Catastrophizing: Kegagalan Berpikir Secara Logis dan Cenderung Melebih-lebihkan Pemikiran Negatif

 

Orang-orang yang memiliki ekspektasi rendah atau buruk terhadap suatu hal biasanya disebut sebagai individu yang overthinking atau pesimistik. Namun, dalam psikologi hal ini sering disebut sebagai fenomena catastrophizing.

***

Pernahkah kita memikirkan suatu hal buruk yang akan terjadi akibat dari situasi tertentu atau bahkan sebelum situasi tersebut terjadi? Atau diantara kita pernah menambahkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi karena situasi yang kita alami saat ini? Seperti misalnya “jika saya gagal dalam ujian masuk kampus A, maka saya tidak akan bisa masuk ke kampus lainnya, dan detik itu juga hidup saya akan hancur”. Dalam psikologi, fenomena semacam ini dikenal sebagai catastrophizing.

Catastrophizing adalah fenomena yang terjadi ketika seseorang memiliki. Fenomena ini membuat seseorang mempercayai bahwa sesuatu yang hendak terjadi memiliki kemungkinan-kemungkinan buruk yanga apabila benar-benar terjadi maka ia akan menjadi tidak berdaya. Pemikiran tersebut muncul bahkan sebelum ia mengalaminya. Catastrophizing terjadi karena adanya distorsi kognitif berupa pemikiran negatif yang bersifat repetitif, abstrak dan tidak rasional.

Ketika seseorang mengalami catastrophizing, ia merasa sangat ketakutan terhadap hal-hal yang tidak berdasar. Catastrophizing ini bahkan bisa membuat seseorang melakukan penghindaran dari peristiwa-peristiwa yang dirasa akan berujung sama dengan pemikiran negatifnya. Catastrophizing juga mampu membuat seseorang berhenti melakukan aktivitas tertentu sehingga ia bisa membatasi diri untuk mendapatkan kesempatan baru dalam hidup. Hal ini tentu akan mengganggu fungsi maupun peran sosialnya dalam melakukan interaksi dengan orang lain.

Ambiguitas Dapat Menyebabkan Seseorang Mengalami Catastrophizing

Catastrophizing dimulai dengan memprediksi hasil negatif kemudian pikiran melompat pada kesimpulan yang apabila hasil negatif itu terjadi maka akan menjadi bencana. Seseorang yang mengalami catastrophizing memiliki kecenderungan berada dalam lingkungan yang memunculkan stimulus ambiguitas atau memunculkan berbagai makna. Hal ini menyebabkan dirinya memikirkan hal-hal buruk yang dapat terjadi dan menghubungkannya dengan peristiwa buruk yang akan membuat dirinya merasa tidak berdaya.

Berdasarkan sebuah studi, catastrophizing sangat terkait dengan tiga mekanisme psikologis, yaitu:

  1. Ruminasi
  2. Magnifikasi
  3. Helplessness

Secara umum, seseorang yang mengalami catastrophizing cenderung untuk memikirkan masalah dan dampak negatifnya secara terus-menerus tanpa berfokus penyelesaian masalah atau disebut dengan ruminasi. Selanjutnya, ia akan melebih-lebihkan pemikiran tersebut jauh lebih besar dari seharusnya, irasional dan tidak proporsional (magnifikasi). Terakhir adalah helplessness atau ketidakberdayaan yang mengakibatkan seseorang merasa tidak mampu bertindak atau bereaksi terhadap situasi negatif.

“Because we believe that something will go wrong, and so it does cause we make it to go wrong. Its the matter of believe”

Self-healing Adalah Salah Satu Metode Mengatasi Catastrophizing

Catastrophizing dapat dikontrol, salah satunya dengan self-healing. Self-healing merupakan teknik penyembuhan diri oleh diri sendiri. Teknik ini diketahui juga efektif dalam mengontrol catastrophizing. Dengan self-healing, kita mampu mengenali pikiran dan perasaan negatif yang muncul sehingga kita bisa mengurai akar permasalahan secara objektif. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk bisa mengontrol catastrophizing, yaitu :

Baca juga: 8 Metode Self-Healing di sini.

  1. Memahami bahwa semua hal yang terjadi tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Walaupun demikian, selalu ada hikmah yang bisa kita pelajari bahkan dari suatu kegagalan.
  2. Pada saat muncul pikiran-pikiran negatif, sadarlah kemudian batasilah diri kita untuk tidak larut dalam pusaran negatifnya. Alihkan pikiran dengan hal-hal yang lebih positif.
  3. Catatrophizingseringkali terjadi pada saat seseorang mengalami kelelahan dan kejenuhan atau stres. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak untuk sekedar bersantai dan memberikan penghargaan pada diri sendiri. Meditasi adalah salah satu cara untuk berhenti sejenak dari rutinitas manusia modern dan kembali fokus ke napas untuk kembali tenang.

***

Separah apapun kemungkinan buruk yang terlintas, ingatlah bahwa itu semua masih dalam pemikiran kita saja. Tidak semuanya terjadi seperti apa yang kita pikirkan selama ini. Pahami pelan-pelan masalahmu, uraikan, lalu berfokuslah untuk menemukan jalan keluarnya. Tidak semua hal seburuk dugaan kita.


Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Adebba Ramadhanti Noury, seorang mahasiswi tingkat akhir program psikologi. Visi dan misi dalam hidupnya adalah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental, sehingga mampu mendapatkan penanganan sebelum terjadi keparahan. Adebba dapat dihubungi melalui [email protected] atau instagram @adebbarn.

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*