CURHAT:  Luka Batin Saya Kembali Menganga dan Membuat Saya Kerap Melukai Diri Sendiri

Curhat

Halo, Pijar Psikologi!

Saya ingin bercerita tentang kejadian yang menimpa saya baru-baru ini. Pada Sabtu pagi, saya mendapatkan pesan dari teman laki-laki saya yang saya kenal lewat instagram. Saya sempat beberapa kali chat dengan dia, tetapi hanya sekadar saling menyapa dan berkabar. Saat itu, dia menanyakan apakah akun saya dipegang juga oleh pacar saya atau tidak, lalu saya jawab tidak. Kemudian dia bertanya pada saya apakah saya pernah berhubungan seksual? Saya jawab pernah. Lalu, saya pun bertanya kenapa dia bertanya seperti itu, ternyata dia ingin konsultasi tentang hubungan seksual dengan saya melalui chat pribadi. Awalnya saya pikir mungkin dia hanya ingin konsultasi dan sekadar sharing. Awal chat, dia menanyakan beberapa pertanyaan terkait topik-topik seksual yang menurut saya sering terjadi di lingkungan saya. Lalu saya jawab dengan tenang dan santai. Namun, lama-lama saya risih saat dia menanyakan bagaimana saya berhubungan seksual dengan pacar saya. Mohon maaf sebelumnya, sampai dia menanyakan pada saya bagaimana ukuran penis pacar saya. Saya sangat terganggu ketika dia bertanya demikian. Saya lalu menjawab pertanyaannya dengan tegas tentang apa niatnya sebenarnya. Akhirnya dia berkata bahwa dia sedang bergairah ketika melihat sebuah video yang saya unggah di akun instagram pribadi saya. Dia terus memaksa saya untuk melakukan sexting. Saya gerah dan tidak tahan lagi dengannya, sehingga saya meminta tolong teman saya untuk membantu saya menyelesaikan permasalahan ini. Saya pun akhirnya memblokir nomor dan akun instagramnya.

Setelah kejadian itu, trauma saya muncul kembali. Kejadian itu merupakan kali kedua setelah hampir 3 tahun lalu saya mengalami hal yang sama. Saya punya kenangan buruk selama 6 tahun menjadi pelampiasan hasrat seksual sepupu saya saat kami berdua masih kecil. Kejadian lalu membuat luka lama saya terbuka kembali. Kejadian bersama sepupu saya saat itu tidak diketahui oleh orang tua saya maupun keluarga besar hingga sekarang. Setiap trauma itu muncul, sebisa mungkin saya pendam dan saya tidak menunjukkan sensasi serta gejala yang sebenarnya saya rasakan. Padahal sebenarnya saya merasa cemas, susah fokus, sering berkeringat dingin, timbul hasrat ingin melukai diri, dan degup jantung yang sangat cepat dan tidak beraturan. Bila saya sedang sendiri di dalam kosan, biasanya saya melukai diri saya dengan menggaruk-garuk kaki atau kepala saya hingga berdarah. Hal ini selalu saya lakukan sejak saya SMA. Namun, hal itu tidak bisa saya lakukan lagi karena bekas luka tersebut sangat terlihat jelas dan sekarang saya mulai merasa ingin menggunakan alat-alat tajam. Sebenarnya saya tidak ingin ibu dan adik saya tahu perihal ini. Saya juga tidak ingin mereka melihat bekas luka yang parah di tubuh saya. Saya berharap bisa mendapatkan solusi dari permasalahan saya. Demikian, terima kasih.

Gambaran: Perempuan, 20 Tahun, Mahasiswa.

 


Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih atas kepercayaanmu untuk bercerita di Pijar Psikologi. Halo, apa kabarmu? Semoga kamu merasa lebih tenang saat membaca tulisan ini. Rasanya sungguh berat dan sangat tidak mengenakkan ya situasimu saat ini. Kembali bertemu dengan peristiwa yang membuatmu terluka, di mana yang lalu pun masih terasa begitu menyakitkan. Apalagi ketika keluarga sendiri yang pertama kali melakukan pelecehan seksual kepadamu. Takut, kecewa, sakit, cemas campur aduk rasanya. Tentu melalui peristiwa itu bukan hal yang mudah. Kamu yang saat itu masih belia mungkin sesungguhnya merasa tidak berdaya, namun tidak bisa melawan atau meminta bantuan kepada keluarga. Dirimu terus menyimpan luka itu seiring kamu bertumbuh dewasa sampai saat ini. Mari sejenak kita berikan apresiasi kepada dirimu sendiri.

“Diriku, terima kasih sudah mampu bertahan. Walaupun kamu belum bisa terbebas sepenuhnya dari hal yang melukaimu, serta rasanya ingin saja menyakiti diri, kamu berhasil untuk tetap berdiri hingga saat ini. Kamu tetap mencoba menjalani kehidupanmu, termasuk sebagai seorang mahasiswa. Terima kasih, ya!”.

Sekarang, kamu telah berani terbuka membagikan kisah tersebut melalui konsultasi ini. Semoga ini adalah langkah awal untuk masa “penyembuhan” luka pada dirimu sendiri. Tubuh kita adalah bagian yang paling peka memberikan tanda saat diri sedang tidak baik-baik saja. Sebagaimana yang kamu rasakan, ketika mendapat peristiwa luka yang serupa, atau mengingat luka masa lalu, badan langsung berkeringat dingin dan degup jantung semakin cepat. Tidak hanya itu, tumpukan beban emosional yang telah kamu simpan sejak 6 tahun lalu membuat tubuh semakin merasa tidak enak. Ibaratnya, beban-beban tersebut telah menempel dengan kuat, sekaligus dengan memori luka yang begitu kuat. Karena tubuh kamu sudah tidak kuat lagi menahan tumpukan beban emosional tersebut, kamu kemudian memilih untuk menyakiti diri sendiri. Seakan-akan si beban dalam tubuh bisa keluar dengan upaya menyakiti diri sendiri. Tumpukan beban tersebut juga seakan menutup adanya cara lain yang bisa kamu lakukan untuk melepaskan beban itu sendiri. Tidak apa-apa, pelan-pelan coba mencari cara alternatif yang lain ya.

Baca lebih lanjut tentang menyakiti diri di sini.

Beberapa cara di bawah ini mungkin tidak akan langsung mengobati lukamu, namun bisa menjadi alternatif cara awal untuk membuatmu menjadi lebih baik. Silakan kamu pilih cara mana yang paling sesuai dengan dirimu sendiri.

  1. Memeluk diri sendiri (Butterfly hug)

Kamu bisa membiasakan melakukan ini tepat setelah bangun tidur dan sebelum tidur. Atau waktu-waktu tertentu di mana kamu membutuhkan pelukan ini. Cara melakukannya ialah: Ambil posisi nyaman (boleh duduk atau berdiri), setelah itu, tarik napas yang dalam melalui hidung, lalu keluarkan perlahan melalui mulut. Lakukan tarikan napas dalam ini setidaknya 3x sampai kamu merasa tubuh sudah lebih rileks. Kemudian silangkan kedua tangan di atas pundak, lalu tepuk-tepuk pundak sebelah kanan dengan tangan kiri, dan sebaliknya. Sambil memberi tepuk secara bergantian, kamu boleh sambil mengingat pengalaman yang menyenangkan, pencapaian positif yang pernah kamu lakukan, atau kebaikan yang pernah kamu bagikan atau terima dari orang lain. Kamu juga boleh melakukannya sambil membisikan diri berupa kalimat penguat dan apresiatif, seperti:

Terima kasih telah bertahan sampai hari ini. meski berat, kamu telah memilih untuk terus melangkah. Terimakasih ya diriku.”

  1. Relaksasi napas

Apabila memori yang tidak menyenangkan atau perasaan yang tidak nyaman muncul, Kamu bisa mencoba untuk melakukan relaksasi napas. Lakukan ini secara pelan-pelan ya. Pertama, cari tempat dan posisi duduk yang nyaman. Kedua, tarik napas yang dalam melalui hidung, tahan selama 3 detik, lalu keluarkan melalui mulut. Lakukan secara perlahan dan berulang. Ajak diri untuk berfokus pada setiap tarikan napas. Kemudian tanyakan pada diri apa yang sedang kamu rasakan. Beri nama pada perasaan tersebut, mungkin takut, cemas, kecewa, putus asa, atau lainnya. Dengan memberi nama, kita dapat berfokus pada perasaan yang ingin distabilkan. Terus lakukan dalam posisi yang nyaman hingga diri kita benar-benar merasa rileks. Apabila pikiran melayang, kembali berfokus pada napas. Ajak diri untuk fokus saja terhadap proses yang terjadi dalam diri sendiri melalui tarikan napas. Kamu juga bisa sambil menambahkan kalimat penguat seperti, “Tidak apa-apa, perasaan takut ini hanya mampir sebentar, ia akan segera pergi. Ayo kita melaluinya bersama-sama.”

  1. Meluapkan perasaan atau pikiran tidak nyaman dengan tulisan

Apabila kamu merasa sangat takut, marah, atau perasaan lainnya, kamu bisa mencoba langsung menuliskan hal tersebut di atas kertas kecil. Selain perasaan, kamu juga bisa menuliskan apapun yang selama ini tidak bisa kamu ucapkan. Bebaskan isi pikiran dan hati, serta tangan dalam menuliskan setiap huruf dan kata-kata. Bila sudah selesai menulis, kamu bisa menggulung kertas tersebut dan buang ke tempat sampah. Anggaplah upaya ini sebagai langkah membersihkan diri dari tumpukan beban emosional serta pikiran yang tidak nyaman. Ketika seseorang bisa membersihkan diri dari hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, maka ia tidak akan terus menerus membawa beban “tidak nyaman” dalam langkah hidupnya. Ibaratnya, sekalipun pernah ada “luka”, si “luka” tidak akan terus ada dan membekas pada diri. Sebaliknya, ia hadir seperlunya saja dan sudah kita taruh pada tempatnya.

  1. Lepaskan perasaan dan pikiran yang membuat diri tidak nyaman dengan cara adaptif

Kamu bisa memilih cara yang kamu sukai. Kamu bisa menulis, menggambar, mewarnai, berolahraga, menonton, bernyanyi, mendengar atau bermain musik, memasak dan hal lainnya. Biarkan perasaan dan pikiran itu lepas seiring dengan kamu beraktivitas. Karena sesungguhnya, setiap manusia perlu melepaskan perasaan yang hadir dalam dirinya. Seperti, melepas rasa marah dengan memutar musik kencang-kencang dan berteriak, atau melepas perasaan kecewa dengan menonton film sedih lalu menangis. Apabila kita bisa melepaskan perasaan dan pikiran, mereka tidak akan mengendap dalam tubuh dan membuat diri semakin lelah untuk menampungnya. Hal ini juga bisa menjadi alternatif cara agar kamu tidak melukai dirimu sendiri.

  1. Menulis surat

Bila kamu merasa siap dan nyaman, kamu bisa coba menulis surat kepada orang-orang yang telah menyakitimu. Seperti, si sepupumu. Sampaikan apapun yang ingin kamu ucapkan ke orang tersebut dalam bentuk tulisan di surat. Izinkan dan bebaskan diri untuk menumpahkan semuanya dalam tulisan. Anggap seolah-olah kamu sedang berdialog langsung dengan mereka. Ketika sudah selesai menulis, resapi kembali tulisan tersebut. Lalu, beri waktu sejenak untuk istirahat sekitar 5-10 menit. Setelah itu, coba kamu bayangkan, apabila surat itu bisa dibaca langsung oleh orang yang kamu kirimkan surat, kira-kira balasan seperti apa yang akan mereka berikan?

  1. Berdialog dengan kaca

Kamu bisa memilih kaca atau media lainnya yang kamu suka. Langkah ini hampir mirip dengan surat, karena mengajakmu untuk berdialog dengan orang lain yang ingin kamu ajak bicara. Apabila kamu merasa lebih nyaman untuk berbicara langsung, kamu bisa gunakan cara ini. Sebagai contoh, saat melihat kaca, coba perhatikan terlebih dahulu bagaimana raut mukamu. Setelah itu, kamu bayangkan siapa orang yang ingin kamu ajak bicara. Lihatlah, apakah ada perbedaan raut muka saat orang tersebut dihadirkan. Apabila sudah bisa membayangkan kehadiran orang tersebut, bebaskan dirimu untuk menyampaikan apapun yang ingin kamu sampaikan. Media lain yang bisa kamu gunakan seperti boneka, kursi atau lainnya. Yang menjadi catatan ialah, kamu bisa mencoba cara ini kapanpun kamu merasa siap dan nyaman untuk mencoba cara ini.

***

Rasanya berat ketika kamu memikul beban ini sendiri. Dilema rasanya untuk tetap menyimpan rapat luka ini di hadapan keluarga, disamping itu, keluarga juga adalah orang terdekat yang bisa menjadi pendukung buat dirimu sendiri. Tidak apa-apa, bila kamu belum merasa siap untuk membagikan kisah ini, upayamu untuk bercerita di sini semoga memberi kelegaan bagi dirimu sendiri. Serta mampu memberi keberanian untuk tetap tangguh menghadapi ini semua. Kita memang tidak bisa lepas dari peristiwa yang menyakiti kita, tetapi kita punya kendali untuk tidak terus terngiang oleh luka. Bila kamu merasa tidak kuat menanggung beban ini sendiri, kamu bisa mencari bantuan tenaga profesional (psikolog/psikiater) terdekat di kotamu. Karena sesungguhnya, menyadari diri sedang lemah, dan butuh bantuan profesional, adalah bentuk menyayangi diri kita sendiri.

Untuk lokasi Bekasi, di tengah pandemi ini, Himpunan Psikologi (HIMPSI) Jawa Barat menyarankan konsultasi online ke:

  1. DM Sutresna Atmadja (081806469190)
  2. Sahabat Psikolog (085885606309)

Semoga kamu selalu ditemani kebaikan serta kasih dalam menjalani hidup sehari-hari ya!

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi


Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*