on dari rasa kecewa, kesal, dan tidak terima ketika atasan atau kenyataan tidak sengaja menyakiti.

Tulus memiliki arti jujur atau bersikap apa adanya. Misal ada rekan sekantor mendapatkan promosi kenaikan jabatan atau salah satu teman se-universitas sudah mendapat pekerjaan lebih dulu. Maka harusnya kita mampu mengapresiasi usaha mereka. Jika ada perasaan kurang suka, maka ubah menjadi motivasi agar lebih semangat memperbaiki diri.

Tulus dan ikhlas membantu kita fokus untuk memperbaiki kemampuan dan kinerja, daripada hanya meratapi job insecurity-kita atau ketakutan akan perubahan. Sebab kesalahan dan perasaan ‘tidak mampu’ diubah menjadi pembelajaran untuk berdamai dengan diri sendiri, memaafkan, dan meminta maaf apabila terjadi keluputan.

Mari Refleksi Diri !

Mari refleksi diri, supaya kita mampu memahami kekuatan, kelemahan, dan nilai yang kita anggap ideal. Sebab hal itu membantu kita mengetahui di mana posisi kita saat ini, termasuk untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas diri.

Bertumbuh dengan penuh kesadaran tentu akan memberikan rasa dan hasil berbeda untuk mereka yang selalu mencari perubahan lebih baik

-Erwin Parengkuan, Praktisi Komunikasi