CURHAT: Keluarga Pacar Saya Mengganggu Hubungan Saya. Haruskah Saya Mengakhiri Hubungan?

Curhat

Saya sudah berpacaran dengan seorang pria hampir 6 tahun lamanya. Sejauh ini tidak pernah ada masalah sampai sejak bapak pasangan saya meninggal hingga keadaan pacar saya berubah secara drastis. Pasangan saya adalah anak dari pasangan guru sedangkan orang tua saya adalah kepala cabang bank BUMN tertentu. Dari awal orang tua saya memang kurang setuju dengan hubungan kami dikarenakan latar belakang keluarganya, hingga sekarang kami sama – sama berkuliah di universitas terfavorit di Yogyakarta.

Pacar saya berprofesi tambahan sebagai driver ojek online untuk menghidupi kehidupannya sehari – hari dikarenakan orang tua yang tidak lagi mengirimi uang saku dan justru malah sering sekali meminjam uang ke pacar saya. Pacar saya mendapatkan berbagai beasiswa dan yang saya tahu uang beasiswa tersebut selalu dipinjam oleh ibunya namun tidak pernah dikembalikan. Karena dia yang selalu berada dibawah tekanan perekonomian hingga selalu berimbas kepada saya dengan cara apapun baik itu emosi, pinjam uang, barang, hingga kendaraan.

Secara jujur hal tersebut sangat mengganggu aktivitas saya, karena bagaimanapun segala fasilitas yang orang tua saya berikan adalah untuk menunjang segala kegiatan saya, bukan untuk saya pinjam – pinjami termasuk ke pacar saya. Saya disini merasa sebagai pihak yang sangat dirugikan dengan sikap orang tuanya yang selalu membebani pacar saya namun selalu memberi kebutuhan kepada kedua kakaknya. Saya sudah lama ingin meminta putus kepada pacar saya tapi disisi lain saya mengerti bahwa apa yang menyebabkan saya seperti itu adalah semata karena keadaan keluarganya. Saya tahu bagaimana pribadi pacar saya dan itu yang membuat saya berat untuk melepasnya.

Saya merasa menjadi orang yang terlalu egois apabila saya melepas pacar saya karena kondisi ekonomi keluarga yang membuat saya selalu direpotkan, sedangkan saya pribadi tahu bagaimana rasa dan sayangnya dia kepada saya. Di sisi lain, dengan keadaan yang terus menerus seperti ini dan dengan entah kapan akan berakhir, saya juga terus menerus tertekan dan menderita. Lantas bagaimana seharusnya saya menyikapi hal tersebut? Haruskah saya memutuskan untuk pergi dan menyerah serta mencoba mencari kehidupan saya yang baru walau saya tahu hal tersebut tidak akan mudah dikarenakan saking lamanya saya berhubungan dengan pria tersebut, atau saya harus bertahan dan terus menyakiti perasaan saya sampai dengan batas waktu yang tidak saya tahu?

Secara internal hubungan kami memang tidak pernah memiliki masalahnya, namun dengan keluarganya yang membuat saya selalu sakit hati. Saya menyayanginya hingga berpikiran bahwa saya rela mengorbankan apapun yang saya miliki untuk dirinya. Namun saya jugalah manusia yang memiliki batas sabarnya, apakah saya akan terus menerus kuat bertahan dengan keadaan seperti ini atau justru sebaliknya. Yang saya takutkan jikalau suatu hari nanti saya merasa lelah dengan keluarga pasangan saya yang bagi saya mengganggu. Bukankah jika saya menyarah di esok hari akan menambah daftar panjang cerita saya dan dia yang pada akhirnya memberi tekanan batin bagi saya pribadi. Bagaimanakah seharusnya saya bertindak agar keputusan yang saya ambil adalah yang terbaik bagi saya pribadi dan dirinya. Terima kasih

Gambaran: Perempuan, Mahasiswa, 19 Tahun

Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih atas kepercayaanmu untuk bercerita di Pijar Psikologi. Berada di kondisi yang sedang kamu alami saat ini pastilah sangat melelahkan ya. Kamu seperti berada di tengah-tengah sesuatu yang keduanya sangat berat untuk kamu pilih. Di satu sisi kamu sangat mencintainya, bahkan kamu rela untuk mengorbankan apapun yang kamu miliki untuk pacarmu, sedangkan di sisi lain kamu terus tersakiti menahan perasaan yang muncul karena situasi ini. Kamu tahu bagaimana pacarmu sangat menyayangimu, tetapi kamu juga tahu jika kondisi ekonomi keluarganya saat ini secara tidak langsung berimbas kepada dirimu. Saya paham, bahwa kamu pasti juga sangat terganggu dengan perilaku pacarmu yang seringkali meminjam fasilitas yang diberikan orang tuamu kepadamu, selain kegiatanmu yang menjadi korbannya, kamu pun pasti merasa kesal. Secara keseluruhan, semua ini tentunya menguras emosimu. Sampai kamu menceritakan hal ini dan terlihat jika kamu merasakan tekanan batin. Tapi percayalah, kamu adalah orang yang sangat kuat dan mau ​aware dengan kondisimu saat ini. Buktinya kamu bersedia untuk meminta pertolongan dengan membagikan kisahmu kepada kami, dan hal ini sangat baik sekali.

Berada di posisimu saat ini memang sangat membingungkan. Setiap keputusan yang kamu ambil akan memiliki resikonya masing-masing yang saya paham tentu tidak akan mudah untuk di jalani. Namun percayalah, hal itu hanya akan berlangsung di awal saja. Karena memang tidak semuanya akan langsung terasa mudah. Kamu perlu untuk meneguhkan hatimu dan menguatkan mentalmu untuk setiap keputusan yang nantinya kamu buat. Sanggup kah? Pasti sanggup, karena kamu adalah orang yang kuat. Nyatanya kamu bisa bertahan sampai saat ini di tengah semua beban pikiran dan emosional yang menimpamu. Karenanya, yakinkan dulu dari saat ini jika kamu sanggup menerima semua konsekuensi dari apapun pilihan yang nantinya kamu ambil.

Lalu, saran saya, ketika kamu ingin membuat suatu keputusan, pikirkan juga keputusan tersebut dari segala aspek yang berhubungan dengan keluargamu. Contohnya, kamu juga harus ​memikirkan masa depanmu, orang tuamu ataupun orang tuanya, keluarga besarmu juga keluarga besarnya, atau orang-orang lain yang terlibat dalam kondisi ini​.Kenapa harus sebegitu luas dan banyaknya yang di pikirkan? Karena semuanya bergantung dari ​goal​-mu kedepannya. Jika memang tujuan akhirmu adalah menikah dengannya, maka semua aspek harus di pikirkan. Karena menikah bukan hanya tentang dirimu dan dirinya saja, tetapi tentang keluarga serta orang-orang yang ada di sekeliling kalian. Bahkan meskipun kamu belum berfikir sampai sejauh itu pun, menurutku memikirkan hal-hal di atas juga sangat penting untuk kamu lakukan.

Semua pilihan dan keputusan ada di tanganmu. Ketika kamu sudah memikirkan orang-orang yang ada di sekitarmu, kini saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri. Ini hidupmu, masa depanmu. Kamu yang akan menjalaninya. Kamu yang paling tau tentang apa yang kamu rasakan. Kamu yang paling tau seberapa kuat kamu dan sejauh apa batasmu. Jika kamu memutuskan untuk pergi, tentunya ada konsekuensi yang harus kamu tanggung, begitupun ketika kamu memutuskan untuk bertahan. Saya yakin, kamu sebenarnya sudah memiliki pilihan, tetapi kamu masih belum terlalu yakin dengan pilihanmu tersebut. Seperti yang kamu ceritakan, banyak hal-hal yang menjadi pertimbanganmu

Saran saya untuk membuat kamu bisa lebih yakin terhadap keputusan yang akan kamu ambil, kamu bisa membuat dua hal, yakni:

  1. Skala prioritasmu sendiri. Kamu bisa membuat prioritas mulai dari yang jangka pendek, menengah, ataupun panjang. Dari sana kamu bisa melihat mana yang seharusnya benar-benar bisa kamu prioritaskan untuk saat ini. Misalnya seperti ini: Kamu bisa memilih untuk menulis apakah ​bertahan ataukah ​putus​, untuk masing-masing opsi tersebut, kamu bisa sertakan alasannya. Hal penting lainnya adalah membuat jangka waktu untuk masing-masing skala tersebut. Apakah per tiga bulan, atau lima bulan, atau lebih bahkan kurang.

  2. Daftar atau List pilihan beserta kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kamu bisa mulai memikirkan beberapa opsi yang bisa kamu lakukan dalam kondisimu saat ini, kemudian buatlah daftar dari masing-masing opsi tersebut. Masing-masing opsi tersebut (bisa dua atau lebih) kamu sertakan juga kelebihan dan kekurangannya, misalnya jika kamu kamu memilih ​bertahan atau ​putus​, kira-kira apa saja kelebihan atau dampak positif dari pilihan tersebut, dan sebaliknya, apa yang menjadi kekurangan atau dampak negatifnya. Contoh dampak positif misalnya batinmu tidak terbebani lagi, aktivitasmu bisa lebih lancar, tidak terikat, masih bisa berteman dan membantu meskipun putus tetapi lepas ikatan sebagai pacar, percaya jodoh di tangan Tuhan, dsb. Contoh dampak negatif atau kekurangannya misalnya kamu menjadi jomblo, tidak ada yang perhatian, kasih sayangnya berkurang, waktumu pacaran lama-lama terasa sia-sia, dsb.

Nantinya, kamu bisa melihat, mana yang ternyata lebih dominan. Opsi mana yang lebih banyak kelebihannya ataupun kekurangannya. Dari sini bisa membuatmu untuk bisa lebih yakin dalam mengambil keputusan karena sudah ada dasarnya. Ketika kamu ragu, kamu bisa melihat kembali apa yang telah kamu buat dan meyakinkan hatimu kembali.

Aku yakin kamu pasti bisa melalui ini semua. Kamu pun harus yakin jika kamu sanggup untuk memilih yang terbaik untukmu. Mungkin memang harus ada yang kamu korbankan, bukankah untuk mendapatkan sesuatu yang indah akan membutuhkan ​effort yang lebih pula? Yakinlah meskipun sakit di awal, namun semua akan baik-baik saja. Demikian, semoga bisa membantu.

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi.

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia.

Previous
Previous

“Cantik” Tanpa Kosmetik: Secercah Kecantikan yang Tidak Disadari

Next
Next

Bekerja di Ruang Kerja Terbuka: Solusi yang Salah untuk Produktivitas