CURHAT: Saya Benar-Benar Cemas dan Bingung dengan Diri Saya Sendiri

Curhat

Halo Pijar Psikologi!Saat ini saya masih pelajar kelas 12, sebentar lagi saya akan menghadapi berbagai jenis ujian sekolah serta ujian masuk perguruan tinggi. Saat ini kondisi keluarga saya sedang sulit dalam hal ekonomi. Sehingga, hal ini juga membuat saya cemas untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Karena itu akhir-akhir ini, saya seringkali bermalas-malasan dan cemas memikirkan banyak hal. Saya cemas karena takut tidak lolos ujian masuk PTN. Saya merasa belum giat dan mantap dalam belajar. Saya juga sedih dengan ketidakpastian SNMPTN. Saya sedih karena melihat teman-teman banyak yang mengikuti program bimbingan belajar, sedangkan saya tidak. Saya sedih dan kesal dengan keadaan saya saat ini, sehingga hal itu memengaruhi mood saya sehari-hari. Terkadang saya semangat belajar dengan giat, tetapi pada saat saya akan memulai belajar, mood saya tiba-tiba down. Banyak kekhawatiran yang saya rasakan saat ini, tetapi sulit untuk saya jelaskan. Entahlah, saya benar-benar bingung saat ini. Rasanya saya tidak akan sukses. Hal ini pun berpengaruh pada sekolah, di sekolah saya merasa tidak nyaman, ingin cepat pulang, sering mengantuk, tidak mood untuk ngobrol dengan teman-teman, dan cepat merasa bosan. Karena itu, terkadang saya membolos dengan alasan sakit. Saya benar-benar bingung dengan diri saya sendiri. Saya tidak berani untuk cerita tentang perasaan saya saat ini pada mama apalagi teman-teman saya. Saya takut mereka akan mengatakan hal yang bukan-bukan tentang saya. Jujur, seringkali saya berpikiran untuk mengakhiri hidup saya. Saya lelah. rasanya seperti sudah tidak ada lagi jalan keluar. Saya ingin.belajar, saya ingin kuliah tapi saya benar-benar stres memikirkan hal ini. Tolong saya, saya benar-benar bingung dan cemas.

Gambaran: Perempuan, 18 Tahun, Pelajar.

 


Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih atas kepercayaanmu untuk bercerita di Pijar Psikologi. Bagaimana kabarmu? Semoga saat ini, perasaanmu sudah jauh membaik ya.

Dari cerita yang kamu sampaikan, kami memahami bahwa nampaknya saat ini banyak hal yang kamu pikirkan terkait pendidikanmu, baik di masa saat ini maupun di masa mendatang. Adanya kondisi perekonomian yang kurang mendukung nampaknya juga turut membebanimu. Berbagai kondisi yang ada nampaknya memunculkan emosi negatif seperti rasa takut, cemas, kesal, sedih, kecewa, dan bingung. Secara tidak disadari, emosi negatif mendorong munculnya pemikiran untuk menyakiti diri. Selain itu, emosi negatif juga memunculkan perilaku yang kurang tepat seperti mudah mengantuk, bermalas-malasan, ingin segera pulang sekolah, dan membolos sekolah. Kami dapat memahami betapa lelah dirimu menghadapi berbagai situasi ini. Rasanya sungguh sangat tidak nyaman dan mengganggu sekali ya. Meskipun demikian, kami merasa salut karena kamu menyadari apa yang tengah terjadi dengan dirimu dan tetap berusaha untuk semangat dalam belajar. Selain itu, kamu berani untuk terbuka dan bercerita di Pijar Psikologi. Kamu keren loh!

Perlu diketahui bahwa pikiran, perasaan, dan perilaku saling berkaitan dan memengaruhi. Hubungan ketiga komponen tersebut bersifat timbal balik dan terlebih dahulu dapat berawal dari pikiran, perasaan, ataupun perilaku. Sebagai contoh, perasaan cemas akan menghadapi berbagai ujian sekolah dan ujian masuk perguruan tinggi. Perasaan cemas kemudian memunculkan perilaku malas untuk belajar, serta memunculkan pikiran bahwa nantinya kamu tidak akan sukses. Nah, apabila salah satu komponen negatif maka akan membuat komponen yang lain menjadi negatif sehingga akan memengaruhi kualitas hidup. Nah, sekarang kita akan membahas tentang pemikiran bunuh diri ya. Pemikiran ini merupakan bentuk respon ketika seseorang tidak mampu mengatasi situasi yang sulit. Pemikiran ini juga dianggap sebagai cara untuk mengakhiri penderitaan yang dirasakan. Nah, untuk lebih memahami fenomena ini, kamu dapat membaca artikel mengenai pemikiran bunuh diri pada tautan berikut: https://pijarpsikologi.org/mengenal-lebih-dalam-mengenai-suicidal-thought/.

Perlu diketahui bahwa pemikiran bunuh diri dalam batas tertentu merupakan respon yang wajar ketika berada dalam kondisi yang sangat terpuruk. Namun, kita tidak boleh menganggap hal ini sebagai suatu hal yang sepele. Apabila pemikiran ini selalu mengganggu keseharianmu, kami sangat menyarankanmu untuk bertemu dengan psikolog atau psikiater di daerahmu. Nah, disini juga kami ingin berbagi kepadamu beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa tidak nyaman yang dirasakan:

  1. Menerima emosi negatif yang hadir

Menerima emosi negatif yang muncul memudahkan kita untuk melaluinya. Life isn’t about avoiding the storm, it’s about learning how to dance in the rain. Bentuk penerimaan bisa diwujudkan dengan kita terbuka untuk merasakan perasaan tidak nyaman dari emosi negatif tanpa ada perlawanan diri. Awalnya memang terasa sulit untuk mengikhlaskan keadaan. Namun, penerimaan akan memunculkan perasaan lega dan damai dengan diri. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut kamu dapat membaca artikelnya pada tautan berikut: https://pijarpsikologi.org/merangkul-emosi-negatif-yang-hadir/.

  1. Self-compassion

Seringkali, kebanyakan orang cenderung fokus pada hal-hal negatif dalam diri maupun lingkungan sekitar. Tak jarang, kita juga sering memperlakukan diri sendiri dengan kasar, tidak baik, serta menyalahkan diri sendiri atas “ketidak-idealan” kehidupan yang kita miliki. Kondisi ini kemudian menimbulkan penderitaan dan membuat diri merasa tidak bahagia. Lalu bagaimana ya? Mari belajar tentang self-compassion. Self-compassion atau berbelas kasih kepada diri merupakan sikap positif terhadap diri yang ditunjukkan dengan kehangatan. Self-compassion melibatkan tiga hal, yakni menumbuhkan kesadaran terhadap penderitaan seseorang, memperlakukan diri sendiri dengan baik di masa-masa sulit dengan penuh pemahaman, serta menghubungkan pengalaman stres seseorang ke perspektif yang lebih luas dari pengalaman manusia. Nah, untuk memahami ketiganya kamu dapat mempelajarinya melalui artikel pada tautan berikut: https://pijarpsikologi.org/self-compassion-berbelas-kasih-pada-diri-sendiri/.

  1. Tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Tak jarang, banyak orang seringkali membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya akan memunculkan pikiran dan perasaan negatif, misalnya merasa minder, tidak mampu, atau tidak berharga. Padahal, standar keberhasilan/kegagalan antara satu orang dengan yang lainnya berbeda. Menjadi tidak sempurna pun tidak masalah karena segala sesuatu sejatinya tidak ada yang sempurna bukan? Oleh karena itu, fokuslah pada hal-hal positif (kelebihan) dalam diri kamu. Jadikan kekurangan yang dimiliki sebagai bahan evaluasi untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Mari menjadi pribadi yang bangga atas kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Tidak membandingkan diri dengan orang lain dapat membuat kita hidup dengan perasaan dan pikiran yang lebih positif. Nah, ada salah satu artikel yang bisa kamu pelajari. Kamu dapat membacanya pada tautan berikut: https://pijarpsikologi.org/jangan-lagi-rendah-diri/.

  1. Membuka diri pada orang yang dipercaya

Kamu sesekali bisa loh menceritakan kondisi yang kamu alami kepada orang yang kamu percaya. Misalnya kepada teman, keluarga, ataupun kerabat dekat. Menceritakan apa yang kamu rasakan kepada orang lain dapat membuat diri menjadi lega dan membuat kamu merasa tidak sendiri. Namun, jika merasa kesulitan untuk mengungkapkannya, kamu dapat memulainya dengan menulis buku harian (diary). Mulailah menulis apapun yang sedang kamu rasakan atau pikirkan. Mari membebaskan diri untuk mengungkapkan apapun dalam kalimat yang dituliskan, tanpa merasa takut akan apapun.

  1. Relaksasi pernapasan

Kamu dapat mencoba relaksasi pernapasan untuk menambah asupan oksigen ke otak sehingga membuat tubuh menjadi lebih tenang dan dapat berpikir dengan jernih. Relaksasi pernapasan ini dapat kamu lakukan ketika perasaan atau pikiran negatif muncul, sebelum tidur, dan bangun tidur. Mari mulai berlatih relaksasi pernapasan, caranya:

  1. Posisikan tubuh dalam keadaan yang nyaman.
  2. Tarik napas dari hidung secara perlahan-lahan selama 4 detik.
  3. Tahan selama 2 detik.
  4. Hembuskan napas dari mulut secara perlahan-lahan selama 4 detik.
  5. Ulangi langkah a-d dan lakukan selama satu sampai dua menit.

“As long as you can, why not to try?”

Mari berlatih untuk fokus pada proses saat ini. Teruslah berjuang sebaik mungkin untuk meraih apa yang sudah kamu rencanakan dan selebihnya biarkan tangan Tuhan bekerja untukmu. Apabila yang kamu rencanakan belum berjalan sesuai harapan, jangan menyerah karena hal tersebut merupakan bagian dari proses kehidupan. Kami berdoa semoga kamu selalu diberikan keberanian dan kemudahan dalam mengahadapi situasi saat ini maupun situasi di masa mendatang. Semoga jawaban ini bisa menjawab pertanyaan dan membawa manfaat. Tetap semangat ya!

 

Terima kasih telah berbagi

Salam,

Pijar Psikologi.


 Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*