Curhat: Saya Merasa Tidak Pantas Untuk Menikah dengan Pria Manapun Karena Kesalahan Besar yang Saya Lakukan Pada Masa Lalu

Curhat

Halo Pijar Psikologi!

Saya mengalami masalah dengan kepercayaan diri saya untuk menikah. Walaupun, usia saya masih cukup muda, tapi untuk seseorang yang berasal dari desa saya dianggap cukup matang untuk menikah. Saya seringkali didesak oleh keluarga untuk segera menikah. Namun, hal yang menjadi permasalahan saya untuk menikah adalah masa lalu saya.

Pada masa remaja saya, yaitu ketika SMA, saya menjalin hubungan dengan seseorang yang berlangsung cukup lama bahkan berlanjut sampai ke jenjang kuliah tahun pertama. Saya merasa saya terlalu lugu dan polos ketika itu sehingga saya pun melakukan hal yang ‘tidak pantas’ bersama pasangan saya.

Saya merasa tidak nyaman sejak menyadari bahwa gaya berpacaran kami mulai kebablasan. Namun, saya belum memiliki kekuatan pada saat itu untuk menolak karena pasangan saya selalu mendesak. Sampai pada akhirnya saya merasa sangat muak dengan kehadirannya. Hubungan kami mulai renggang, itu pun juga karena kami kuliah di kampus yang berbeda dan saya mulai memperdalam ajaran agama. Sejak itu saya ingin berubah. Namun, saya merasa sakit, sedih, kecewa, merasa bersalah setiap kali saya mendengar “dosa zina” dibahas dalam kajian agama. Saya selalu menangis dan menyesali perbuatan saya dengan pasangan pada masa lalu.

Sejak saat itu saya seringkali tiba-tiba menangis. Saya tidak berani menceritakan hal memalukan ini pada siapapun termasuk kepada orang tua saya. Saya takut akan mengecewakan mereka. Semenjak saat itu juga, saya mulai tidak percaya diri dan merasa tidak pantas untuk menikah dengan laki-laki manapun apalagi menikah dengan laki-laki yang baik. Saya selalu ketakukan ketika ada yang menanyakan tentang masa lalu saya. Saya takut orang-orang bertanya tentang masa lalu hubungan dan gaya pacaran saya. Saya takut orang-orang di sekeliling saya tahu bahwa saya ini sudah “kotor”.

Saya mulai menutup diri terhadapap hubungan dengan lawan jenis. Saya selalu skeptis dengan hidup bahwa   suatu saat bisa menikah. Saya tidak percaya akan ada laki-laki baik yang mau menerima orang seperti saya.

Saya harap saya bisa merasa lebih baik, membangun kepercayaan diri saya seperti dulu. Saya ingin bisa percaya bahwa saya juga pantas untuk seseorang nantinya. Saya ingin bisa lepas dan tidak terus-terusan terkungkung oleh kenangan masa lalu yang pahit. Saya ingin meyakinkan diri saya bahwa ada kesempatan kedua bagi saya.

Mohon bantuannya, terimakasih.

Gambaran: Perempuan, 23 Tahun, Pegawai Swasta.

 


Jawaban Pijar Psikologi

Halo, terima kasih atas kepercayaanmu untuk bercerita di Pijar Psikologi.

Kami menyadari betapa berat untukmu menanggung pikiran dan rasa tidak nyaman selama ini sendirian. Desakan untuk menikah dari orang-orang terdekat semakin membuatmu tertekan karena perasaan tidak yakin dalam dirimu untuk menemukan laki-laki baik yang dapat menerima dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Ada perasaan bingung, cemas, takut dengan tanggapan dari orang lain yang membuatmu tidak berani menceritakan pengalamanmu itu kepada orang lain. Kami tahu, pasti tidak mudah untukmu menceritakan apa yang terjadi padamu kepada kami, Pijar Psikologi. Atas kepercayaanmu bercerita kepada kami, kami sangat mengapresiasi keberanian dan usahamu ini.

Pengalaman yang kamu alami secara tidak langsung membuatmu menjadi tidak percaya diri. Hal ini terjadi karena adanya inner critic dalam dirimu. Inner critic adalah suara dalam diri yang mengatakan hal-hal negatif mengenai diri sendiri, misalnya tanpa sadar mengatakan “memangnya ada laki-laki baik yang mau menerima orang seperti saya?” Inner critic tersebut terus berulang hampir di setiap hari, sehingga membuat diri kita menjadi stres dan tegang, bahkan berdampak pada sikap kita yang cenderung menutup diri dari orang lain.

Dalam psikologi, hal yang bisa dilakukan untuk melawan pikiran negatif mengenai diri adalah dengan self talk. Self talk adalah suatu tindakan atau praktik bicara dengan diri sendiri, baik dengan suara keras maupun diam-diam, terkait penguatan diri. Pada beberapa orang, metode ini memiliki efek yang cukup untuk meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini dapat terjadi karena self talk mampu memelihara sifat positif dan pro-aktif dalam kehidupan, sehingga mampu meningkatkan motivasi dan melanjutkan aktivitas walaupun dalam keadaan buruk. Self talk ini bisa kamu lakukan dimanapun dan kapanpun. Ketika mulai muncul perasaan tidak berharga atau memandang diri negatif, kamu bisa menarik nafas panjang kemudian melakukan self talk dengan mengatakan “aku berharga, banyak orang yang menyayangiku, aku harus semangat!

Pengalaman yang kamu alami adalah salah satu kekurangan yang kamu punya, tetapi kamu masih memiliki banyak kelebihan yang bisa menutup  kekuranganmu. Hal yang perlu kita ingat adalah setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, maka yang harus kita lakukan adalah ikhlas menerima dan melepaskan.

Menerima hal-hal yang tidak dapat kita ubah dan menerima hal-hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, serta melepaskan ekspektasi itu sendiri. Ikhlas menerima yaitu menerima pengalaman (pikiran dan perasaan) kita apa adanya tanpa menilai. Pada umumnya, tanpa disadari, kita cenderung menahan atau menolak emosi tertentu yang kita nilai negatif (misal: malu, khawatir, takut). Dengan latihan menyadari, kita berlatih untuk mengistirahatkan pikiran kita dengan menerima emosi tersebut apa adanya. Tanpa ada penilaian baik atau buruk, benar atau salah, positif atau negatif. Kita belajar untuk jujur pada diri sendiri dengan mengakui bahwa saat ini ada emosi tertentu yang kita rasakan di dalam diri. Setelah kita mengakuinya, akan lebih mudah untuk menerima ketidaknyamanan yang ada di dalam diri.

Sebelum belajar menerima dan melepaskan, kita perlu berlatih menyadari napas yang selama ini mungkin sering kali tidak kita sadari secara penuh. Bagaimana rasanya saat kita menghirup dan menghembuskan napas. Melalui latihan menyadari, kita berlatih menjadi “pengamat” atas pikiran dan perasaan yang kita. Kita berlatih menerima emosi negatif atau pikiran negatif apa adanya, tanpa berusaha untuk mengubah atau menolak emosi atau pikiran tersebut. Kita berlatih untuk “berdamai dan bersahabat” dengan emosi atau pikiran tersebut dan juga merawatnya dengan welas asih. Bagaimana caranya?

Ada baiknya kamu mengenali dan memahami diri kamu terlebih dahulu dengan cara sebagai berikut:

  • Siapkanlah alat tulis di dekat kamu.
  • Kemudian duduklah di suatu tempat yang tenang dan berusahalah sewajarnya untuk benar-benar fokus sepenuhnya.
  • Arahkan perhatian ke dalam diri dan sadarilah apa yang
  • Sadari setiap keinginan yang muncul di dalam diri kamu untuk menghindar/melarikan diri dari kenyataan. Sadari perasaan yang tidak rela mengikhlaskan di dalam
  • Sadari kerugian yang kamu dapatkan ketika tidak ikhlas
  • Sadari bahwa sebenarnya kamu tidak membutuhkan hal-hal yang selama ini terus digenggam dan tidak mampu diikhlaskan.
  • Setelah kamu menyadarinya, tulislah di selembar kertas mengenai apa yang selama ini menghambat dirimu dan kerugian apa yang kamu dapatkan ketika tidak ikhlas melepaskannya.
  • Kemudian lakukan latihan ikhlas menerima dan melepaskan.

Berikut langkah-langkah latihan ikhlas menerima dan melepaskan.

  • Duduklah dalam posisi yang nyaman. Kamu bisaduduk di kursi atau bersila di
  • Duduklah dengan punggung, leher, dan kepala tegak menghadap ke depan. Santai dan
  • Letakkan kedua tangan di atas lutut dengan posisi telapak tangan menghadap ke
  • Pejamkan mata, agar pikiran tidak terlalu aktif.
  • Sadari dan rasakan napas yang kamu hirup dan hembuskan. Rasakan segarnya udara yang kamu hirup mengalir masuk ke dalam lubang hidung, turun ke tenggorokan, masuk ke paru-paru, dan perutmu hinggaterasa mengembang. Rasakan hangatnya udara yang kamu hembuskan mengalir dari paru-paru, naik ke tenggorokan, keluar melalui lubang hidung dan rasakan perutmu mengempis. Fokuskan perhatianmu pada sensasi yang kamu rasakan di hidung, dada, atau perut kamu saat sedang
  • Apabila ada pikiran dan perasaan yang hadir dalam dirimu, tidak apa-apa, hal tersebut wajar. Berikan waktu sebentar, izinkan pikiran dan perasaan hadir dalam Sadari pikiran dan perasaan apa itu.
  • Akui pikiran dan perasaan tersebut ada di dalam dirimu dan katakan sepenuh hatikepada diri sendiri, misalnya“Ya, ada perasaan kecewa dan tidak terima di dalam diri saya saat ini.
  • Terima pikiran dan perasaan tersebut ada di dalam diri kamu dan katakan sepenuh  hati kepada diri sendiri, misalnya“Saya menerima ada perasaan kecewa dan tidak terima di dalam diri saya saat ini. Saya ikhlas, saya pasrah, menerima perasaan kecewa dan tidak terima yang ada di dalam diri saya saat ini.” Terimalah pikiran dan perasaan tersebut apa adanya, tanpa menilai, tanpa menahan, dan tanpa
  • Terima juga dirimu yang belum dapat menerima pikiran dan perasaan tersebut, katakan sepenuh hati kepada diri sendiri, misalnya “Saya menerima diri saya yang belum dapat menerimarasa kecewa dan tidak terima  Saya ikhlas, saya pasrah, menerima diri. Saya yang belum dapat menerima rasa kecewa dan tidak terima ini. Saya ikhlas, saya pasrah, menerima diri saya yang belum mampu untuk ikhlas dan pasrah.
  • Kemudian rawatlah dirimu dengan welas asih. Peluklah dirimu sendiri hingga dirimu merasa semakin nyaman. Lalu perlahan-lahan, kembalikan fokus perhatian kamu kepada napas. Bayangkan setiap kali kamu menghembuskan napas, kamu melepas pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri melalui setiap hembusan napas
  • Lakukan latihan ini selama 5-10 menit. Kemudian, perlahan-lahan sadari keberadaandirimu di sini-kini. Perlahan-lahan gerakkan jari-jari kaki dan tangan. Bukalah kedua mata secara perlahan-lahan.

Setelah kamu melakukan latihan ikhlas menerima dan melepaskan, cobalah tanyakan kepada diri:

Pikiran apa yang hadir di dalam diri? Perasaan apa yang hadir di dalam diri? Sensasi/reaksi apa yang kamu rasakan pada tubuh ? Perubahan apa yang terjadi pada diri kamu saat dan setelah melakukan latihan? Lalu renungkanlah sejenak, hal-hal sederhana apa yang masih dapat kamu syukuri hingga saat ini? Hal-hal sederhana apa yang dapat kamu lakukan saat ini untuk membuat diri merasa lebih baik?

Beberapa hal yang kami sampaikan di atas adalah sedikit cara yang mungkin dapat kamu lakukan untuk merasa lebih baik. Dari permasalahanmu saat ini kami menyadari apa yang terjadi tidak dapat diubah. Namun, kami yakin ketika kamu sudah menyesali dan  berusaha berubah menjadi lebih baik, maka Tuhan selalu memberikan maaf dan kesempatan bagi hambanya.

Semoga apa yang kami sampaikan bisa membantumu. Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi


Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca, agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.
Let others know the importance of mental health !

1 comment

  1. Halo selamat pagi,
    Ingin sekali bercerita, tentang seseorang yg sudah hadir di hidup saya dari 2009 hingga sampai pada akhirnya ia menikah dengan wanita pilihannya oktober tahun kemarin,
    Saat bersamanya tak banyak hal yang kami lewati, layaknya seperti pasangan lain, kami jarang sekali untuk bertemu saat itu, hubungan kami juga tak selama itu, hanya 6 bulan pacaran, kemudian putus, kemudian balikan pacaran 2 bulan kemudian putus, sampai akhirnya berbeda kota dengan ku,dan di kota itu ia mempunyai pasangan nya yg baru, namun selama itu 2 kali ia menemui ku, yg beralasan bahwa hanya ingin bertemu, dan jika saya tanyakan tentang pasangannya ia selalu mengalihkannya. Setelah pertemuan 2kali itu kami sangat jarang mengkontak, saya hanya bisa mengamati dari media sosialnya,
    Setelah lama, kejadian itu berulang kembali, ia saat itu sedang berada dikota yg sama dengan saya, satu kali ia mengajak bertemu, hanya untuk berbincang,namun itu tak lama, kemudian ia pindah ke provinsi yg berbeda,
    Jarang kontak kembali,
    Setelah 6 bulan ia kembali walau cukup berbeda kota masih bisa di tuju dengan kendaraan ,
    Pada satu ketika, ia menjemputku kekantor, kami makan bersama, lalu ia mengantarkan ku pulang kerumah, kejadian ini berlangsung 2 kali
    Selanjutnya ia datang kedekat rumah hanya untuk ditemani makan,
    Sampai saat itu,kami kembali lost contact dan tak lama dari itu, saya mengetahui dari sosial medianya bahwa ia mempunyai pasangan baru, dalam hati saya, ‘wajar saja ia memilih wanita itu,keluarganya terpandang, lulusan s2, universitas negeri ternama di indonesia, jadi pantas lah bersanding dengannya’ dan setelah itu mereka bertunangan selanjutnya menikah,
    Ingin rasanya melupakannya , melupakan perasaan ini, lelah, capek rasanya bergelut sama perasaaan yg begini, saya sudah mencoba ikhlas, mencoba biasa saja, bahkan upaya dari itu semua adalah saya menghapus semua media sosial saya, agar supayatak melihatnya mencari nya lewat media sosial,
    Tekadang saya berpikir saya sudah bisa menerima semua itu,saya bisa. Tapi memimpikannya tak jarang itu terjadi kepada saya, mimpi ini yg membuat saya lelah kembali, saya merasa dosa memimpikan suami orang,
    Apa yg harus saya lakukan agar aupaya saya bisa melupakan rasa itu, sosok itu di hidup saya. Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*