Cerita Kami: Depresi dan Proses Titik Balik Kehidupan

*trigger warning, jika anda memiliki keinginan bunuh diri atau depresi yang sudah tidak dapat anda kendalikan, segera cari pertolongan profesional (psikolog dan atau psikiater). Informasi bisa didapatkan di laman berikut.*

Beberapa orang mungkin menganggap depresi klinis sebagai suatu penyakit mental yang membuat korbannya lebih inferior dari mereka. Tapi bagi saya, pengalaman depresi klinis adalah suatu titik balik proses diri. Saya selalu menggambarkan diri sebagai orang yang kuat, mandiri dan sebagainya. Satu tindakan yang selalu luput dari penggambaran diri adalah saya lupa menyayangi diri sendiri.

Selama bertahun-tahun saya selalu membangun citra eksternal tentang saya yang dominan, pemimpin dan independen. Sementara saya membiarkan citra internal saya kesepian, membanding-bandingkan diri dengan apapun, tidak pernah puas dengan hasil sendiri dan selalu menghina apapun yang saya lakukan.

Awal saya menyadari bahwa ada yang salah dengan diri saya saat Januari 2016. Saya tidak bisa meminta bantuan siapa pun.

Teman? Saya gengsi.

Pasangan? Saya terlalu mandiri.

Keluarga? Mereka yang membuat saya tertekan sampai mati.

Saya melakukan semua hal yang saya mampu agar tidak melakukan hal yang negatif. Mendaki gunung pun menjadi pilihan. Saya melakukan itu sebagai pengalihan energi negatif tetapi, yang saya dapatkan jauh dari itu. Saya seperti mendapatkan pencerahan bifurkasi, percabangan antara kekacauan dan stabilisasi.

Saya memilih opsi kedua.

Setelah bifurkasi itu, saya masih lupa melakukan hal terpenting: menyembuhkan diri.

Bifurkasi kedua terjadi pada Mei 2017. Saya kembali ke Yogyakarta untuk menyelesaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Untuk kembali ke Yogyakarta rasanya berat dan asing. Berat, karena saya dihadapkan dengan ketergesa-gesaan dalam kelulusan, mencari pekerjaan, ditambah dengan paparan self-popularized di media sosial. Asing, karena teman-teman saya seolah-olah menjadi jaksa dan hakim dalam kehidupan.

Saat itulah saya menemukan artikel tentang depresi di media sosial. Meskipun banyak gejala yang sesuai dengan yang saya alami, saya menolak ‘tidak mungkin saya depresi’. Tapi tindakan saya membuktikan sebaliknya. Saya malah terserang panik berkelanjutan. Kemudian disusul kesulitan tidur. Saya menemukan diri saya dalam zona kosong pada jam 4 pagi, kemudian bangun jam 1 siang. Gangguan tambahannya adalah sulitnya berkonsentrasi dan menurunnya rasa percaya diri.

Suatu hari pada jam 1 malam, tanpa sebab, saya melukai pergelangan tangan kiri dengan gunting, tidak sampai parah. Sensasi aneh muncul ketika itu, sensasi bahagia. Seperti meminum alkohol: nikmat dan membuat tenang, tapi memabukkan.

Awalnya saya tidak memahami apa yang terjadi pada saya dan mengapa saya melukai (self-harm) tubuh saya sendiri. Saya tidak mau bertanya karena mengatakan saya depresi saja responsnya sudah sangat tidak enak. Saya malah sering dipandang rendah dan lemah.

Pada akhirnya, saya mencoba peruntungan dengan bertanya lagi pada satu orang teman yang bisa saya percaya. Saya bertanya pada teman jurusan psikologi yang tengah menempuh S2 di luar negeri. Saya mulai menyadari bahwa saya mengalami apa yang selama ini saya tolak: depresi. Saya mulai mencari tahu tentang apa itu depresi klinis. Saya berdiskusi bersama teman, membaca artikel, menonton video YouTube, apapun saya lakukan agar saya bisa menghadapinya.

Saat mempelajari depresi klinis inilah saya menyadari bahwa depresi terjadi bukan karena kejadian instan, tetapi dari kejadian masa lalu yang ‘menumpuk’. Saya sudah merasa tertekan dan ingin mati sejak usia 8 tahun. Saya, bahkan sampai sekarang, belum tahu bagaimana cara menyelesaikan masa lalu tersebut. Tapi saya tidak menyerah begitu saja tanpa perjuangan.

Mei hingga Agustus 2017, saya belum bekerja dan tidak punya uang untuk ke psikiater atau psikolog. Rasanya, meminta uang tambahan ke orang tua malah menambah beban. Karena itu, saya memulai self-healing. Setiap hari, saya selalu memulai hari dengan morning routine: olahraga, meditasi, sarapan, kemudian membaca artikel sebelum memulai aktivitas. Di akhir hari, saya selalu melakukan night routine dengan menyalakan lilin aromaterapi dan membaca buku. Saya benar-benar melakukan itu setiap hari. Saat itu, olahraga menjadi anti depresan saya.

Dengan rutinitas tersebut, saya berhasil bertahan meskipun pikiran untuk bunuh diri masih menghantui. Akhirnya saya sempat 2 kali melakukan lagi percobaan bunuh diri pada Juni dan Agustus 2017. Akan tetapi, keduanya gagal. Saya tidak bisa bercerita banyak karena saya tidak ingin memberi ide pada siapapun yang sedang memiliki suicidal thoughts. Bagi saya, mungkin memang kehidupan ini masih ingin saya hidup, meskipun saya merasa mati jauh membuat saya ringan dibanding bertahan hidup.

Walaupun semua kejadian terjadi begitu cepat dan membuat saya tidak stabil, saya tetap meneruskan perjuangan saya dalam menyembuhkan depresi. Salah satu hal yang membantu dalam proses penyembuhan adalah pekerjaan. Saya mulai bekerja pada September 2017. Dengan tuntutan target dan tanggung jawab, pekerjaan membantu mendistraksi pikiran saya untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Pekerjaan juga membantu saya secara finansial dalam proses penyembuhan. Saya mampu untuk membiayai diri sendiri ke psikiater. Oktober 2017, saya mulai konsultasi ke psikiater. Tidak mudah bagi saya untuk menceritakan hal ini, ke pihak yang masih asing. Konsultasi pun saya lalui dengan gemetar, hingga diakhiri dengan pemberian antidepresan. Saya masih ingat ketika mengonsumsi anti depresan pertama kali, saya merasa ringan dan terbang. Rasanya seperti meminum tequila, nge-fly. Sejak saat itu, saya mampu untuk berpikir dengan jernih dan tenang lagi.

Pengalaman depresi bagi saya bukanlah suatu kekurangan atau hal memalukan. Bagi saya, itu adalah suatu kelebihan karena saya mampu melewatinya. Memang beberapa pihak masih beropini negatif mengenai kondisi depresi klinis. Tapi tidak semua orang mampu menghadapi depresi dan mau bangkit dari depresi. Bagi saya itu adalah kelebihan. Pengalaman depresi membuat saya mampu mengenali dan menyayangi diri sendiri. Saya lebih mampu menghargai sesama dan mampu mengerti penyakit mental lainnya. Bagi saya, pengalaman depresi adalah suatu titik balik. Dan saya akan tetap terus berjuang.

Penulis:

Augusteen adalah alumni Fakultas Ekonimika dan Bisnis. Seorang Universalist

 

Let others know the importance of mental health !
Total
9
Shares