CURHAT: Perubahan Mood yang Drastis Membuat Saya Kelelahan

 

Curhat

Halo Pijar Psikologi!

Saya ingin bercerita tentang diri saya yang memiliki perubahan mood drastis. Kadang saya menjadi sangat bahagia dan sangat depresi. Fase saat saya sangat bahagia itu terjadi beberapa kali dalam sebulan, bisa 1-3 hari menetap. Lalu, tanpa alasan pasti saya kemudian bahagia. Periode sangat depresi juga bertahan sama 1-3, biasanya karena masalah-masalah kecil yang menurut saya sangat sepele dan itu membuat saya lelah dan berpikir untuk mengakhiri hidup saya. Pada fase sedih, saya menangis seperti anak kecil dan seperti menahan amarah. Saya merasa menjadi orang yang paling tidak berguna di dunia dan paling tidak dicintai di dunia ini. Saya menyalahkan diri saya secara terus-menerus, kadang pikiran menjadi kosong. Saya seperti orang linglung kebingungan dan hal itu seringkali membuat kepala saya sakit.

Selain hal-hal yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya juga merasa seperti ada pikiran yang cukup intens untuk melukai diri saya sendiri. Namun, pada saat fase bahagia datang, saya berbicara cepat dan otak saya bekerja juga lebih cepat. Dalam satu hari saya bisa mengerjakan berbagai macam pekerjaan seakan saya menjadi orang yang paling produktif. Pada fase bahagia ini, saya menjadi orang yang supel, ramah dan saya punya kecenderungan ingin berbicara ke banyak orang. Padahal biasanya saya orang yang cukup pendiam dan tidak banyak bicara.

Jika ada banyak masalah saya sering tidur, tetapi jika fase bahagia datang saya justru banyak begadang. Pada saat fase bahagia, kadang saya juga berpikir diri saya yang bahagia seperti ini pada hari ini, keesokan harinya bisa saja menghilang. Saya tidak tahu, apakah ini adalah tanda gangguan bipolar? Saya benar-benar sudah lelah hidup seperti ini, seakan saya menjadi orang yang berbeda-beda setiap saat. Apalagi saat fase depresi dengan pikiran-pikiran yang penuh dan bermacam-macam, saya berubah menjadi pribadi yang sangat tidak produktif pada saat mood saya sedang turun. Hal itu menyulitkan saya dalam menyelesaikan pekerjaan. Saya adalah seorang mahasiswa dan ketika fase depresi muncul saya terkadang kesulitan untuk belajar. Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Gambaran: Perempuan, 26 Tahun, Mahasiswa.


Jawaban Pijar Psikologi

Halo, terima kasih telah mempercayakan Pijar Psikologi sebagai tempatmu bercerita.

Apa yang tengah kamu alami saat ini mungkin tengah mengambil alih banyak porsi berpikirmu ya. Sepertinya terdapat sebuah hal yang belum terjelaskan dan mengarah pada kemungkinan adanya gangguan psikologis. Tentu pikiran ini membuat resah dan cemas. Apa yang tengah kamu alami mungkin seperti ada hal asing di dalam dirimu. Tentu saja ketika kita tidak mengenal diri maka hal itu meresahkan dan mungkin membuat takut dan tidak berdaya. Kami sangat menghargai mereka yang berusaha untuk mengenal diri mereka dengan mengkonsultasikannya kepada tenaga profesional. Hal ini menunjukan bahwa meski mereka tengah dalam keresahan tetapi mereka tetap berusaha untuk objektif terhadap apa yang tengah dialami. Selain itu, menyampaikan keresahan semacam ini kepada tenaga profesional membutuhkan adanya keberanian dan kesiapan tersendiri yang tidak semua orang memilikinya. Oleh karena itu, Pijar Psikologi sangat menghargai dan mengucapkan terima kasih atas kesediaanmu untuk berbagi dengan kami.

Dari email yang kamu kirimkan, kami melihat bahwa dirimu telah menuliskan tanda-tanda yang dialami secara mendetail. Hal ini sangat kami apresiasi karena ini menunjukan bahwa kamu memiliki kesadaran diri yang sangat baik. Apa yang kamu ungkapkan secara garis besar serupa dengan apa yang kita kenal sebagai tanda dari gangguan suasana hati. Salah satu jenis dari gangguan suasana hati ini adalah gangguan bipolar. Untuk menegakan apakah seseorang mengalami gangguan bipolar terdapat syarat tertentu yang harus dipenuhi. Yang jelas adalah adanya fase depresi dan fase elasi/manik. Untuk memenuhi kriteria gangguan bipolar, kedua

fase ini pun memiliki kriteria tertentu. Salah satu kriterianya adalah terkait dengan lama fase dan jeda antar fase. Pada diagnosa bipolar lama fase manik berkisar dari 2 minggu hingga 4-5 bulan dan fase depresi sekitar 6 bulan beserta adanya jeda tanpa gangguan sama sekali.

Pada diagnosa gangguan psikologis, banyak sekali gangguan yang memiliki ciri yang hampir serupa, sehingga dalam menegakan diagnosa pun perlu pengamatan yang mendetail dan terkadang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Selain itu, tak jarang bahwa meski apa yang dialami sepintas terkesan seperti gangguan tertentu tetapi apa yang dialami belum dapat ditegakan sebagai gangguan psikologis. Bisa jadi apa yang dialami adalah ciri kepribadian orang tersebut. Jika kamu merasa sangat mengganjal dengan apa yang kamu alami saat ini, kami sarankan untuk mengunjungi psikiater. Layanan psikiatri dapat dijumpai di rumah sakit-rumah sakit di Yogyakarta, seperti:

  1. Sardjito
  2. Panti Rapih
  3. RSA UGM, dsb.

Saat ini mungkin kamu tengah merasa resah terutama jika kamu kembali mengalami efek depresif. Ada kegelisahan bahwa hal itu tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan banyak hal terganggu karena kondisimu yang tengah terpuruk. Meskipun demikian, dalam psikologi sendiri terdapat pendekatan yang menekankan bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk terus bertumbuh apapun hambatannya. Yang perlu dipahami adalah bahwa kekuatan dan kelemahan yang ada hanyalah bagian dari diri kita. Kita lah yang memiliki kendali atas kedua hal tersebut, bukan sebaliknya. Saat ini, kamu sudah mengenali ada masa-masa dimana kamu akan rentan, terutama sebagai mahasiswa yang harus dihadapkan pada banyak kewajiban, yaitu ketika kamu tengah terpuruk, serta masa-masa dimana kamu memiliki banyak energi untuk mengerjakan banyak hal yang bisa menjadi sisi kekuatan dirimu sendiri. Keberadaan sisi lemah dan kuat adalah hal yang manusiawi yang terpenting adalah bagaimana kita mengoptimalkan kedua hal tersebut.

Ketika dirimu tengah berada pada fase dimana kamu menjadi sangat ramah dan penuh energi, kamu bisa memanfaatkannya untuk belajar dan bersosialisasi dengan optimal. Jika kamu merasa “terganggu” dengan masa-masa dimana kamu merasa terpuruk, maka hal ini perlu dikelola. Pengelolaan ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Dari pendekatan perilaku, kamu dapat mencoba berolahraga secara rutin. Olahraga terbukti dapat meningkatkan hormon yang berkaitan dengan emosi positif. Kamu juga dapat membuat jadwal kegiatan per hari dan mengikutinya secara disiplin. Misalnya, bangun tidur jam 05:00 maka pada jam tersebut meski masih terasa sangat berat harus tetap bangun. Contoh lainnya, jam tidur malam adalah jam 22:00 maka meski sebelum jam tersebut terasa sangat ngantuk diusahakan untuk beraktivitas lain dulu hingga jam yang ditentukan untuk tidur.

Dari pendekatan pikiran yang dapat kita lakukan adalah dengan mengelola pikiran. Pikiran sangat erat kaitannya dengan emosi dan perilaku seseorang. Bagaimana seseorang berpikir akan memengaruhi kondisi emosi dan perilaku yang dilakukan. Sebagai contoh kami mengambil sebagian ceritamu bahwa kamu adalah orang yang paling tidak berguna akan memengaruhi bagaimana kamu menjadi merasa sangat sedih, terpuruk, dan putus asa dan juga kamu pun menjadi lebih banyak tidur dan menghindari hal-hal yang perlu dikerjakan. Pikiran seringkali menjadi sumber utama kita untuk memberikan penilaian dan pengambilan keputusan. Kita sangat banyak bergantung pada pikiran kita. Akan tetapi, tak jarang pikiran kita memberikan penilaian yang tidak sesuai porsi yang justru membebani kita. Ada kalanya kita perlu menelaah kembali pikiran kita ketika pikiran tersebut justru membebani. Misalnya penilaian bahwa aku tidak berguna menjadi keliru ketika ini digeneralisasikan pada semua hal dan pada semua waktu. Padahal kita mengucapkan terima kasih atau melontarkan senyum pada orang lain saja bisa memberikan kebahagiaan pada orang lain. Hal ini menunjukan bahwa pikiran ini perlu ditelaah kembali. Kita perlu mencari kira-kira penilaian seperti apa yang lebih tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini.

Misalnya:

“…saat ini aku menilai diriku tidak berguna karena aku sedang dalam kondisi yang terpuruk…”

“…aku merasa tidak berguna karena aku belum bisa pada hal ini saja tetapi pada hal lain aku dapat melakukan dengan baik…”

“…saat ini aku menilai diriku tidak berguna, tetapi aku punya kesempatan untuk terus memperbaiki diri…”

Penilaian-penilaian ini adalah yang disebut sebagai pikiran alternatif. Ketika muncul pikiran-pikiran negatif yang membebani, cobalah untuk mencari pikiran alternatif yang dapat digunakan untuk menggantinya.

Saat ini mungkin menjadi masa yang penuh keresahan dan kegelisahan. Meskipun demikian, kamu memiliki kekuatan untuk mengelola hal ini. Mungkin hasil yang diperoleh pada percobaan awal belum sesuai dengan yang diinginkan, tidak apa-apa. Hal yang terpenting adalah kemauan untuk terus mencoba. Mungkin ini yang bisa kami sampaikan. Semoga apa yang kami sampaikan dapat memberikan manfaat bagimu.

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi


 

Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya. 

 

 

 

 

Let others know the importance of mental health !