CURHAT: Kekosongan Hidup Membuat Saya Mulai Tidak Percaya dengan Tuhan

Curhat

Halo, pertama-tama saya mengucapkan banyak terimakasih ke Pijar Psikologi yang sudah berkenan membaca cerita saya. Jujur saja semenjak masuk kuliah saya merasa diri saya bukanlah saya yang dulu. Saya dulu periang, semangat, dan optimis hingga semuanya berbalik 180 derajat. Saya menjadi pribadi pendiam, pemurung, semakin sensiti dan seolah tidak bergairah hidup. Ya, hidup hanya sekedar hidup. Nyaris tidak ada ambisi sedangkan tanggung jawab saya ke orang tua untuk menyelesaikan studi dengan baik, organisasi, dan komunitas masih harus saya penuhi. Bahkan, untuk meet up membahas urusan-urusan organisasi atau sekedar hang out bersama teman-teman pun saya malas dan terkesan menghindar.

Mungkin di awal saya bisa menyembunyikan ini, tapi ketika semester 6 kemarin teman saya menyadari perubahan saya. Perasaan ini membuat saya membenci diri saya yang sekarang. Beberapa teman bilang dan menyarankan saya untuk bersyukur. Sudah saya coba. Beribadah pun sudah, namun saya seperti merasakan kekosongan, bahkan saya mulai bertanya apakah Pencipta itu ada? Apakah hanya orang-orang tertentu yang bisa mengalami dan merasakan kehadiran Tuhan sedangkan saya tidak?

Terkadang di malam hari saya ingin menangis. Tapi sayangnya saya tidak tahu apa alasannya. Apakah ini stres akibat tanggung jawab yang mulai saya abaikan ya? Saya sendiri sangat merindukan saya yang dulu, saya ingin menjadi seorang saya yang semangat menjalani hidup dan tidak ingin hidup asal hidup saja. Saya sangat sangat berharap untuk bisa pulih, agar hidup saya bisa memberi manfaat dan good influence untuk hidup menjadi berkat bagi sesama. Terimakasih banyak.

Gambaran: Perempuan, 20 tahun, Pelajar

Jawaban Pijar Psikologi

Terimakasih atas kepercayaan kamu untuk bercerita di Pijar Psikologi.

Apa kabarmu? Semoga balasan ini akan mengurangi perasaan yang kurang mengenakkan di dirimu. Membaca tulisan yang kamu sampaikan, mengingatkanku akan cerita seseorang. Pada usia yang sama denganmu, dia juga mempertanyakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan. Dia merasa bahwa hidupnya berubah, dia tidak mengenali dirinya, apakah yang ditampilkan olehnya adalah dirinya sendiri atau kah semuanya adalah cara ia menutupi dirinya. Ia juga kurang bergairah dalam hidup, cemas dan khawatir dengan apa yang akan dihadapinya pada masa yang akan datang, malu terhadap dirinya sendiri, dan juga mulai untuk mengutuki dirinya sebagai orang yang tidak berguna. Seseorang ini merasa bahwa dirinya terkurung dalam pemikiran-pemikirannya sendiri. Terkadang ia tidak merasakan kehadiran zat Tuhan dalam hidupnya. Bahkan ia juga tidak mengerti alasan kenapa ia perlu hidup yang terkadang terkesan bertolak belakang dengan keinginan sejatinya, yaitu untuk dapat bermanfaat bagi orang lain

Tentu banyak sekali pertentangan dalam dirinya, ia bertanya-tanya dalam dirinya. Apa sih yang sebenarnya dia inginkan? Ia juga seorang sulung, sehingga ia merasakan beban moral yang tampaknya setara denganmu, yaitu menjadi seorang panutan dan kalau bisa terbaik dalam keluarganya. Meskipun hal tersebut tidak eksplisit ditunjukkan oleh keluarga, ada harapan yang membentuk ia secara implisit dapat menjadi yang terbaik. Ketika di suatu fase ia merasa stagnan, ia mulai merasa lelah.

Apakah cerita tersebut juga kamu rasakan? Jika jawabannya, ya, kemungkinan kamu mengalami krisis personal. Krisis personal dapat diartikan sebagai krisis yang memunculkan rasa penasaran seseorang mengenai dirinya sendiri dan dunia, sehingga tak jarang pertanyaan yang muncul adalah, “Siapa sih aku ini?” Selama masa krisis ini, seseorang akan merasa tidak selaras dengan pemahamannya dengan dirinya terdahulu. Seseorang tersebut akan merasa tidak sendiri, atau dengan kata lain, merindukan diri yang terdahulu. Kembali menjawab pertanyaan dari mana krisis personal itu dipandang baik, saya akan mencoba mengulasnya.

Krisis personal itu merupakan suatu modal diri yang sifatnya adalah rasa penasaran kita (curiosity) terhadap diri sendiri. Dengan adanya rasa penasaran ini, kita akan mendapatkan informasi baru dengan adanya proses introspeksi diri kita terhadap masa lalu, perasaan, dan identitas diri. Untuk mendapatkan diri kita yang sebenarnya (otentik) terkadang kita membutuhkan gambaran utuh mengenai diri, baik dirimu di masa lalu maupun di masa sekarang. Misalnya dengan melihat jarak personal antara gambaran diri yang dirindukan dengan diri sekarang otentik selama masa krisis kedewasaannya ini. Apakah krisis ini buruk? Tidak sepenuhnya krisis personal diri ini buruk, meskipun ada perasaan yang tidak nyaman dengan diri sendiri sehingga terkesan jauh dari diri.

 

Pada gambar di atas bisa kita lihat bahwa gambar a dan b ada perbedaan jarak antara karakter yang dirindukan dan karakter sekarang. Sedangkan gambar c dikatakan sebagai diri yang otentik yang akan menjadi targetmu. Lalu bagaimana membuat diri menjadi otentik, karakter yang dirindukan/diinginkan itu sama dengan karakter saat ini? Jika kamu perhatikan, ada perbedaan jarak di antara keduanya atau potongan di dalamnya. Yap, benar, sebaiknya dengan memperkecil jarak di antara keduanya atau juga dengan memperbesar potongan keduanya. Lalu bagaimana caranya?

  1. Menentukan tujuan yang dapat dilakukan dengan nyata dan terukur. Misalnya saja, kamu ingin sekali untuk dapat segera menyelesaikan studi. Buatlah target yang jelas dalam satu waktu, misalnya, dalam 1 minggu dapat mereview jurnal berapa buah, atau pun bimbingan ke dosen, atau hal lain yang terukur.
  2. Menurunkan ekspektasi terhadap hal yang diinginkan atau dirindukan. Misalnya saja pada saat ini kamu beringinan untuk menjadi A sehingga kamu mengharuskan diri untuk A. Saat ini, ubahlah pola pemikiran dari “harus” menjadi “sebisa saya dan saya menikmatinya.”
  3. Untuk meningkatkan gairah hidup, kamu dapat meningkatkan mood dengan cara melakukan hobi misalnya bermusik, menari, atau memasak, atau hal lainnya yang dapat dinikmati olehmu. Selain itu membaca biografi atau menonton film yang menginspirasi juga dapat membantumu terus berjuang di dalam hidup.
  4. Fokus pada saat ini dan di sini. Kamu dapat menikmati hal-hal yang terjadi saat ini dan di tempat ini. Kamu dapat melakukan rileksasi sederhana dengan fokus pada pernapasan. Bernapaslah secara teratur dengan memejamkan mata. Instruksinya adalah: Tarik napas melalui hidung. Penuhi rongga dada dengan oksigen, rasakan tarikan yang penuhi dada. Hembuskan perlahan, biarkan udara yang hangat keluar.

Rasakan lagi proses ini. Kamu bisa menggunakan background musik rileksasi yang kamu sukai atau akses pada laman https://www.youtube.com/watch?v=SQrWpPWt9QU. Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa perlu latihan pernapasan? Jawabannya karena hal-hal yang membuat cemas dapat terjadi karena adanya pernapasan yang kurang baik.

Kamulah yang menyadari keadaan diri. Tentu saja semua hal butuh proses. Jikalau pun saat ini kamu masih merasa lelah, beristirahatlah. Menenangkan diri sejenak dari campur-aduknya perasaan juga salah satu bentuk menetralkan perasaan. Nano-nanonya perasaan yang sekarang dirasakan, mungkin belum terasa indah. Tidak apa, karena untuk melihat keindahan itu sendiri kita butuh kejelian dan juga kedekatan. Sama seperti halnya mengenal orang lain, kalau tidak kita dekati terlebih dahulu, kita masih dalam tahap menebak-nebak orang tersebut. Perasaan pun sama. Dekatilah perasaanmu, perasaan yang terdalam, dengan mengenalnya.

Kamu bisa baca mengenai menemukan diri sendiri pada tautan berikut ini: https://pijarpsikologi.org/menemukan-kembali-diri-sendiri/

https://pijarpsikologi.org/14-metode-self-care-untuk-kesehatan-fisik-dan-mental/

Hai kamu yang tengah menghebatkan diri, apabila kamu ingin bertemu psikolog, kamu bisa bertemu dengan psikolog di kota terdekatmu dengan terlebih dahulu mendaftarkan diri di administrrasi rumah sakit. Saya berdoa agar kamu selalu diberikan cinta dan kasih Tuhan agar kamu dapat mewujudkan cita-cita untuk dapat berkontribusi di komunitas. Semoga kesuksesan melingkupi dirimu. Aamiin.

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi.

 

Let others know the importance of mental health !